Selasa, September 1, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Entertainment

Bincang Sinema ‘Alternatif Berduka’: Ruang Refleksi Kehilangan Melalui Film Pendek

Redaksi by Redaksi
Oktober 25, 2025 3:00 pm
in Entertainment
Bincang Sinema bersama sutradara dan produser Shaggil Mahara dari ISI Yogyakarta di Auditorium Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025) (Foto: Nur Laila Khoriroh/Magang)

Bincang Sinema bersama sutradara dan produser Shaggil Mahara dari ISI Yogyakarta di Auditorium Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025) (Foto: Nur Laila Khoriroh/Magang)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Komunitas Film dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM), Cakra Sinema menggelar acara Bincang Sinema dengan tema “Alternatif Berduka” di Auditorium Lantai 3 UPT Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025).

Acara ini berkolaborasi dengan Javania Creative Noesantara dan BMM Cinema untuk menayangkan dua film pendek yang berjudul A Pain Thing: Gemurat dalam Senyap (2025) dan Facticity (2023).

READ ALSO

Empat Film Tahun 2000-an yang Masih Seru Ditonton Sampai Sekarang

4 Rekomendasi Film yang Mengangkat Isu Sosial dan Kesenjangan Sosial

Melalui acara Bincang Sinema bertajuk “Alternatif Berduka” ini, para penikmat film diajak untuk menelusuri bagaimana medium sinema dapat menjadi ruang refleksi sekaligus penyembuhan ketika merasa kehilangan.

Baca Juga: Film Indonesia Diprediksi Tembus 90 Juta Penonton di 2025, Industri Perfilman Nasional Kian Bergairah

Forum ini menghadirkan Shaggil Mahara dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang berbagi pandangan dengan peserta tentang bagaimana film mampu merekam, memahami, bahkan menenangkan rasa duka yang kerap sulit diungkapkan dengan kata-kata.

A Pain Thing: Gemurat dalam Senyap, Pencarian Jati Diri Seorang Pelukis

A Pain Thing: Gemurat dalam Senyap merupakan film pendek karya Javania Films.id yang disutradarai oleh Shaggil Mahara dan diproduseri oleh Hasan Faizal.

Bincang Sinema bersama sutradara dan produser Shaggil Mahara dari ISI Yogyakarta di Auditorium Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025) (Foto: Nur Laila Khoriroh/Magang)
Foto bersama di acara Bincang Sinema bersama sutradara dan produser Shaggil Mahara dari ISI Yogyakarta di Auditorium Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025) (Foto: dok)

Film ini rilis pada tahun 2025 dengan mengisahkan tokoh Rendra, seorang pelukis yang kesulitan menyelesaikan orderan lukisan keluarga.

Setelah menceritakan masalahnya pada kekasihnya, Putri, akhirnya ia bisa menyelesaikan orderan tersebut beserta masalah keluarga yang sedang ia alami.

Sutradara film ini, Shaggil Mahara mengatakan, ia membuat film ini berdasarkan perasaan seniman yang ingin menuangkan keresahannya.

“A Pain Thing sendiri saya mengambil dari latar belakang seorang seniman yang tidak hanya memiliki masalah keluarga, tapi masalah dengan ceweknya, dengan kliennya,” kata Shaggil.

Pada bincang sinema ini, Shaggil berbagi apa yang ingin ia sampaikan melalui A Paint Thing: Gemurat dalam Senyap. Ia mengatakan, film ini bercerita tentang penerimaan jati diri seorang seniman.

Baca Juga: Deretan Film Hollywood Paling Dinantikan Oktober 2025

“Di A Paint Thing saya membahas penerimaan jati diri seorang seniman yang tidak diakui oleh orang tuanya, ternyata dia dapat orderan lukisan yang menyinggung perasaannya, sehingga sulit mengerjakan orderan itu,” tutur Shaggil.

Di samping itu, Shaggil mengutarakan tujuannya agar penonton bertanya-tanya dengan genre fiksi absurdnya.

“Saya membuat film A Pain Thing itu ingin membuat penonton bertanya. Saya ingin membuat film ini terlihat bingung, membuat film fiksi tapi absurd, yang berbeda awal cerita dengan endingnya,” ujar Shaggil.

Facticity, Rasa Kehilangan Seorang Ayah karena Putrinya Telah Tiada

Facticity dirilis pada tahun 2023 oleh Javania Film.Id berkolaborasi dengan Rupa Rupa Films. Film ini disutradarai oleh Iqbal Keane Kembaren dan diproduseri oleh Shaggil Mahara.

Facticity menampilkan pertemuan seorang fotografer dengan seorang gadis di tepian sungai. Obrolan mereka hari itu menjadi ajang kontemplasi dan pelepasan dari kejadian di masa lalu.

