Malang, Tugumalang.id – Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) menghadirkan gebrakan baru pada 2026 dalam mencetak lulusan magister berkelas dunia. Melalui skema Double Degree atau Gelar Ganda, FIA UB resmi memperluas jaringan kerja sama internasional dengan sejumlah perguruan tinggi di Jepang, Australia, hingga Selandia Baru.
Perluasan kerja sama ini memperkuat langkah FIA UB dalam menghadirkan pendidikan berstandar global bagi mahasiswa Program Magister. Sejumlah universitas mitra telah bergabung dalam program tersebut, di antaranya Tohoku University di Jepang serta Victoria University di Australia.
Program Double Degree di FIA UB sendiri telah dimulai sejak 2007 dengan total enam mitra universitas di Jepang.
Perluasan Kerja Sama Internasional FIA UB

Dekan FIA UB, Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si., menjelaskan bahwa selain Jepang, FIA UB juga pernah memperluas jejaring kerja sama akademik dengan perguruan tinggi di Thailand.
Kerja sama tersebut berlangsung pada periode 2010 hingga 2015 dengan dua kampus mitra, yakni Burapha University dan Prince of Songkla University.
Program ini terus mendapat respons positif dan berkembang semakin luas. Pada periode 2024 hingga 2026, program tersebut dijalankan bersama National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS) di Tokyo serta Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) di Jepang.
“Di tahun 2026 ini, kami menambah lagi mitra kerja sama universitas di program double degree, yakni dengan Australia di Victoria University,” imbuh Hamidah.
Baca juga: FIA UB Gelar Konferensi Internasional AICoBPA 2022, Wadah Tukar Gagasan 14 Negara
Tak hanya sampai di situ, FIA UB juga tengah menjajaki peluang kerja sama baru dengan Massey University di Selandia Baru.
“Semoga tahun depan kerja sama ini sudah bisa diakses oleh mahasiswa,” lanjutnya.
Hamidah menegaskan bahwa Program Magister Administrasi Publik (MAP) FIA UB menawarkan skema studi yang efisien sekaligus mendukung pengembangan karier global. Mahasiswa menempuh satu tahun studi di Malang dan satu tahun berikutnya di universitas mitra di luar negeri.
“Ini adalah upaya kami menyiapkan lulusan yang tidak gagap menghadapi dinamika global, baik di bidang administrasi publik maupun bisnis,” tegasnya.
Skema Studi Dua Tahun dan Dukungan Beasiswa
Program Double Degree pada Program Magister Administrasi Publik (MAP) FIA UB telah memiliki dasar hukum melalui Surat Keputusan Rektor Universitas Brawijaya Nomor 263 Tahun 2026. Program tersebut juga dapat digunakan sebagai salah satu syarat penyetaraan ijazah bagi mahasiswa.
Izin penyelenggaraan program mencakup tiga universitas mitra, yaitu:
Master of International Community Development di Victoria University Australia
Graduate School of Asia Pacific Studies di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU) Jepang
National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS) di Tokyo
Dalam pelaksanaannya, program double degree FIA UB juga didukung oleh pendanaan beasiswa dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas). Dukungan tersebut telah berjalan sejak program pertama kali diluncurkan pada 2007 dan terus berlanjut hingga saat ini.
Wakil Dekan Bidang Akademik FIA UB, Dr. Fadillah Amin, M.AP., Ph.D., menjelaskan bahwa skema program double degree S2 ditempuh selama dua tahun.
Baca juga: Amithya Kawal Perjuangan Warga Pertahankan Sisa Ruang Publik di Pemukiman Padat
Mahasiswa menjalani satu tahun studi di Program Magister Administrasi Publik FIA UB, kemudian melanjutkan satu tahun berikutnya di universitas mitra di luar negeri.
“Untuk tahun ini, ada tujuh mahasiswa Program Magister Administrasi Publik yang dijadwalkan berangkat ke Jepang pada September 2026. Tahun sebelumnya, ada enam mahasiswa telah mengikuti program serupa dan sebagian menempuh studi di Victoria University, Melbourne, Australia,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Magister Administrasi Bisnis FIA UB, Prof. Andriani Kusumawati, menambahkan bahwa program double degree memberikan nilai tambah bagi lulusan saat memasuki dunia kerja.
Selain meningkatkan daya saing, program tersebut juga melatih mahasiswa dalam mengelola waktu serta beradaptasi dengan lingkungan dan budaya baru.
“Mereka dipaksa menyelesaikan studi satu tahun di luar negeri dan satu tahun di sini. Dari situ mereka belajar mengatur waktu dan beradaptasi dengan budaya yang berbeda. Itu menjadi soft skill yang sangat penting,” ujarnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























