MALANG, Tugumalang.id – Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Kabupaten Malang tengah mengembangkan varietas padi organik dengan produktivitas mencapai 12 ton per hektare. Capaian ini dinilai signifikan karena hampir dua kali lipat dibandingkan produktivitas padi pada umumnya.
Varietas padi yang masih belum diberi nama tersebut dipanen perdana pada Rabu (7/1/2025) di area persawahan Desa Tanggung, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang. Saat ini, varietas tersebut masih berada pada tahap penelitian lanjutan dan akan ditanam beberapa kali sebelum bibitnya dibagikan kepada petani.
“Ini masih gelombang pertama. Kami akan tanam lagi hingga dua atau tiga kali. Kami akan coba sampai menghasilkan yang terbaik, baru akan kami beri nama,” ujar Ketua DPC HKTI Kabupaten Malang, Makhrus Sholeh.
Baca juga: Sempat Terlambat, Gaji ASN di Kabupaten Malang Mulai Dibayar Secara Bertahap
Produktivitas Tinggi Didukung Karakter Tanaman Organik
Makhrus menjelaskan, varietas padi organik ini mampu menghasilkan produktivitas tinggi karena setiap malai dapat memuat hingga 500 bulir padi. Jumlah tersebut didukung oleh struktur malai tanaman yang lebih tinggi dibandingkan varietas padi pada umumnya.
“Tanaman ini semuanya harus organik, karena kalau tidak organik maka batangnya akan patah,” imbuh Makhrus.
Saat ini, HKTI Kabupaten Malang masih memusatkan perhatian pada proses penelitian. Setelah memperoleh hasil terbaik, tahapan berikutnya meliputi pengurusan perizinan, sosialisasi, serta pendistribusian bibit ke Pengurus Anak Cabang (PAC) di setiap kecamatan di Kabupaten Malang.
Keunggulan Beras Organik dan Dukungan Ketahanan Pangan
Selain produktivitas yang tinggi, varietas padi ini juga memiliki keunggulan dari sisi kesehatan karena dikembangkan secara organik. Beras yang dihasilkan dinilai lebih aman untuk dikonsumsi karena bebas residu bahan kimia.
“Keunggulan beras organik adalah bebas dari residu. Lebih sehat dan tidak terkontaminasi bahan kimia,” kata Makhrus.
Baca juga: 435 Bencana Terjadi di Kabupaten Malang, Didominasi Longsor dan Angin Kencang
Sebelumnya, HKTI Kabupaten Malang juga telah mengembangkan dua varietas padi non-organik, yakni Sukma dan Kasima, dengan produktivitas mencapai 12 hingga 14 ton per hektare. Varietas tersebut dikembangkan oleh petani asal Kecamatan Kasembon dan memiliki ketahanan terhadap hama.
Sementara itu, Bupati Malang Sanusi menyebut Kabupaten Malang mengalami surplus beras sekitar 80 ribu ton pada 2025. Ia menjelaskan, total hasil panen selama satu tahun mencapai 480 ribu ton, sedangkan kebutuhan masyarakat hanya sekitar 400 ribu ton.
“Kami akan terus berinovasi supaya bisa ada kenaikan lagi,” kata Sanusi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























