Tugumalang.id – Anggota Komisi B DPRD Kota Batu Sujono Djonet merasa tergelitik dengan maraknya narasi bahwa bianglala atau wahana ferris wheel di Alun-alun merupakan ikon dan landmark Kota Batu. Ia mengingatkan pemerintah agar tidak salah kaprah dalam membangun narasi mengenai identitas kota.
Rencana Pemerintah Kota Batu dalam hal ini Dinas Lingkungan Hidup Kota Batu untuk kembali mengoperasionalkan wahana bianglala kembali digulirkan pada 2026. Sejak rusak pada 2022 lalu, wacana untuk kembali dioperasionalkan wahana ini selalu kandas di tiap tahun karena skala prioritas.
Baca Juga: Wali Kota Batu Pimpin Aksi Pemberantasan Sarang Nyamuk DBD di Kampung-kampung
Dalam hal ini, kata Djonet, bukan berarti dirinya tak sepakat dengan pengaktifan kembali wahana itu. Hanya saja, ia merasa jengah ketika narasinya selalu menyangkut soal bahwa bianglala adalah salah satu identitas Kota Batu.
Ikon Kota Batu Tetap Apel
Djonet, yang memiliki rekam jejak panjang dalam keterlibatannya dalam tim penataan Alun-alun Kota Batu, menegaskan bahwa bianglala bukanlah ikon kota sebagaimana sering digaungkan belakangan ini.
Menurutnya, bianglala hanya wahana permainan pelengkap, bukan wajah utama yang mewakili jiwa Kota Batu.
“Ikon Kota Batu tetap apel dan hasil buminya. Sejak awal, penataan Alun-alun didesain menjadi etalase potensi Kota Batu. Makanya ada simbol apel, jeruk hingga sapi perah di sana. Jadi, saya tegaskan bianglala itu bukan ikon dan bukan identitas,” tegas Djonet, Selasa (17/2/2026).

Jika hal itu dibiarkan terus berlarut, ia khawatir ada pergeseran perspektif yang salah jika bianglala terus dipaksakan sebagai magnet utama.
Djonet merasa perlu untuk kembali meluruskan sejarah penataan Alun-alun agar generasi mendatang tidak kehilangan akar identitas lokalnya.
Terkait wacana pengaktifan kembali bianglala yang selalu muncul setiap tahun, Djonet menyatakan tidak keberatan secara prinsip. Namun, ia menekankan bahwa hal tersebut jangan sampai menjadi prioritas utama seolah-olah denyut nadi Alun-alun hanya bergantung pada wahana tersebut.
Lebih Baik Fokus Revitalisasi Kawasan
Ia justru menyoroti penurunan kualitas Alun-alun sebagai fasilitas publik. Saat ini, kesan Alun-alun sebagai “etalase wajah kota” dianggap nyaris hilang akibat penataan yang kurang rapi.
Baca Juga: Dilema Realisasi Rumah Subsidi MBR di Kota Batu, Lahan Mahal dan Terbatas
Mulai penataan PKL yang belum maksimal, masalah parkir yang carut marut sehingga kesan Alun-alun sebagai ruang publik terkesan ‘rembes’ atau kumuh.
Selain itu, ia juga menambahkan agar Alun-alun yang seharusnya menjadi etalase potensi daerah juga jangan sampai terlihat sebagai hutan kota. Ia menilai saat ini semua ikon potensi daerah tersebut tertutup dengan rindangnya banyak pohon-pohon. ”Ini perlu ditata juga,” ujarnya.
Djonet meminta Pemkot Batu untuk memiliki perspektif yang jelas sebelum melangkah lebih jauh dalam menata Alun-alun. Fokus utama seharusnya adalah mengembalikan fungsi Alun-alun sebagai ruang publik yang nyaman, indah juga mencerminkan kekayaan hasil bumi Batu.
“Sebelum menata, perspektifnya harus jelas dulu. Jangan sampai kita sibuk mengurus bianglala, tapi melupakan kenyamanan warga dan keindahan Alun-alun sebagai ruang terbuka hijau yang menjadi representasi kota wisata,” pungkasnya.
Seperti diketahui, pada 2026 ini DLH kembali ingin mengaktifkan operasional bianglala Alun-alun Kota Batu sebagai ikon dan landmark. Alih-alih mengandalkan APBD, ada skema alternatif lain yang disiapkan yakni skema kerja sama dengan Badan Usaha (KPBU).
Sejauh ini, Pemkot Batu juga telah merampungkan Detail Engineering Design (DED) sebagai pedoman teknis pembangunan ulang bianglala agar memenuhi standar keamanan dan operasional. Penataan kawasan Alun-Alun juga ditargetkan lebih rapi dan nyaman pada 2026.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A
























