MALANG, Tugumalang.id – Sekitar 10 kilometer di sebelah utara Kota Malang, sebuah peninggalan Kerajaan Singhasari berdiri dengan megah. Peninggalan yang dikenal dengan nama Candi Singosari ini merupakan tempat pendarmaan abu jenazah Raja Kertanegara, penguasa terakhir Kerajaan Singhasari.
Sayangnya, pemugaran Candi Singosari yang dilakukan oleh Pemerintah Belanda di tahun 1934-1936 ini terhenti karena sesuatu hal. Tak ada yang mengetahui pasti alasan berhentinya pemugaran peninggalan sejarah yang berada di Desa Candirenggo, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang ini.
Bangunan Candi Singosari terdiri dari empat bagian, yaitu batur atau latar candi, kaki candi, badan candi, dan puncak candi. Bagian puncak candi terlihat masih belum tersusun dengan baik. Sementara itu, di bagian utara candi terdapat terdapat batu-batu candi yang ditumpuk begitu saja.
Juru Pelihara Candi Singosari, Damanhuri membenarkan, pemugaran candi tidak selesai. Ia menduga ada dua kemungkinan penyebab berhentinya pemugaran ini, yaitu batu candi masih kurang atau adanya serangan Jepang pada masa Perang Dunia II.
Baca Juga: Becek Saat Musim Hujan, Jalan Setapak di Candi Singosari Butuh Dipaving
“Memang renovasi yang dilakukan orang Belanda masih belum selesai,” kata Damanhuri saat ditemui Tugu Malang ID beberapa waktu lalu.
Candi Singosari dibangun pada masa pemerintahan Raja Kertanegara, yaitu antara tahun 1268 hingga 1292. Di masa kepemimpinan Raja Kertanegara, Kerajaan Singhasari mencapai puncak kejayaannya. Keturunan Ken Arok ini berhasil memperluas wilayah kekuasaannya hingga luar Pulau Jawa.

Sebelum Gajah Mada, Kertanegara merupakan sosok yang berambisi untuk menaklukkan seluruh wilayah Nusantara. Namanya diabadikan menjadi jalan di sisi Candi Singosari.
Meski baru dipugar pada tahun 1934, Candi Singosari sudah ditemukan oleh Gubernur Pantai Timur Laut Jawa berkebangsaan Belanda, Nicolaus Engelhard pada tahun 1803. Ia kemudian menjarah arca-arca yang masih baik kondisinya dan membawanya ke Belanda.
Baca Juga: Asal-usul Nama Candi Sumberawan di Singosari
Damanhuri menyebut sebanyak empat arca di area Candi Singosari yang dibawa ke Belanda, yaitu arca Mahakala, Dewi Durga Mahisasuramardini, Ganesha, dan arca Nandiswara. Lingga yang ada di dalam candi juga ikut dijarah.
Selama 200 tahun, keempat arca tersebut disimpan di Negeri Kincir Angin. Baru pada tahun 2023, arca-arca tersebut dikembalikan ke Indonesia. Saat ini, keempat arca di atas disimpan di Museum Nasional Indonesia.
“Awalnya arca-arca itu mau dikembalikan ke sini (Candi Singosari), tapi saya nggak berkenan karena keamanannya kurang dan perawatannya sulit. Akhirnya, arca-arca tersebut disimpan di Museum Nasional,” ujar Damanhuri saat ditemui Tugu Malang ID, beberapa waktu lalu.
Lebih lanjut, ia menjelaskan, arca-arca tersebut awalnya berada di ruang-ruang atau relung yang ada di Candi Singosari. Masing-masing arca berada di ruangan yang berbeda. Selain itu, ada dua relung lagi yang masing-masing berisi lingga yoni dan arca Resi Agastya.
“Di ruang pertama ditemukan yoni dan lingga, simbol dari Dewa Siwa. Namun, lingga tersebut kini disimpan di Belanda,” kata Damanhuri.

Ruang pertama ini merupakan ruang utama yang disebut dengan Garbhagraha. Ruangan tersebut merupakan tempat untuk upacara keagamaan Hindu dan Buddha Tantrayana, serta tempat pendarmaan abu jenazah Raja Kartanegara.
Pada candi ini terdapat delapan relief, termasuk relief Muka Kala yang terletak di bagian atas dan bawah candi. Muka Kala ini memiliki fungsi sebagai pelindung, yang di masa lalu dipercaya dapat menolak bala dan gangguan dari luar.
Meski sudah berusia lebih dari tujuh abad, Candi Singosari masih memiliki fungsi keagamaan hingga saat ini. Menurut Damanhuri, setiap tahun diadakan upacara keagamaan di candi ini, baik yang dilaksanakan setiap tahun maupun lima tahunan.
“Setiap tahun di sini digelar doa bersama,” sebut Damanhuri.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: Aisyah Nawangsari Putri
redaktur: jatmiko





























