Malang, Tugumalang.id – Langkah Primitive Chimpanzee (PCHC) merilis trilogi music video (MV) dalam rentang waktu berdekatan tidak sekadar menjadi penanda produktivitas, tetapi juga strategi kebangkitan yang dirancang secara matang. Di balik rilis MV Flesh Ripper, Makadam, dan Metal Pret, tersusun sebuah cetak biru kolaborasi yang berpotensi menjadi model baru bagi keberlanjutan skena musik underground di Kota Malang.
Rilis Metal Pret pada Sabtu (7/2/2026) bukan menjadi titik akhir, melainkan bukti keberhasilan formula yang sebelumnya diujicobakan. Sebagai band yang berdiri sejak era 1990-an, PCHC menyadari bahwa sekadar bertahan dan tetap “eksis” tidak lagi cukup. Dibutuhkan pendekatan baru yang setara dengan energi kreatif yang terus mereka gaungkan.
Trilogi music video dari album Makadam yang dimulai dari Flesh Ripper, dilanjutkan Makadam, hingga ditutup Metal Pret, menjadi jawaban konkret atas kebutuhan tersebut.
Baca juga: Underground Musik Malang, Mengeksplor Skena Musik Indie yang Berkembang Pesat
“Yang kami lakukan ini lebih dari sekadar bikin video. Ini adalah upaya membangun ekosistem produksi yang mandiri di skena kita sendiri,” ujar Andra selaku penanggung jawab produksi MV PCHC.
Ekosistem Kolaborasi Berbasis Talenta Lokal
Momentum ini dipandang sebagai titik balik penting. PCHC melihat besarnya potensi talenta lokal Malang di berbagai bidang, mulai dari musik, perfilman, fotografi, artwork, hingga seni visual lainnya. Melalui kolaborasi lintas disiplin, PCHC membuktikan bahwa karya dengan kualitas tinggi dapat dihasilkan dengan memaksimalkan sumber daya lokal.
Strategi tersebut terwujud melalui kerja sama yang solid. PCHC berperan sebagai katalisator dengan menggandeng Dead Monkey Squad sebagai motor produksi. Kolaborasi juga diperluas dengan melibatkan musisi lain seperti Sahery Mulia (Anorma) dan Komeng (Serigala Malam) untuk memperkaya warna musik. Sementara itu, visi visual dipercayakan kepada sutradara Rizky “Boncel”.
Boncel mengaku terkejut dengan kecepatan dan keseriusan proses produksi.
“Biasanya satu bulan hanya untuk konsep satu MV. Ini justru tiga MV sekaligus. Tapi karena visinya jelas, semuanya bisa rampung dalam hitungan bulan. Ini soal komitmen dan chemistry tim,” ungkapnya.
Redefinisi Band Veteran dan Profesionalisme Komunitas
Keberhasilan formula ini menghadirkan sejumlah pelajaran penting. Pertama, regenerasi melalui kolaborasi. Dengan melibatkan elemen lintas generasi, termasuk musisi tamu yang lebih muda, PCHC tidak hanya menjaga relevansi, tetapi juga membangun jembatan antargenerasi di dalam komunitas.
Kedua, profesionalisme dalam skena independen. Proyek ini menunjukkan bahwa semangat independen dapat berjalan seiring dengan prinsip profesional dan konsistensi, tanpa kehilangan ruh komunitas. Dukungan sponsor serta keterlibatan puluhan orang dalam produksi menjadi bukti bahwa ekosistem musik underground Malang masih hidup dan siap menopang karya-karya ambisius.
Terakhir, PCHC mendefinisikan ulang makna band veteran. Menjadi band lawas bukan sekadar soal melestarikan sound dan gaya lama, melainkan tentang terus berinovasi, membuka ruang, serta membagikan platform seluas-luasnya bagi pelaku skena lainnya.
“Kami sudah melewati fase bertahan hidup. Sekarang waktunya mendorong maju, bukan hanya untuk kami, tapi untuk semuanya,” pungkas Agus Moron, gitaris PCHC.
Dengan demikian, setiap view dan like pada MV Primitive Chimpanzee tidak hanya menjadi bentuk apresiasi terhadap karya musik, tetapi juga pengakuan atas keberhasilan sebuah model kolaborasi. Sebuah cetak biru yang berpotensi memicu gelombang baru kebangkitan musik bawah tanah di Kota Malang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko
























