Pasuruan, Tugumalang.id- CEO Tugu Media Group, Irham Thoriq, memberikan pelatihan jurnalistik yang diselenggakan HMSPAI Universitas Nahdlatul Ulama Pasuruan, yang digelar di aula UNU Pasuruan, pada Jumat (31/1/2025).
Pada kesempatan itu Irham Thoriq menyampaikan, generasi Emas 2045 adalah gambaran ideal generasi muda yang didengungkan pemerintah. Namun tidak mudah untuk merealisasikannya, banyak tantangan yang harus dihadapi, salah satunya adalah tantangan atas dampak negatif media sosial yang sudah mencengkeram generasi muda, seperti judi online, prostitusi online dan beragam permasalahan kenakalan remaja lainnya.
”Memang idealnya pemanfaatan media sosial harus linier dengan kualitas, produktivitas, dan inovasi yang tinggi. Namun pada kenyataannya berbanding terbalik, tidak sedikit yang salah dalam memanfaatkan media sosial,” katanya.

Baca Juga: Pelatihan Jurnalistik Bersama Pondok Inspirasi, CEO Tugu Media Group : Siapapun Bisa Berpotensi Jadi Jurnalis
Menurut Thoriq, generasi emas adalah dia yang konsisten melakukan hal baik setiap hari, dan itu dilakukan terus menerus sehingga menjadi kebiasaan, dengan seperti itu setiap orang bisa berkembang mencapai potensi terbaiknya.
”Salah satu pilihan linier yang realistis untuk memaksimalkan fungsi media sosial adalah memperkuat literasi. Lebih detail. Pilihan menjadi jurnalis adalah salah satu pintu yang tepat untuk mengembangkan potensi diri. Jika anda ingin mengambil bagian menjadi agen perubah peradaban, maka profesi jurnalis bisa menjadi salah satu pilihan yang tepat,” jelasnya di hadapan ratusan peserta pelatihan jurnalistik.
Lebih lanjut, Ia menjelaskan bahwa pers adalah instrumen paling baik dalam pencerahan dan peningkatan kualitas manusia sebagai makhluk rasional, moral, dan sosial.
Ada latar belakang yang kuat kenapa Thoriq perlu menyampaikan materi ini kepada peserta. Salah satunya adalah fakta atas hasil investigasi ‘kopi cetol’ di wilayah Gondanglegi, Kabupaten Malang yang sudah publish Tugu Jatim Media Group beberapa waktu lalu.
Baca Juga: Gandeng Tugu Media, DPRD Jatim Realisasikan Program Sinergitas Pemberdayaan SDM di Malang
Dalam penjelasannya, keberadaan warung kopi yang menyediakan layanan plus-plusnya itu berhasil ditutup, sehingga berdampak positif kepada masyarakat sekitar yang sudah lama memendam kecemasan atas keberadaan warung kopi cetol.
“Alhamdulillah berkat investigasi kami, warkopnya sudah ditutup, nah ini adalah bukti konkret kami sebagai media yang mampu memberikan perubahan positif”, imbuhnya.
Dalam kesempatan tersebut, Thoriq menyebut bahwa semua yang mengikuti kegiatan ini adalah orang yang punya privilege. “Kita punya hak istimewa, karena bisa kuliah. Di Indonesia, tidak lebih dari 7 persen, yang bisa kuliah,” kata Thoriq.
Previlage itu harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Dia meminta peserta untuk tidak banyak mengeluh. “Mulailah berjejaring dari sekarang, karena Anda ada di komunitas besar yakni Nahdlatul Ulama’ (NU). Dengan kuliah di UNU, Anda bisa berkenalan dengan mahasiswa dan dosen NU lain, di seluruh indonesia. Manfaatkan privilege itu,” imbuhnya.
Dia juga juga mengutip kutipan dari salah seorang Wakil Menteri yakni Prof Stella Christie. Dia mengatakan bahwa Harvard University mewajibkan semua mahasiswa mengambil kelas menulis, agar bisa berpikir runtut, punya critical thinking, serta menulis bisa jadi relaksasi di tengah padatnya aktivitas.”Syaratnya cuma dua untuk bisa menulis dengan baik, yakni memulai serta konsisten menulis, dan terakhir perbanyak membaca, Anda bisa rutin menulis meski Anda bukan jurnalis,” katanya.
Baca Juga: Dekan Psikologi UIN Malang Apresiasi Positif Seminar Autism yang Digelar PSLC Bersama Tugu Media Group
Sementara itu, Rully Novianto sebagai penanggung jawab tim liputan khusus kopi cetol tugumalang.id menjelaskan secara detail kepada peserta, bahwa Tugu Media Group sudah melakukan riset dan observasi selama 7 hari.
Ada fakta yang menarik, bahwa data awal yang digunakan untuk investigasi adalah postingan salah satu pengunjung yang sudah terpublish di platform Tik Tok. Sekilas tidak ada yang mencolok, namun setelah tim terjun ke lokasi, ditemukan fakta bahwa sebagian besar pramusajinya wanita berusia di bawah umur, tidak terkecuali pengunjungnya sebagian besar berstatus pelajar.
“Kami bertanggungjawab untuk memberikan fakta kepada masyarakat, sehingga kami putuskan untuk memberikan penekanan berita atas praktik traficking dan Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO),” jelas Rully.
Karena berita investigasi tersebut, sekarang sudah tidak ada kopi cetol di Pasar Gondanglegi yang cenderung merusak generasi bangsa, juga beberapa pemilik kopi cetol sudah ditetapkan tersangka oleh Polres Malang.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : Rully Novianto
redaktur: jatmiko





























