Sabtu, Juli 18, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Entertainment

Bincang Sinema ‘Alternatif Berduka’: Ruang Refleksi Kehilangan Melalui Film Pendek

Redaksi by Redaksi
Oktober 25, 2025 3:00 pm
in Entertainment
Bincang Sinema bersama sutradara dan produser Shaggil Mahara dari ISI Yogyakarta di Auditorium Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025) (Foto: Nur Laila Khoriroh/Magang)

Bincang Sinema bersama sutradara dan produser Shaggil Mahara dari ISI Yogyakarta di Auditorium Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025) (Foto: Nur Laila Khoriroh/Magang)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Komunitas Film dari Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Negeri Malang (UM), Cakra Sinema menggelar acara Bincang Sinema dengan tema “Alternatif Berduka” di Auditorium Lantai 3 UPT Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025).

Acara ini berkolaborasi dengan Javania Creative Noesantara dan BMM Cinema untuk menayangkan dua film pendek yang berjudul A Pain Thing: Gemurat dalam Senyap (2025) dan Facticity (2023).

READ ALSO

5 Film Terinspirasi dari Kisah Nyata yang Menyentuh Hati dan Sarat Makna Kehidupan

Rekomendasi 5 Drama Korea Bertema Hukum, Kisah Jaksa hingga Hakim

Melalui acara Bincang Sinema bertajuk “Alternatif Berduka” ini, para penikmat film diajak untuk menelusuri bagaimana medium sinema dapat menjadi ruang refleksi sekaligus penyembuhan ketika merasa kehilangan.

Baca Juga: Film Indonesia Diprediksi Tembus 90 Juta Penonton di 2025, Industri Perfilman Nasional Kian Bergairah

Forum ini menghadirkan Shaggil Mahara dari Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta yang berbagi pandangan dengan peserta tentang bagaimana film mampu merekam, memahami, bahkan menenangkan rasa duka yang kerap sulit diungkapkan dengan kata-kata.

A Pain Thing: Gemurat dalam Senyap, Pencarian Jati Diri Seorang Pelukis

A Pain Thing: Gemurat dalam Senyap merupakan film pendek karya Javania Films.id yang disutradarai oleh Shaggil Mahara dan diproduseri oleh Hasan Faizal.

Bincang Sinema bersama sutradara dan produser Shaggil Mahara dari ISI Yogyakarta di Auditorium Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025) (Foto: Nur Laila Khoriroh/Magang)
Foto bersama di acara Bincang Sinema bersama sutradara dan produser Shaggil Mahara dari ISI Yogyakarta di Auditorium Perpustakaan UM pada Jumat (24/10/2025) (Foto: dok)

Film ini rilis pada tahun 2025 dengan mengisahkan tokoh Rendra, seorang pelukis yang kesulitan menyelesaikan orderan lukisan keluarga.

Setelah menceritakan masalahnya pada kekasihnya, Putri, akhirnya ia bisa menyelesaikan orderan tersebut beserta masalah keluarga yang sedang ia alami.

Sutradara film ini, Shaggil Mahara mengatakan, ia membuat film ini berdasarkan perasaan seniman yang ingin menuangkan keresahannya.

“A Pain Thing sendiri saya mengambil dari latar belakang seorang seniman yang tidak hanya memiliki masalah keluarga, tapi masalah dengan ceweknya, dengan kliennya,” kata Shaggil.

Pada bincang sinema ini, Shaggil berbagi apa yang ingin ia sampaikan melalui A Paint Thing: Gemurat dalam Senyap. Ia mengatakan, film ini bercerita tentang penerimaan jati diri seorang seniman.

Baca Juga: Deretan Film Hollywood Paling Dinantikan Oktober 2025

“Di A Paint Thing saya membahas penerimaan jati diri seorang seniman yang tidak diakui oleh orang tuanya, ternyata dia dapat orderan lukisan yang menyinggung perasaannya, sehingga sulit mengerjakan orderan itu,” tutur Shaggil.

Di samping itu, Shaggil mengutarakan tujuannya agar penonton bertanya-tanya dengan genre fiksi absurdnya.

“Saya membuat film A Pain Thing itu ingin membuat penonton bertanya. Saya ingin membuat film ini terlihat bingung, membuat film fiksi tapi absurd, yang berbeda awal cerita dengan endingnya,” ujar Shaggil.

Facticity, Rasa Kehilangan Seorang Ayah karena Putrinya Telah Tiada

Facticity dirilis pada tahun 2023 oleh Javania Film.Id berkolaborasi dengan Rupa Rupa Films. Film ini disutradarai oleh Iqbal Keane Kembaren dan diproduseri oleh Shaggil Mahara.

Facticity menampilkan pertemuan seorang fotografer dengan seorang gadis di tepian sungai. Obrolan mereka hari itu menjadi ajang kontemplasi dan pelepasan dari kejadian di masa lalu.

