Tugumalang.id – Revolusi Iran 1978-1979 merupakan salah satu peristiwa politik paling berpengaruh dalam Sejarah modern Timur Tengah. Revolusi ini mengakhiri kekuasaan monarki yang telah bertahan selama puluhan tahun dan menggantinya dengan sistem Republik Islam.
Revolusi ini juga memperlihatkan bagaimana unsur agama, politik, dan identitas nasional saling berkaitan dalam membentuk arah sejarah suatu negara.
Dampaknya tidak hanya dirasakan di dalam negeri, tetapi juga memengaruhi hubungan internasional Iran hingga saat ini. Berikut latar belakang, proses, serta tokoh penting dalam Revolusi Iran 1978–1979 yang mengubah arah politik negara tersebut.
1. Latar Belakang Ketidakpuasan terhadaap Shah
Sebelum revolusi, Iran berada di bahwa pemerintahan Shah Muhammad Reza Pahlavi yang dikenal menjalankan modernisasi cepat melalui program reformasi.
Baca Juga: Warisan Abadi: Kata Menenangkan Hati dari Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei
Banyak kalangan menilai bahwa pemerintahan Shah terlalu otoriter dan membatasi kebebasan politik. Kelompok oposisi, baik dari kalangan religius maupun sekuler, merasa suara mereka ditekan oleh aparat keamanan negara.
Selain itu, meskipun Iran mengalami pertumbuhan ekonomi yang pesat akibat pendapatan minyak, distribusi kekayaan tidak merata sehingga kesenjangan sosial semakin terlihat jelas.
Mengutip dari Encyclopedia Britannica, revolusi Iran adalah “sebuah pemberontakan rakyat Iran pada 1978 – 1979 yang menghsilkan penggulingan monarki dan pembentukan sebuah republi Islam.”
Ketidakpuasan terhadap campur tangan Barat dalam kebijakan Iran juga memperburuk situasi politik dalam negeri. Kombinasi faktor ekonomi, politik, dan identitas inilah yang kemudian memicu protes besar.
2. Koalisi Luas dan Strategi Perlawanan
Revolusi Iran melibatkan berbagai kelompok dengan latar belakang ideologi yang berbeda-beda. Kaum religius, nasionalis, liberal konstitusional, hingga kelompok kiri seperti marxis turut bersatu menentang Shah.
Menurut International Center on Nonviolent Conflict, monarki Shah menghadapi “koalisi luas kekuatan oposisi, termasuk kaum Marxis dan liberal konstitusional.”
Gerakan revolusi banyak menggunakan metode non-kekerasan seperti demonstrasi, pemogokan, dan boikot ekonomi.
Baca Juga: AS Serang Iran, Donald Trump Minta IRGC Segera Letakkan Senjata
ICNC juga menulis bahwa “kekuatan revolusioner itu sendiri pada dasarnya didominasi oleh aksi non-kekerasan.”
Pemogokan pekerja sektor minyak menjadi titik penting karena melemahkan sumber pendapatan utama negara. Strategi ini membuat fondasi kekuasaan Shah semakin rapuh dari waktu ke waktu.
3. Peran Ayatollah Khomeini
Tokoh penting dalam revolusi ini yaitu Ayatollah Ruhollah Khomeini, seorang ulama Syiah yang menjadi simbol perlawanan terhadap rezim.
Ia diasingkan karena kritiknya terhadap kebijakan Shah, tetapi tetap berpengaruh melalui pidato dan pesan yang disebarkan secara luas. Ajarannya menggabungkan unsur keagamaan dengan seruan politik untuk menentang tirani.
Pidato-pidato Khomeini juga banyak disebarkan dalam bentuk rekaman kaset yang diedarkan secara diam-diam di berbagai kota di Iran. Hal ini justru menjadi lebih efektif untuk membangun dukungan massa dan memperluas pengaruhnya di tengah pembatasan ketat dari pemerintah.
Britannica menjelaskan bahwa “Islam Syiah merupakan unsur pemersatu identitas dan budaya Iran selama revolusi.”
Ketika Shah meninggalkan Iran pada Januari 1979, Khomeini kembali dari pengasingan dan disambut jutaan pendukung. Kepulangannya menandai babak baru dalam perubahan sistem pemerintahan Iran.
4. Runtuhnya Monarki dan Lahirnya Republik Islam
Pada awal 1979, tekanan politik dan sosial terhadap pemerintahan Shah mencapai puncaknya. Gelombang demonstrasi semakin meluas dan aparat keamanan kesulitan mengendalikannya. Shah akhirnya meninggalkan Iran dan kekuasaan monarki pun berada di ambang keruntuhan.
ICNC menuliskan bahwa “Shah melarikan diri ke pengasingan pada Januari 1979 dan ulama yang sebelumnya diasingkan, Ayatollah Ruhollah Khomeini, kembali untuk memimpin Republik Islam yang baru.”
Melalui referendum nasional, rakyat Iran memilih untuk membentuk Republik Islam. Sistem baru ini menggabungkan prinsip pemerintahan modern dengan kepemimpinan ulama sebagai otoritas tertinggi. Perubahan tersebut menandai transformasi besar dalam struktur politik dan identitas negara Iran.
Revolusi Iran 1978–1979 menjadi salah satu contoh revolusi besar abad ke-20 yang berhasil mengubah sistem pemerintahan secara total.
Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana ketidakpuasan rakyat terhadap otoritarianisme dan ketimpangan sosial dapat berkembang menjadi gerakan nasional yang masif. Hingga kini, dampaknya masih terasa dalam dinamika politik dan sosial negara tersebut.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Intan Adelia/ Magang
Editor: Herlianto. A





























