Tugumalang.id – Hubungan Iran dan Amerika-Israel tidak selalu dipenuhi ketegangan seperti hari ini. Ada masa ketika ketiganya berada di sisi yang sama dan berbagi kepentingan strategis yang kuat.
Namun, seiring pergeseran ideologi dan kepemimpinan, persahabatan itu berubah menjadi pertarungan geopolitik panas di dunia.
Bagaimana sejarah hubungan Iran Amerika Israel bertransformasi dari kawan menjadi lawan? Berikut ulasan lengkapnya.
1953
Titik balik sejarah hubungan Iran Amerika Israel dimulai pada 19 Agustus 1953, ketika Perdana Menteri Mohammad Mossadegh digulingkan melalui operasi yang didukung CIA dan Inggris. Pasca-insiden tersebut, Shah Mohammad Reza Pahlavi mempererat kedekatan Iran dengan Barat.
Baca Juga: PBNU Instruksikan Qunut Nazilah di Seluruh Indonesia Pasca AS-Israel Serang Iran
Sepanjang dekade 1950-an hingga 1970-an, Iran menjadi pilar utama kepentingan Washington di Timur Tengah. Di periode yang sama, Iran dan Israel menjalin kerja sama rahasia namun intens di bidang intelijen serta energi. Saat itu, ketiganya adalah sekutu yang solid.
1979
Gejolak besar terjadi pada 1979 saat rakyat Iran menggulingkan Shah Pahlavi. Sentimen anti-Amerika memuncak pada 4 November 1979, ketika massa menduduki Kedutaan Besar AS di Teheran dan menyandera 52 warga Amerika selama 444 hari.
Akibat krisis ini, hubungan diplomatik Iran-AS terputus total. Di bawah kepemimpinan Ayatollah Ruhollah Khomeini, Iran mendeklarasikan diri sebagai Republik Islam dengan haluan politik anti-Barat dan anti-Zionis yang keras.
1981 – 1996
Pada Januari 1981, Presiden Ronald Reagan menandatangani Perjanjian Aljazair untuk mengakhiri krisis sandera dan membebaskan 52 warga Amerika setelah 444 hari ditahan.
Dua tahun kemudian, terjadi Pengeboman barak militer AS di Lebanon yang dituduhkan kepada kelompok ekstremis yang didukung Iran.
Baca Juga: Warisan Abadi: Kata Menenangkan Hati dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei
Pada 1988, Iran mencoba menyerang kapal Amerika di Selat Hormuz namun gagal. AS membalas dengan menghancurkan dua anjungan minyak Iran dan menenggelamkan kapal Iran. Kapal perang AS juga secara tragis menembak jatuh pesawat komersial Iran Air yang diklaim sebagai salah identifikasi.
AS kemudian memperketat sanksi terhadap Iran pada 1992 dengan melarang transfer barang dan teknologi yang berpotensi mendukung pengembangan senjata.
Pada khirnya sanksi diperluas menjadi larangan total perdagangan dan pembatasan besar terhadap investasi, termasuk bagi perusahaan non-Amerika pada 1995 – 1996.
2000–2019
Memasuki tahun 2000-an program nuklir Iran menjadi pusat perhatian dunia. Pada 2002, Presiden George W. Bush memasukkan Iran dalam daftar “Axis of Evil”. Meski Iran bersikeras program tersebut untuk energi damai, sanksi internasional terus menjerat.
Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad sempat mengirim surat kepada George W. Bush di tahun 2006 untuk meredakan ketegangan. Namun surat itu tidak pernah dibalas.
Harapan sempat muncul saat kesepakatan JCPOA ditandatangani pada 2015 di era Obama. Namun, stabilitas ini hancur pada 2018 ketika Donald Trump menarik AS keluar dari perjanjian dan menerapkan kebijakan “tekanan maksimum”, langkah yang didukung penuh oleh Israel.
AS juga menetapkan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) sebagai organisasi teroris asing. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menyambut keputusan itu dan mengklaimnya sesuai permintaan Israel.
2020
3 Januari 2020, Jenderal Qasem Soleimani tewas dalam serangan rudal AS di Baghdad atas perintah Presiden Donald Trump. Trump menyebut langkah itu untuk mencegah perang.