Produser Facticity, Shaggil menjelaskan lebih lanjut bahwa film ini bercerita tentang seorang bapak yang kehilangan anaknya.

“Facticity itu menceritakan tentang kehilangan. Memperlihatkan seorang bapak yang bercerita dengan bayangan anaknya di pinggir sungai, ia membayangkan jika anaknya masih hidup,” tutur Shaggil.

Di samping itu, Shaggil juga membagikan pesan yang ingin disampaikan melalui film ini tentang kesedihan seorang bapak.

“Kalau kemarin discuss dengan triangle system saya, biasanya curhat tuh seorang ibu, tetapi di sini tokoh utamanya bapak. Kami ingin mengungkapkan kalau kita merasa sedih tidak hanya ibunya,” tutur Shaggil.

Hebatnya, film ini hanya dibuat selama satu hari dengan budget Rp 1 juta. Di samping itu, Shaggil mengatakan, Facticity diselesaikan dengan shooting hanya 1 hari.

“Facticity itu habis budget cuma sejuta. Shooting dari jam 8 sampe 5 sore karena ngejar matahari, nggak pake lighting karena nggak kuat nyewa,” ujar Shaggil.

Namun, dengan keterbatasan tersebut, Facticity bisa menjadi film pendek yang telah mendunia. Shaggil mengatakan, penayangan film Facticity sudah sampai Spanyol dan Perancis.

“Terakhir Facticity ditampilkan di Barcelona, Spanyol dan Perancis,” kata Shaggil.

Pesan dan Kesan untuk “A Pain Thing: Gemurat dalam Senyap” dan “Facticity”

Melalui Bincang Sinema ini, Shaggil menyampaikan pesan agar kita semua terus berkarya. Ia juga mengatakan, kita tidak boleh gegabah dalam membuat film, harus menyesuaikan kemampuan masing-masing.

“Ayo kita buat sebuah film yang bagus, karya yang ditampilkan dimana pun, tapi jangan lupa buatlah film sesuai kemampuan masing-masing,” kata Shaggil.

Dalam bincang sinema ini, peserta juga menyampaikan pendapatnya terkait kedua film yang sangat menarik. Salah satunya mahasiswa Universitas Brawijaya, Eka mengatakan, ia kaget dengan konsep mindblowing yang ada pada film Facticity.

“Aku kaget sama film Facticity, karena konsepnya mind-blowing buat aku. Terus juga walaupun produksinya sederhana tapi pesannya bisa nyampe ke aku,” kata Eka.

Selain itu, peserta lain menyambut dengan baik adanya dua film ini. Mahasiswa Universitas Negeri Malang, Ghea mengatakan, ia senang dapat melihat kedua karya yang fresh banget saat ini.

“Seneng banget melihat karya yang fresh, terutama Facticity aku suka banget. Kalau untuk A Paint Thing itu masih multitafsir ya, jadi aku harus cari banyak pengetahuan lagi buat mencerna filmnya,” kata Ghea.

 

Penulis: Nur Laila Khoriroh/Magang

Editor: Herlianto. A

Tags: Bincang sinemaCakra sinemaFilm PendekUM

Related Posts

5 Film Terinspirasi dari Kisah Nyata yang Menyentuh Hati dan Sarat Makna Kehidupan
Entertainment

5 Film Terinspirasi dari Kisah Nyata yang Menyentuh Hati dan Sarat Makna Kehidupan

Senin, 6 Jul 2026
Rekomendasi 5 Drama Korea Bertema Hukum, Kisah Jaksa hingga Hakim
Entertainment

Rekomendasi 5 Drama Korea Bertema Hukum, Kisah Jaksa hingga Hakim

Minggu, 5 Jul 2026
Film Tayang Juli 2026
Entertainment

5 Film Tayang Juli 2026, Pilihan Seru Temani Libur Sekolah

Minggu, 28 Jun 2026
Drama korea
Entertainment

5 Drama Korea Komedi Romantis di Netflix yang Dijamin Bikin Ngakak

Rabu, 3 Jun 2026
Katniss Everdeen, tokoh utama film Hunger Games, sala satu film petualangan remaja. Foto: Lionsgate
Entertainment

Diadaptasi dari Novel, Ini 4 Film Petualangan Remaja di Dunia Distopia

Jumat, 29 Mei 2026
The Waving's, kuartet unit surf rock eksperimental asal Malang. Foto: Dok.
Entertainment

Ley Sin Voz, Single Baru Penuh Amarah Gelap dari Unit Surf Rock Malang The Waving’s

Rabu, 27 Mei 2026
Next Post
Kepala Kanwil DJBC Jatim Agus Sudarmadi saat menunjukkan koleksi pribadi keris dan pusakanya. Foto: Azmy

Cara Kanwil DJBC Jatim II Lestarikan Budaya Nusantara Lewat Pameran Keris dan Pusaka

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.