MALANG, Tugumalang.id – Setiap tanggal 20 Mei, bangsa Indonesia memperingati sebuah momen krusial yang menjadi titik balik perjuangan kemerdekaan bangsa.
Jauh sebelum pekik “Merdeka!” menggema di tahun 1945, kesadaran sebagai satu bangsa yang utuh lahir dari sebuah gerakan pemuda yang visioner. Peringatan Hari Kebangkitan Nasional bukan sekadar rutinitas upacara bendera atau pemajangan ucapan selamat di media sosial.
Lebih dari itu, momen ini menandai pergeseran radikal dalam taktik perjuangan para pendahulu, dari yang tadinya bersifat kedaerahan dan mengandalkan kekuatan fisik, berubah menjadi perjuangan modern yang terorganisasi, berbasis pendidikan, dan bersifat nasional.
Baca Juga: Pemkot Batu Peringati Hari Kebangkitan Nasional 2021 Secara Virtual
Menyelami kembali sejarah kebangkitan nasional akan membuka mata kita bahwa kemerdekaan Indonesia tidak didapatkan secara instan, melainkan dirajut dengan intelektualitas, diplomasi, dan keberanian para pemuda era 1900-an yang berani bermimpi melampaui batas sekat suku dan kasta.
Untuk lebih mengapresiasi warisan sejarah bangsa, berikut ini fakta menarik Hari Kebangkitan Nasional yang wajib diketahui.
Fakta Menarik Hari Kebangkitan Nasional
1. Boedi Oetomo Bukan Organisasi Politik, Melainkan Sosio-Kultural
Meskipun dianggap sebagai motor penggerak fajar kemerdekaan, pada awal berdirinya tanggal 20 Mei 1908, Boedi Oetomo sama sekali tidak bergerak di bidang politik.
Baca Juga: Presiden Prabowo di Hari Guru Nasional 2025 Soroti Pendidikan hingga Pemberantasan Korupsi
Organisasi yang didirikan oleh Soetomo dan para mahasiswa STOVIA ini fokus pada bidang pendidikan, pengajaran, dan kebudayaan. Fokus utamanya saat itu adalah memberikan beasiswa bagi pribumi yang cerdas namun tidak mampu.
2. Sosok Penggerak di Balik Layar: dr. Wahidin Soedirohoesodo
Jika Soetomo adalah pendiri Boedi Oetomo, maka dr. Wahidin Soedirohoesodo adalah pemantik idenya.
Ia dikenal sebagai dokter sekaligus intelektual yang berkeliling Pulau Jawa untuk mengkampanyekan pentingnya pendidikan dan dana pelajar (studiefonds).
Kunjungan dr. Wahidin ke STOVIA pada akhir 1907 inilah yang membakar semangat Soetomo dan rekan-rekannya untuk mendirikan organisasi formal.
3. Penetapan Hari Kebangkitan Nasional Terjadi Saat Kondisi Negara Genting
Mengapa tanggal 20 Mei baru ditetapkan sebagai Hari Kebangkitan Nasional pada tahun 1948? Saat itu, Indonesia yang baru merdeka sedang menghadapi agresi militer Belanda dan perpecahan politik dalam negeri.
Presiden Soekarno membutuhkan sebuah simbol persatuan yang kuat untuk merekatkan kembali seluruh elemen bangsa. Ia kemudian menunjuk Ki Hajar Dewantara untuk memimpin peringatan ini sebagai pemersatu bangsa.
4. Sempat Memicu Perdebatan di Kalangan Sejarawan
Penetapan Boedi Oetomo sebagai pionir Kebangkitan Nasional sempat memicu diskusi hangat di kalangan sejarawan. Beberapa pihak menilai Serikat Islam (SI) atau Indische Partij (IP) lebih layak disebut pionir karena sifat keanggotaannya yang lebih massal dan berani secara politik, sementara Boedi Oetomo pada awalnya cenderung elitis (terbatas pada kaum priayi Jawa dan Madura).
Namun, pemerintah tetap memilih Boedi Oetomo karena organisasi ini yang pertama kali menerapkan manajemen organisasi modern.
5. STOVIA: Tempat Lahirnya Para Dokter Bangsa
Semua pergerakan ini bermula dari sebuah sekolah kedokteran Jawa bernama STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen) di Batavia (sekarang Jakarta).
Di sekolah inilah para pemuda dari berbagai daerah bertemu, berdiskusi tentang nasib rakyat yang tertindas, hingga akhirnya sepakat bahwa pendidikan adalah satu-satunya kunci untuk bangkit dari penjajahan. Kini, gedung STOVIA difungsikan sebagai Museum Kebangkitan Nasional.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A
























