Rabu, Juni 3, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Budaya

Dalang Muda Andi Bayu Sasongko, Komitmen Melestarikan Budaya Jawa di Era Modern

Redaksi by Redaksi
Januari 15, 2023 9:35 pm
in Budaya
Dalang muda melestarikan budaya

Dalang muda Andi Bayu Sasongko saat pertunjukan wayang. Foto: dok.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

MALANG, Tugumalang – Menjadi dalang di era sekarang adalah sebuah tantangan. Profesi ini kini tak banyak diminati masyarakat, khususnya kalangan muda. Namun, ini tak menyurutkan semangat Andi Bayu Sasongko (27) menjadi dalang dan melestarikan budaya.

Andi yang terlahir di keluarga budayawan ini baru saja menerima penghargaan sebagai satu dari 10 Dalang Terbaik Festival Wayang Kulit (Dalang Muda) Provinsi Jawa Timur 2022. Penghargaan ini diserahkan langsung Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa.

READ ALSO

Coming Soon! Tradisi Ngarak Banteng Empu Supo XVIII Siap Getarkan Kota Batu

Tradisi Bersih Desa Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi Masyarakat Jawa

Tentunya ini tak lepas dari kerja keras Andi saat menjadi dalang, meski harus membagi waktu dengan profesinya sebagai guru di SMPN 2 Sumberpucung.

Alasan Menjadi Dalang

Andi terlahir di keluarga yang mencintai kebudayaan Jawa. Ayahnya adalah seorang dalang dan ibunya adalah seorang sinden. Secara otomatis, ia dan adiknya tumbuh dengan mencintai budaya tradisional ini.

Saat ditanya mengenai alasannya menjadi dalang di era modern ini, Andi mengatakan bahwa ia ingin melestarikan dan mengembangkan budaya di bidang pedalangan yang saat ini sudah jarang.

“Selain itu, saya juga ingin meneruskan cita-cita keluarga,” ujarnya saat dihubungi wartawan Tugu Malang ID beluma lama ini.

Aksi Andi Bayu Sasongko saat di panggung. Foto: dok.

Pria asal Desa Sumberpucung, Kecamatan Sumberpucung, Kabupaten Malang ini menekuni dunia dalang dengan serius. Ia belajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta jurusan Pedalangan pada tahun 2013 hingga lulus di awal tahun 2019.

Tantangan Menjadi Dalang Masa Kini

Menjadi dalang bukanlah suatu hal yang mudah. Saat ini, tak banyak masyarakat yang menikmati pertunjukan wayang. Ini juga dirasakan Andi.

“Salah satu tantangannya adalah bagaimana mengemas dan menampilkan suatu karya yang menarik bagi kawula muda. Karena jika bertahan dengan sajian klasik, banyak yang kurang paham dari segi bahasa dan alur cerita,” terang Andi.

Selain itu, tantangan yang dihadapi Andi adalah membagi waktu dengan profesinya sebagai guru. Ini dikarenakan saat menjadi dalang, ia harus terjaga semalaman. Sementara, paginya ia harus mengajar di sekolah.

“Untuk pembagian waktu tentu saja sulit. Terutama ketika ada job wayangan yang sampai menjelang pagi, sedangkan paginya harus kembali mengajar di sekolah. Terkadang juga sampai telat masuk. Tapi warga sekolah sudah paham dan menerima dengan baik,” ujar guru muatan lokal (mulok) bahasa daerah dan ekstrakurikuler karawitan ini.

Meski memiliki tantangan, Andi merasakan banyak manfaat dari pekerjaannya sebagai dalang. “Saya jadi memiliki banyak saudara dan dikenal orang banyak. Kami bisa berbagi pengalaman dan ilmu,” tuturnya.

Menyajikan Wayang yang Menarik Anak Muda

Aksi Andi Bayu Sasongko saat di panggung. Foto: dok.

Pertunjukan wayang saat ini kerap dianggap kuno. Andi pun mengatakan bahwa meski regenerasi seniman ada, namun belum tentu ada regenerasi penikmat. Untuk menepis anggapan bahwa wayang itu kuno, Andi berupaya menyajikan tontonan yang menarik dan bisa dipahami oleh anak muda.

“Saya menggunakan bahasa yang mudah dipahami, namun tetap menggunakan unggah-ungguh bahasa Jawa yang baik dan benar,” ujarnya.

Salin bahasa, Andi juga menampilkan tokoh jenaka untuk memecah suasana tegang. Taktik lain yang ia gunakan adalah menggunakan alur cerita yang tidak muluk-muluk tapi tetap mengena dengan alur.

”Saat pertunjukan, saya membawa para pengrawit dan pesinden yang masih muda-muda,” kata Andi.

Menurutnya, anak-anak muda harus mengenali budaya mereka terlebih dahulu, dalam hal ini budaya Jawa, sebelum menggandrungi budaya bangsa lain. Ia ingin anak muda Indonesia bangga akan seni budaya wayang. Ini adalah seni yang asli milik Indonesia dan sudah diakui dunia.

“Agar kita menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan dengan bangga memperkenalkan bahwa inilah kami, orang Indonesia, orang Jawa, kaya akan budaya yang adi luhung,” pungkas Andi.

Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
editor: jatmiko

Tags: budaya jawadalangdalang mudaFestival Wayang Kulitguru muatan lokalInstitut Seni Indonesiakebudayaan JawaKecamatan Sumberpucungpengrawitpesinden

Related Posts

Tradisi Ngarak Banteng empu supo
Budaya

Coming Soon! Tradisi Ngarak Banteng Empu Supo XVIII Siap Getarkan Kota Batu

Minggu, 31 Mei 2026
Tradisi bersih desa
Budaya

Tradisi Bersih Desa Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi Masyarakat Jawa

Kamis, 28 Mei 2026
Ilustrasi tradisi ater-ater di Jawa. (Foto: Instagram/ @perpusipkabtegal)
Budaya

Tradisi Ater-Ater, Warisan Budaya Jawa Menjaga Hangatnya Silaturahmi

Rabu, 27 Mei 2026
Ilustrasi Wamen Kebudayaan RI Giring Ganesha saat mengunjungi objek cagar budaya Villa Bima Shakti di Selecta Kota Batu. Foto: Azmy
Budaya

Pemkot Batu Perluas Pendataan Objek Cagar Budaya di 2026, Ada Bunker Jepang hingga Situs Petirtaan

Selasa, 12 Mei 2026
Fakta menarik busana khas Malangan yang diluncurkan pada rangkaian HUT ke-112 Kota Malang sebagai identitas baru. /Foto: Instagram @pemkotmalang
Budaya

Identitas Budaya Baru, 8 Fakta Menarik Busana Khas Malangan yang Perlu Diketahui

Senin, 6 Apr 2026
Pertunjukan di rumah kelahiran Shakespeare. Foto: Shakespeare's Birthplace
Budaya

Sastrawan di Inggris, Menyusuri Jejak Sastra Klasik di Negeri Matahari Tak Pernah Tenggelam

Selasa, 31 Mar 2026
Next Post
Ilustrasi Alun-Alun Kota Batu yang menjadi ikon wisatanya. Namun, angka kemiskinan di sana masih belum sepenuhnya terentaskan. Hingga 2022, masih ada tercatat 8.063 jiwa.

Kota Wisata Tapi Angka Kemiskinan Capai 8 Ribu Jiwa Lebih di Kota Batu

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • DPRD Kota Malang Siapkan Perda Penyakit Menular untuk Tangani HIV/AIDS

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.