Tugumalang.id – Saat ini, teknologi cepat sekali berkembang. Banyak hal di kehidupan masyarakat yang berubah seiring dengan perkembangan teknologi. Termasuk di dalamnya adalah berbisnis.
Pelaku bisnis di jaman sekarang banyak memanfaatkan teknologi, baik untuk produksi maupun untuk promosi.
Selain pemanfaatan teknologi yang tepat, salah satu hal yang harus dimiliki oleh pengusaha masa kini adalah cara berpikir eksponensial. Cara berpikir ini sudah ada sejak dulu. Namun di masa yang serba cepat ini, cara berpikir eksponensial lebih relevan dan penting sekali untuk diimplementasikan.
Linear vs Eksponensial
Sebelum ke cara berpikir dan relevansinya, perlu diketahui apa yang disebut dengan eksponensial.
Dalam ilmu statistik, ada yang dinamakan statistik linear dan statistik eksponensial. Dosen Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia, Prof Rhenald Kasali menerangkan perbedaan keduanya dan kaitannya dengan cara berpikir untuk berbisnis yang relevan saat ini.
“Linear ini berarti garis lurus. Sedangkan eksponensial garisnya tidak lurus, tapi melengkung ke atas dengan tiba-tiba,” terang Rhenald.

Berpikir linear, seperti namanya, berarti berpikir secara sistematis. Orang yang berpikir linear akan mengurutkan setelah A adalah B, baru kemudian C, dan seterusnya.
Sementara cara berpikir eksponensial berarti melakukan sesuatu sedemikian rupa agar setelah fase tertentu ia melejit naik secara tajam.
Lebih lanjut, ia memberi contoh perbedaan bisnis yang dikembangkan dengan cara berpikir linear dan eksponensial.
Misalnya dalam bisnis otomotif, produsen mobil yang berpikir linear akan membuat mobilnya lebih hemat bahan bakar dibandingkan versi sebelumnya. Namun perbedaan itu tidak drastis. Jika sebelumnya satu liter bensin bisa digunakan untuk melaju sepanjang 20 kilometer, maka ia akan membuat mobil versi baru yang mengonsumsi bensin satu liter untuk perjalanan 30 kilometer.
Sedangkan produsen mobil dengan cara berpikir eksponensial akan membuat produk yang lebih radikal. Ia akan menciptakan mobil yang bisa berjalan sepanjang 1.000 kilometer hanya dengan satu liter bensin. Contoh lain bisa dengan menciptakan mobil yang mengonsumsi bahan bakar lain yang lebih murah dan ramah lingkungan.
Contoh-contoh Bisnis yang Menggunakan Cara Berpikir Eksponensial
Cara berpikir eksponensial kebanyakan bisa disaksikan pada bisnis-bisnis berbasis digital, seperti media sosial. TikTok tiba-tiba booming dalam waktu singkat. Berdiri di tahun 2016, saat ini Tiktok telah memiliki lebih dari satu miliar pengguna dari seluruh dunia.
Contoh lainnya adalah alat pembayaran digital yang awalnya diragukan, tiba-tiba kini digunakan di mana-mana. Begitu juga dengan kripto dan lain sebagainya.
Selain bisnis berbasis digital, tentunya cara berpikir ini juga bisa ditemui di bisnis lain yang lebih tradisional seperti kuliner. Dalam satu tahun ada banyak kuliner-kuliner viral yang dalam waktu singkat bisa ditemui di setiap sudut jalan dan di mal-mal. Sebut saja thai tea, boba, croffle, hingga BTS Meal.

Bahkan sebelum adanya media sosial, bisnis dengan pendekatan eksponensial ini sudah ada meskipun tidak sebanyak saat ini. Contohnya seperti tanaman gelombang cinta dan ikan lou han yang harganya kala itu mencapai puluhan juta. Namun orang-orang rela membeli karena penasaran dan ingin mengikuti tren.
“Produk-produk viral ini seperti virus. Dia datang tiba-tiba dan begitu kencang. Sebelumnya sangat lambat dan suatu ketika hilang secara tiba-tiba juga,” ucap Rhenald.
Pentingnya Cara Berpikir Eksponensial untuk Pengusaha Masa Kini
Seorang investor asal Australia yang banyak berinvestasi di start-up, Clarence Tan menyebut bahwa semakin hari pendekatan eksponensial semakin relevan.
“Teknologi bergerak secara eksponensial. Sangat cepat hingga kadang kita kewalahan,” ujarnya, dalam video yang diunggah oleh akun YouTube TEDx Talks. Saat itu, Clarence tengah mengisi seminar TEDxYouth di YCISS Shanghai di tahun 2019.

Iapun menunjukkan diagram yang berisi perbandingan berapa waktu yang dibutuhkan oleh suatu produk untuk memiliki 50 juta pengguna. Di dalam diagramnya terlihat telepon membutuhkan waktu 75 tahun, televisi membutuhkan waktu 13 tahun, sedangkan Twitter membutuhkan waktu hanya sembilan bulan.
Permainan Pokemon Go sudah diakses 50 juta pengguna dalam waktu 19 hari saja. Sementara akun Facebook Chewbacca Mum hanya perlu waktu 24 jam saja untuk meraih 50 juta penonton.
“Ini menunjukkan di masa sekarang Anda bisa meraih 50 juta orang dalam waktu yang sangat cepat,” imbuh Clarence.
Rekor Chewbacca Mum saat ini sudah terpatahkan oleh video-video musik di YouTube yang saat ini bisa meraih 100 juta penonton hanya dalam waktu 24 jam.
Dengan adanya teknologi, kini semua terjadi serba cepat sehingga cara berpikir eksponensial perlu dimiliki agar pebisnis tidak tertinggal dan bisa mengembangkan bisnisnya secara efektif dan efisien.
“Anda harus memiliki cara berpikir eksponensial karena hari ini growth itu harus di-drive secara eksponensial,” kata Rhenald Kasali.
Ia juga menekankan bahwa berpikir eksponensial berarti harus menciptakan sesuatu yang berbeda, bukan sekedar lebih baik.
Reporter: Aisyah Nawangsari
Editor: Lizya Kristanti
—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID ,
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id





























