Malang, Tugumalang.id – Dalam era media sosial yang serba cepat dan penuh ekspektasi, banyak orang merasa harus selalu ikut tren agar tidak dianggap ketinggalan. Fenomena ini dikenal dengan istilah FOMO (Fear of Missing Out) atau ketakutan akan tertinggal dari apa yang sedang populer.
Namun, benarkah kita selalu harus ikut tren? Atau justru lebih sehat secara mental jika mampu menikmati momen sendiri, yang dikenal dengan JOMO (Joy of Missing Out)?
FOMO dan JOMO, Serta Teori Psikologi Modern

Untuk memahami mengapa FOMO muncul, kita dapat merujuk pada teori Self-Determination dari dua psikolog ternama, Edward Deci dan Richard Ryan. Dalam teori ini, manusia memiliki tiga kebutuhan dasar:
-
Autonomy (kebebasan memilih),
-
Competence (perasaan mampu), dan
-
Relatedness (kebutuhan untuk terhubung dengan orang lain).
FOMO muncul ketika kebutuhan akan keterhubungan (relatedness) mendominasi, membuat seseorang terdorong mengikuti setiap tren agar tidak merasa tertinggal atau terasing dari lingkungannya. Sebaliknya, ketika seseorang mampu menyeimbangkan kebutuhannya dan tetap setia pada pilihan personal tanpa tekanan sosial, muncullah JOMO. Di sinilah kebutuhan autonomy menjadi dominan—kita memilih berdasarkan kesadaran, bukan keterpaksaan.
Baca juga: FOMO, YOLO, dan FOPO: 3 Penyakit Pikiran Serang Siapa Saja, Apakah Kamu Termasuk Orangnya?
Hal ini sejalan dengan pandangan Carl Rogers, tokoh psikologi humanistik, yang menekankan pentingnya aktualisasi diri dan keotentikan. Menurutnya, individu yang sehat secara psikologis adalah mereka yang hidup selaras dengan nilai-nilai pribadinya, bukan hanya mengikuti ekspektasi eksternal. FOMO sering menjauhkan kita dari diri sendiri karena sibuk menjadi seperti orang lain, sedangkan JOMO membawa kita kembali pada keaslian dan keseimbangan batin.
Perbandingan Sosial: Sumber Tekanan atau Sumber Kesadaran?

Leon Festinger, psikolog sosial asal Amerika Serikat, juga memberikan pandangan penting melalui teori Social Comparison. Ia menyebut bahwa manusia cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain untuk mengevaluasi keberadaannya. Sayangnya, di era digital, perbandingan ini menjadi tidak adil karena kita hanya melihat sisi terbaik dari hidup orang lain—hasil editan, pencitraan, dan keberhasilan semu.
Akibatnya, kita merasa kurang, tertinggal, dan terus terdorong untuk ikut-ikutan. Inilah akar FOMO. Namun ketika seseorang menyadari bahwa perbandingan ini tidak sehat, lalu mulai fokus pada pertumbuhan diri dan pengalaman pribadi, ia mulai memasuki ranah JOMO.
Pandangan ini juga didukung oleh Viktor Frankl, pencetus logoterapi, yang mengatakan bahwa makna hidup sejati harus datang dari dalam diri, bukan dari validasi orang lain. Ketika makna itu telah ditemukan, seseorang tidak lagi merasa butuh pengakuan dari tren sosial.
Haruskah Selalu Ikut Tren? Ini Waktunya Bertanya pada Diri Sendiri
FOMO dan JOMO tidak harus saling bertentangan. Keduanya justru bisa menjadi sinyal yang membantu kita memahami kebutuhan pribadi. FOMO bisa mengingatkan bahwa kita butuh koneksi sosial, sementara JOMO mengajarkan pentingnya memilih dengan sadar.
Jadi, pertanyaannya bukan “haruskah ikut tren?” tetapi “apakah keputusan itu lahir dari tekanan luar atau kesadaran diri?”
Menjadi autentik bukan berarti menolak semua hal baru, tetapi menyaringnya sesuai dengan nilai dan tujuan hidup pribadi. Kadang kita perlu ikut tren, kadang kita juga butuh menepi. Yang terpenting adalah kita tetap menjadi diri sendiri di tengah derasnya arus sosial.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Maysa Ayu Raddina (Magang)
redaktur: jatmiko
























