Tugumalang.id – Menyaksikan balita yang menangis kencang saat mainannya diambil oleh teman sebaya sering kali membuat orang tua merasa malu atau tidak enak hati.
Respons spontan yang biasanya muncul adalah menyuruh anak untuk segera berbagi. Namun, sebuah penelitian menunjukkan bahwa memaksa anak berbagi sebelum anak siap secara sosial justru dapat menghambat perkembangan psikologis mereka.
Berdasarkan studi yang dimuat dalam PubMed Central, anak usia 2 hingga 3 tahun sebenarnya sedang berada dalam fase penting perkembangan kognitif, yaitu memahami konsep kepemilikan (ownership).
Baca Juga: Laka Maut di Embong Kembar Kota Batu Renggut Nyawa Ibu, Balitanya Selamat
Pada fase ini, anak baru saja menyadari bahwa ada batasan antara dirinya, orang lain, dan benda-benda di sekitarnya.
Memahami Batasan Sebelum Berbagi
Menurut artikel dari Great Kids Inc, berbagi bukanlah sekadar perilaku sosial, melainkan sebuah tonggak perkembangan (developmental milestone). Sebelum seorang anak bisa berbagi secara ikhlas, ia harus merasa aman dengan apa yang ia miliki.
Penelitian dalam jurnal PubMed Central juga menyoroti bahwa anak-anak mulai memahami keadilan seiring bertambahnya usia. Namun, di usia balita, dunia mereka masih bersifat egosentris.
Memaksa mereka melepaskan mainan secara mendadak dapat mengirimkan pesan yang keliru. Anak akan belajar bahwa kebutuhan orang lain selalu lebih penting daripada kebutuhannya sendiri, atau lebih buruk lagi, mereka merasa orang tua tidak berada di pihak mereka untuk melindungi haknya.
Lalu, Bagaimana Seharusnya Orang Tua Bersikap?
Daripada memaksa, para ahli menyarankan pendekatan yang lebih edukatif untuk membangun empati dan batasan yang sehat (boundaries). Berikut adalah beberapa langkah yang bisa dilakukan:
1. Validasi Perasaan Anak
Langkah pertama bukan langsung menyelesaikan masalah, melainkan mengenali emosi anak. Gunakan kalimat seperti, “Kamu merasa kesal ya mainannya diambil?”. Dengan menamai perasaan tersebut, anak merasa didengar dan dipahami bahwa perasaan mereka valid.
Baca Juga: MBG untuk Ibu Hamil dan Balita di Kota Malang Masih Minim, Dinsos Tunggu Juknis Pusat
2. Menjadi Penengah yang Objektif
Daripada menghakimi, orang tua bisa membantu menyampaikan situasi secara tenang kepada anak lain yang ingin meminjam. Misalnya, dengan mengatakan, “Ini mainan dia.
kalau kamu mau pinjam, kamu bisa minta izin dulu ya.” Langkah ini mengajarkan konsep konsen (consent) dan rasa hormat terhadap hak orang lain secara objektif.
3.Mengajarkan Self-Advocacy
Gunakan momen konflik sebagai sarana latihan berbicara. Ajari anak untuk merangkai kata agar mereka bisa membela dirinya sendiri. Contohnya, “Coba bilang ke temanmu: ‘Itu milikku, tolong kembalikan ya’.”
Ini membantu anak tumbuh menjadi pribadi yang berani menyatakan batasan tanpa harus merasa bersalah.
Dukungan Orang Tua adalah Kunci
Membela hak anak atas mainannya bukan bentuk memanjakan anak. Sebaliknya, ini adalah cara orang tua memberikan dukungan moral dan mengajarkan bahwa setiap orang berhak memiliki batasan.
Ketika anak merasa hak miliknya dihormati dan didukung oleh orang tuanya, mereka justru akan tumbuh menjadi pribadi yang lebih aman secara emosional.
Pada akhirnya, rasa aman inilah yang akan membuat mereka lebih mudah untuk berbagi secara sukarela di masa depan, tanpa rasa takut kehilangan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maura Sampetoding/ Magang
Editor: Herlianto. A





























