Tulungagung, Tugumalang.id – Kecerdasan artifisial (AI) menuntut perubahan cara dosen mengajar dan mahasiswa belajar bahasa Arab. Perguruan tinggi juga perlu mengubah cara menghasilkan pengetahuan.
Hal itu disampaikan Prof. Dr. M. Abdul Hamid, MA, Guru Besar Bahasa Arab sekaligus Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Pengembangan Lembaga UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dalam seminar “Transformasi Pembelajaran dan Penelitian Bahasa Arab” di UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Senin (7/9).
Seminar yang digelar Program Studi Pendidikan Bahasa Arab (PBA) UIN SATU Tulungagung tersebut berlangsung di Aula Lantai 6 Gedung Saifuddin Zuhri. Kegiatan diikuti dosen dan mahasiswa PBA UIN SATU Tulungagung.
Abdul Hamid menilai transformasi digital tidak cukup hanya dengan mengganti perangkat pembelajaran. Perubahan dari papan tulis biasa ke layar sentuh maupun dari kertas ke layar LCD, menurut dia, baru sebatas perubahan media.
“Transformasi digital jangan dimaknai hanya sebagai perubahan dari papan tulis biasa ke layar sentuh, atau dari kertas ke layar LCD. Itu baru perubahan media, belum tentu perubahan pembelajaran.”
Menurut dia, yang perlu berubah adalah paradigma pembelajaran. Pembelajaran konvensional perlu bergerak menuju pembelajaran yang smart, adaptif, terbuka, dan berbasis kebutuhan peserta didik.
Baca juga: Guru Besar UIN Malang Ungkap Pentingnya Screening Khusus bagi Mahasiswa yang Mengalami Gangguan Komunikasi
“Yang harus berubah bukan hanya alatnya, tetapi cara kita merancang pembelajaran, cara mahasiswa belajar, cara dosen mengajar, dan cara perguruan tinggi menghasilkan pengetahuan,” tegasnya.
Dari Digitalisasi Menuju Pembelajaran Smart dan Adaptif
Kehadiran AI, lanjut Abdul Hamid, membuka peluang untuk membuat pembelajaran bahasa Arab lebih personal dan adaptif. Proses belajar dapat disesuaikan dengan tingkat kemampuan, kebutuhan, karakteristik, serta kecepatan belajar setiap mahasiswa.
AI dapat dimanfaatkan untuk personalized learning, latihan bahasa secara interaktif, pemberian umpan balik lebih cepat, simulasi komunikasi, pengembangan keterampilan membaca dan menulis, hingga analisis kesalahan berbahasa.
Namun, penggunaan teknologi tidak berarti menggeser posisi dosen sebagai pendidik.
“AI bisa membantu proses pembelajaran, tetapi tidak dapat menggantikan dimensi pedagogis, keteladanan, nilai, dan sentuhan kemanusiaan seorang dosen,” jelasnya.
Tantangan dosen bahasa Arab di era AI, menurut Abdul Hamid, bukan hanya kemampuan mengoperasikan teknologi. Dosen juga perlu mampu mendesain pengalaman belajar yang bermakna dengan memanfaatkan teknologi secara kritis dan pedagogis.
AI dan Masa Depan Penelitian Bahasa Arab
Perubahan juga menyentuh penelitian bahasa Arab. AI membuka ruang yang lebih luas dalam pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data kebahasaan.
Penelitian dapat memanfaatkan big data, corpus linguistics, analisis wacana berbasis komputasi, pemrosesan bahasa alami (Natural Language Processing/NLP), hingga analisis penggunaan bahasa di berbagai platform digital.
“Peneliti bahasa Arab harus bergerak dari penelitian yang hanya bertumpu pada data terbatas menuju penelitian yang mampu membaca fenomena kebahasaan secara lebih luas, dinamis, dan berbasis data,” ujarnya.
Meski demikian, penggunaan AI dalam penelitian tetap harus disertai literasi metodologis dan etika akademik. AI dapat membantu menemukan pola, mengolah data, dan mempercepat berbagai tahapan penelitian.
Validitas data, ketepatan metodologi, orisinalitas gagasan, serta tanggung jawab ilmiah tetap berada pada peneliti.
Menyiapkan SDM Bahasa Arab yang Terbuka terhadap Perubahan
Abdul Hamid juga mengajak perguruan tinggi tidak bersikap defensif terhadap perkembangan teknologi. Pendidikan bahasa Arab, menurut dia, harus menjadi bagian dari perubahan, bukan sekadar menjadi objek perubahan.
“Bahasa Arab memiliki tradisi keilmuan yang sangat kuat. Tantangannya sekarang adalah bagaimana tradisi tersebut berdialog dengan teknologi, sehingga lahir inovasi tanpa kehilangan substansi keilmuan,” tuturnya.
Mahasiswa PBA didorong tidak hanya menguasai empat keterampilan berbahasa Arab. Mereka juga perlu memiliki literasi digital, literasi AI, kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, serta keterbukaan terhadap perkembangan keilmuan global.
Bagi dosen, era AI juga menuntut perubahan peran akademik. Dosen tidak cukup menjadi sumber informasi, tetapi juga perlu berperan sebagai perancang pembelajaran, fasilitator, mentor, kurator pengetahuan, sekaligus pengarah mahasiswa dalam menggunakan teknologi secara kritis dan bertanggung jawab.
Seminar tersebut menjadi ruang dialog akademik antara UIN Maliki Malang dan UIN SATU Tulungagung mengenai masa depan pendidikan bahasa Arab. Forum itu juga membahas pentingnya kolaborasi dan pertukaran gagasan antarpamong perguruan tinggi dalam merespons perkembangan teknologi.
Baca juga: Kisah Prof. Fadil: Dari Khadam Kiai hingga Menjadi Guru Besar UIN Malang
Bagi Abdul Hamid, transformasi pendidikan bahasa Arab bukan persoalan seberapa canggih teknologi yang digunakan. Teknologi perlu diarahkan untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih cerdas, adaptif, inklusif, terbuka, dan tetap berorientasi pada pembentukan manusia.
Era AI, karena itu, tidak seharusnya menjadi ancaman bagi pendidikan bahasa Arab. Perkembangan tersebut menjadi momentum untuk membawa pembelajaran dan penelitian bahasa Arab menuju ekosistem akademik yang lebih inovatif, berbasis data, kolaboratif, dan relevan dengan kebutuhan zaman.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis UIN Malang
editor: jatmiko






























