Malang, Tugumalang.id – Di era media sosial yang semakin masif, status seseorang kerap diukur dari jumlah pengikut atau like di platform digital. Akibatnya, pertanyaan tentang self-worth atau nilai diri menjadi semakin sulit dijawab. Banyak orang tanpa sadar membiarkan algoritma menentukan seberapa berharga diri mereka hari ini.
Dalam sesi TEDx di Grand Canyon University, Dr. Lisa Strohman, psikolog klinis sekaligus pakar kesehatan mental yang pernah bekerja untuk FBI, menyampaikan pesan penting mengenai self-worth. Ia mengajak publik untuk berhenti mencari validasi melalui simbol-simbol digital seperti follower, like, dan komentar.
Jebakan Algoritma yang Manipulatif
Dr. Lisa menyoroti bagaimana platform digital menciptakan solusi semu untuk menilai value atau nilai seseorang melalui angka-angka di layar. Dalam paparannya, ia menjelaskan:
“What they’ve done is they’ve built a mysterious and complex algorithm that allows perfect strangers to define your self-worth through likes and follows.”
Artinya, algoritma yang rumit itu memungkinkan orang asing menentukan nilai diri seseorang hanya lewat jumlah suka dan pengikut.
Data yang ia sampaikan menunjukkan rata-rata orang menghabiskan dua setengah jam setiap hari untuk mengecek media sosial. Waktu tersebut setara dengan satu hari penuh dalam sepekan dan kerap habis hanya untuk membandingkan diri dengan standar yang tidak realistis.
Belajar dari Tragedi Molly Russell
Dr. Lisa juga mengangkat kisah pilu Molly Russell sebagai contoh bahaya ketika self-worth bergantung pada penilaian eksternal atau digital. Remaja berusia 14 tahun itu meninggal dunia setelah terjebak dalam konten negatif yang terus didorong algoritma.
Ia mengingatkan bahwa media sosial dapat menjadi ruang yang berbahaya bagi kesehatan mental, terutama bagi anak muda yang masih mencari jati diri.
Dr. Lisa menegaskan:
“Social media actually trains us to depend on external validation for our self-worth through these likes and comments instead of on who we are as people.”
Menurutnya, media sosial melatih manusia untuk bergantung pada pengakuan orang lain melalui like dan komentar, bukan pada siapa diri mereka sebenarnya.
Self-Worth adalah Tentang Siapa Kita
Dr. Lisa bukan sosok sembarangan. Di balik gelar Ph.D dan pengalamannya menangani kejahatan siber, ia juga seorang penyintas yang tumbuh dalam kondisi sulit. Pengalaman hidup itulah yang membawanya pada kesimpulan bahwa self-worth adalah tentang eksistensi sebagai manusia, bukan tentang persaingan global di internet.
Ia mengajak audiens mengambil kembali kendali atas nilai diri mereka sendiri.
“Tentukan nilai dirimu melalui cara kamu menjalani hidup. Percayalah pada dirimu sendiri dan jadilah dirimu yang sesungguhnya di dunia ini. Kamu tidak memerlukan algoritma atau sekumpulan like untuk meyakinkanmu sebaliknya,” ujarnya.
Di tengah miliaran pengguna media sosial dan arus data yang bergerak tanpa henti setiap hari, memang tidak mudah merasa spesial. Namun, Dr. Lisa menegaskan bahwa kebebasan sejati lahir ketika seseorang berhenti menghitung validasi dari layar ponsel.
Di akhir pidatonya, ia menutup dengan pesan hangat bagi siapa pun yang masih merasa rendah diri.
“And when you actually stop counting all the likes and you’re able to be fully free from that following, you will find your value and your self-worth. And whoever you are, I promise you, you are enough.”
Artinya, ketika seseorang berhenti menghitung semua like dan melepaskan diri dari kebutuhan akan pengakuan, ia akan menemukan nilai dirinya sendiri. Siapa pun dirinya, ia sudah cukup.
Melalui pidatonya, Dr. Lisa mengajak semua orang memutus rantai ketergantungan pada penilaian digital. Sebab pada akhirnya, pengakuan paling penting bukan datang dari tanda centang di media sosial, melainkan dari kedamaian dan penerimaan di dalam diri sendiri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Isyatur Rodhiyah/Magang
redaktur: jatmiko


