Produser Facticity, Shaggil menjelaskan lebih lanjut bahwa film ini bercerita tentang seorang bapak yang kehilangan anaknya.

“Facticity itu menceritakan tentang kehilangan. Memperlihatkan seorang bapak yang bercerita dengan bayangan anaknya di pinggir sungai, ia membayangkan jika anaknya masih hidup,” tutur Shaggil.

Di samping itu, Shaggil juga membagikan pesan yang ingin disampaikan melalui film ini tentang kesedihan seorang bapak.

“Kalau kemarin discuss dengan triangle system saya, biasanya curhat tuh seorang ibu, tetapi di sini tokoh utamanya bapak. Kami ingin mengungkapkan kalau kita merasa sedih tidak hanya ibunya,” tutur Shaggil.

Hebatnya, film ini hanya dibuat selama satu hari dengan budget Rp 1 juta. Di samping itu, Shaggil mengatakan, Facticity diselesaikan dengan shooting hanya 1 hari.

“Facticity itu habis budget cuma sejuta. Shooting dari jam 8 sampe 5 sore karena ngejar matahari, nggak pake lighting karena nggak kuat nyewa,” ujar Shaggil.

Namun, dengan keterbatasan tersebut, Facticity bisa menjadi film pendek yang telah mendunia. Shaggil mengatakan, penayangan film Facticity sudah sampai Spanyol dan Perancis.

“Terakhir Facticity ditampilkan di Barcelona, Spanyol dan Perancis,” kata Shaggil.

Pesan dan Kesan untuk “A Pain Thing: Gemurat dalam Senyap” dan “Facticity”

Melalui Bincang Sinema ini, Shaggil menyampaikan pesan agar kita semua terus berkarya. Ia juga mengatakan, kita tidak boleh gegabah dalam membuat film, harus menyesuaikan kemampuan masing-masing.

“Ayo kita buat sebuah film yang bagus, karya yang ditampilkan dimana pun, tapi jangan lupa buatlah film sesuai kemampuan masing-masing,” kata Shaggil.

Dalam bincang sinema ini, peserta juga menyampaikan pendapatnya terkait kedua film yang sangat menarik. Salah satunya mahasiswa Universitas Brawijaya, Eka mengatakan, ia kaget dengan konsep mindblowing yang ada pada film Facticity.

“Aku kaget sama film Facticity, karena konsepnya mind-blowing buat aku. Terus juga walaupun produksinya sederhana tapi pesannya bisa nyampe ke aku,” kata Eka.

Selain itu, peserta lain menyambut dengan baik adanya dua film ini. Mahasiswa Universitas Negeri Malang, Ghea mengatakan, ia senang dapat melihat kedua karya yang fresh banget saat ini.

“Seneng banget melihat karya yang fresh, terutama Facticity aku suka banget. Kalau untuk A Paint Thing itu masih multitafsir ya, jadi aku harus cari banyak pengetahuan lagi buat mencerna filmnya,” kata Ghea.

 

Penulis: Nur Laila Khoriroh/Magang

Editor: Herlianto. A

Tags: Bincang sinemaCakra sinemaFilm PendekUM

Related Posts

4 Film Tahun 2000-an yang Masih Seru Ditonton Sampai Sekarang
Entertainment

Empat Film Tahun 2000-an yang Masih Seru Ditonton Sampai Sekarang

Senin, 31 Agu 2026
4 Rekomendasi Film yang Mengangkat Isu Sosial dan Kesenjangan Sosial
Entertainment

4 Rekomendasi Film yang Mengangkat Isu Sosial dan Kesenjangan Sosial

Minggu, 30 Agu 2026
4 Film dengan Ending yang Masih Bikin Penonton Berdebat
Entertainment

4 Film dengan Ending yang Masih Bikin Penonton Berdebat

Sabtu, 29 Agu 2026
4 Film untuk Menemukan Kembali Arah dan Makna Hidup
Entertainment

4 Film untuk Menemukan Kembali Arah dan Makna Hidup

Kamis, 27 Agu 2026
5 Film Terinspirasi dari Kisah Nyata yang Menyentuh Hati dan Sarat Makna Kehidupan
Entertainment

5 Film Terinspirasi dari Kisah Nyata yang Menyentuh Hati dan Sarat Makna Kehidupan

Senin, 6 Jul 2026
Rekomendasi 5 Drama Korea Bertema Hukum, Kisah Jaksa hingga Hakim
Entertainment

Rekomendasi 5 Drama Korea Bertema Hukum, Kisah Jaksa hingga Hakim

Minggu, 5 Jul 2026
Next Post
Kepala Kanwil DJBC Jatim Agus Sudarmadi saat menunjukkan koleksi pribadi keris dan pusakanya. Foto: Azmy

Cara Kanwil DJBC Jatim II Lestarikan Budaya Nusantara Lewat Pameran Keris dan Pusaka

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.