Malang, Tugumalang.id – Peran guru di tengah kemajuan teknologi sejak kemunculan Artificial Intelligence (AI) tetap dinilai krusial. Kehadiran AI tidak serta-merta menggantikan posisi guru dalam proses pembelajaran, mengingat teknologi ini tidak memiliki fungsi pendampingan dan sentuhan edukatif secara langsung.
Pandangan tersebut disampaikan dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Dr. Beti Istanti Suwandayani, M.Pd. Ia menegaskan, perubahan yang terjadi bukan sekadar hadirnya alat baru di ruang kelas, tetapi transformasi mendasar dalam cara belajar dan mengajar.

“AI itu tidak hanya mengubah cara guru mengajar, tetapi juga cara belajar siswa dan mahasiswa. Saat ini, guru bukan menjadi sumber informasi utama bagi siswa,” ujarnya.
Baca juga: Talenta AI Terbaik dari EKKA 2025, Pemerintah Perkuat Pendidikan Coding dan Kecerdasan Artifisial
Derasnya arus teknologi yang mempercepat proses pendidikan membuat guru dan dosen menghadapi transformasi besar dalam perannya. Tidak sedikit yang menilai kecerdasan buatan mulai mengambil alih sebagian fungsi pendidik dalam proses belajar mengajar.
Namun, di balik kemudahan tersebut, peran pendidik justru semakin strategis. Guru tidak lagi cukup hanya sebagai penyampai materi, melainkan berperan sebagai kurator yang memilah, memverifikasi, dan memastikan sumber informasi yang digunakan siswa benar-benar valid, relevan, serta layak dijadikan rujukan.
Dalam konteks ini, pendidik dituntut memposisikan diri sebagai pembimbing utama dalam pemanfaatan teknologi. Beti menjelaskan bahwa guru perlu menjadi learning experience designer dengan merancang pembelajaran yang adaptif, sekaligus berperan sebagai critical thinking coach yang mengasah daya pikir peserta didik.
“Jadi bukan hanya sekadar memberikan jawaban, tetapi mengajak siswa atau mahasiswa bertanya dari ‘apa’ menjadi ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’. Hal ini tentu akan melatih keterampilan analitis dan argumentasi,” kata dia.
Di tengah kekhawatiran akan menurunnya orisinalitas akibat penggunaan AI, Beti justru melihat adanya peluang. Menurutnya, pendidik bisa mendorong peserta didik tetap menghasilkan karya otentik meski memanfaatkan teknologi sebagai alat bantu.
“Paling penting itu mendorong mereka membuat karya otentik, meskipun menggunakan atau memanfaatkan AI. Para peserta didik tetap memiliki sisi orisinalitas yang tidak bisa dibuat oleh AI,” ungkap Beti.
Baca juga: EKKA 2025 Jadi Tonggak Baru Pengembangan Pendidikan AI di Indonesia
Ia menambahkan, AI seharusnya menjadi sarana untuk memperbesar potensi diri, bukan menggantikan kapasitas manusia. Pendidikan, menurutnya, perlu membentuk generasi yang tidak hanya mampu menggunakan AI, tetapi juga memahami cara kerjanya secara kritis dan bertanggung jawab.
“Pendidikan tidak hanya mampu menerima AI, tetapi mampu memanfaatkannya untuk mencerdaskan manusia secara lebih utuh. Begitu pun dengan pendidik yang seharusnya bisa memanfaatkan AI untuk memajukan pendidikan sekaligus mendorong siswa-siswi agar bisa menjadi lebih baik,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























