MALANG, Tugumalang.id – Guru Besar Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang (UIN Malang), Prof. Dr. Rohmani Nur Indah, M.Pd menyampaikan pentingnya screening khusus bagi mahasiswa yang mengalami gangguan komunikasi.
Hal itu disampaikannya ketika menjadi pembicara Seminar dan Konferensi Nasional Ulama Perempuan Indonesia yang digelar di Ruang Singgah Kampus 2 UIN Malang pada Kamis (30/10/2025).
Perempuan yang akrab disapa Prof. Indah itu membahas pentingnya adaptasi pedagogik dalam pendidikan inklusif. Berdasarkan pengalamannya, ia seringkali menemukan beberapa mahasiswa yang mengalami hambatan dalam berkomunikasi.
Baca Juga: Rektor UIN Malang Tekankan Komitmen Kampus Inklusif di Seminar dan Konferensi Nasional Ulama Perempuan Indonesia
Masalah inilah yang menurut Prof. Indah perlu diperhatikan oleh pihak kampus untuk membantu mahasiswa yang mengalami gangguan dalam interaksi sosial.
“Tidak ada screening khusus bagi mahasiswa atau calon mahasiswa yang memiliki hambatan dalam berkomunikasi,” ungkap dosen bidang Psikolinguistik Fakultas Humaniora UIN Malang tersebut.
Ia menjelaskan bahwa hambatan komunikasi tidak bisa diabaikan, karena banyak mahasiswa berkebutuhan khusus yang gagal menyelesaikan studi disebabkan komunikasi dengan dosen yang tidak berjalan lancar.
Untuk itu dibutuhkan pendampingan khusus yang diberikan oleh pihak kampus untuk membantu mahasiswa berkebutuhan khusus menyelesaikan studinya.
Baca Juga: Bersinergi dengan Pemkot Malang, UIN Malang Siap Wujudkan Kampung Lintas Kampus
“Hal ini dikarenakan karena mereka tidak mendapat pendampingan untuk mendukung kelancaran proses akademik,” ujar Prof. Indah.
Inilah yang menjadi alasan mengapa screening diperlukan untuk mendeteksi mahasiswa yang mengalami kesulitan dan berkomunikasi dan membutuhkan pendampingan.
Prof. Indah menambahkan proses screening akan mudah, jika dari awal wali mahasiswa bekerja sama dengan pihak kampus untuk menyampaikan kondisi yang dialami putra-putri mereka.
“Jika orang tua jujur atau aware sejak awal jika ada gangguan pada anaknya, tentu kampus akan memberikan penanganan khusus,” terangnya.
Merujuk pada hasil riset yang telah dilakukannya, Prof. Indah mengungkapkan bahwa sebagian besar dosen sangat peka terhadap mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi.
Hal ini terbukti dari hasil kompetensi kognitif, kepekaan, dan persepsi yang berada di bawah kategori optimal dan prima.
“Mereka beranggapan bahwa menghadapi mahasiswa dengan hambatan pragmatis, misalnya yang dialami penyandang Asperger Syndrome adalah media belajar. Sehingga mereka mampu merancang situasi pembelajaran yang lebih kondusif,” beber Prof. Indah.
Terkait dengan visi UIN Malang menuju kampus inklusif yang ramah bagi semua kalangan, termasuk penyandang disabilitas. Prof. Indah meyakini bahwa UIN Malang siap menuju praktik pendidikan yang komprehensif dan mendukung beragam kebutuhan mahasiswa.
“Kita tentu optimis bahwa kampus tercinta ini akan memaksimalkan sarana-prasarana untuk mewujudkan pendidikan inklusif,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A





