Iran membalas dengan menembakkan rudal ke pangkalan militer Irak yang menampung pasukan AS, menyebabkan sekitar 100 tentara Amerika mengalami cedera otak traumatis.
November 2020, ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh tewas dalam serangan. Dalam penyelidikan, tiga dari delapan tersangka diduga mata-mata Israel, dan AS juga disebut terlibat.
Setelah itu, Iran meningkatkan pengayaan uranium hingga 60 persen dan mengancam mengusir inspektur Badan Energi Atom Internasional (IAEA).
2021 – 2023
Presiden AS berganti ke Joe Biden yang menyatakan kesiapan kembali ke perjanjian nuklir. Presiden baru Iran, Ebrahim Raisi, juga setuju membatasi pengayaan uranium, tetapi menuntut pencabutan lebih dari 1.500 sanksi AS dan tetap mempertahankan program rudal balistik.
Pada Maret 2022, AS bersama Israel, Bahrain, Mesir, Maroko, dan Uni Emirat Arab membentuk Negev Summit, yang dipandang Iran sebagai upaya isolasi.
Hamas sempat menyerang Israel dan menewaskan sekitar 1.300 orang pada 7 Oktober 2023. AS menuduh Iran mendanai dan melatih Hamas untuk melakukan serangan itu.
2024
Pada 1 April 2024, konsulat Iran di Suriah diserang. Iran menuduh Israel sebagai pelaku dan meluncurkan lebih dari 330 drone dan misil ke Israel pada 13 April 2024.
Kabar duka datang pada 31 Juli 2024, dimana pemimpin politik Hamas Ismail Haniyeh tewas akibat serangan rudal di Iran. Disusul oleh Hassan Nasrallah dan komandan IRGC Abbas Nil Fodusan juga tewas dalam serangan udara di Beirut.
Pada 1 Oktober 2024, Iran membalas dengan 180–200 rudal ke Israel. Israel merespons lagi dengan menyerang fasilitas pertahanan dan produksi misil Iran. Rangkaian peristiwa ini membuat konflik Iran Israel semakin terbuka dan memperumit hubungan Iran Amerika Israel.
2025
Puncak ketegangan terjadi pada Juni 2025. Israel meluncurkan Rising Lion Operation untuk menggempur fasilitas nuklir Iran. Iran membalas dengan rudal yang mampu menembus sistem Iron Dome.
Donald Trump sempat mendesak Iran untuk menyerah tanpa syarat. Iran merespon dengan memperingatkan Amerika agar tidak ikut campur. Namun pada 22 Juni 2025, Amerika Serikat menyerang tiga fasilitas nuklir Iran menggunakan penghancur bunker.
Iran membalas dengan menembakkan rudal ke pangkalan udara terbesar Amerika di Qatar. Perang singkat ini berakhir dengan gencatan senjata mendadak pada akhir Juni 2025.
2026
Pada 12 Januari 2026, Trump mengumumkan tarif 25 persen bagi negara yang berdagang dengan Iran. Tiga hari setelahnya, AS dan Iran saling ancam di Dewan Keamanan PBB. Negara-negara seperti Arab Saudi, Qatar, dan Oman dilaporkan membujuk AS agar tidak menyerang Iran.
28 Januari 2026, Trump memperingatkan armada militer besar sedang menuju kawasan dan menuntut kesepakatan nuklir baru. Jika tidak, Iran akan menghadapi serangan skala besar. Dan serangan itu akhirnya datang dari israel pada 28 Februari 2026.
Sehari setelah serangan itu, pada 1 Maret 2026, pemimpin tinggi Iran dilaporkan wafat di tengah situasi yang genting. Peristiwa ini memperbesar ketidakpastian politik Iran sekaligus meningkatkan kekhawatiran Masyarakat.
Dari tahun 1953 hingga kini, sejarah hubungan Iran Amerika Israel membuktikan bahwa politik internasional sangatlah dinamis. Persahabatan erat bisa berubah menjadi konfrontasi bersenjata dalam hitungan dekade.
Apakah masa depan akan membawa diplomasi baru atau eskalasi yang lebih menghancurkan? Dunia masih menunggu jawabannya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: ‘Isyatur Rodhiyah/Magang
Editor: Herlianto. A





























