Malang, Tugumalang.id – Fenomena geologi berskala raksasa tengah berlangsung di Benua Afrika. Kekuatan tektonik yang bekerja jauh di bawah permukaan bumi perlahan memicu proses pemisahan daratan, yang dalam jangka waktu sangat panjang diprediksi akan membelah benua tersebut menjadi dua bagian. Proses alam ini bahkan disebut berpotensi melahirkan samudra baru dalam jutaan tahun mendatang.
Fenomena tersebut berpusat di Sistem Rift Afrika Timur atau East African Rift System (EARS), salah satu zona retakan geologi terbesar di dunia. Jalur retakan ini membentang ribuan kilometer, dari Etiopia di bagian utara hingga Mozambik di kawasan selatan benua.
Proses Pemisahan Lempeng Tektonik Benua Afrika
Proses perombakan besar ini melibatkan pergerakan dua lempeng tektonik utama, yakni Lempeng Nubia yang berukuran lebih besar dan Lempeng Somalia yang relatif lebih kecil. Meski terdengar dramatis, para ahli menegaskan bahwa pemisahan tersebut berlangsung sangat lambat dan telah terjadi sejak sekitar 25 juta tahun lalu.
Baca juga: Lockheed Martin dan NASA Sukses Uji Terbang Perdana X-59, Pesawat Supersonik Senyap Pembuka Era Baru Penerbangan
Berdasarkan hasil studi tahun 2004, kedua lempeng tersebut hanya bergerak saling menjauh beberapa milimeter per tahun. Kecepatan ini bahkan dinilai lebih lambat dibandingkan gerak seekor siput, sehingga perubahan signifikan nyaris tak terasa dalam skala kehidupan manusia.
“Permukaan Bumi berada dalam kondisi fluktuasi yang konstan; hanya saja prosesnya sangat lambat sehingga pengalaman manusia tidak dapat merasakannya,” ungkap peneliti dalam laporan studi tersebut.
Retakan Kenya dan Gambaran Masa Depan Bumi
Perhatian publik sempat tertuju pada fenomena ini ketika sebuah retakan besar muncul secara tiba-tiba di Kenya pada 2018 dan viral di media sosial. Peristiwa tersebut memicu kekhawatiran bahwa Afrika akan terbelah dalam waktu dekat. Namun, para ahli geologi menegaskan bahwa retakan itu bersifat lokal dan merupakan bagian kecil dari proses rift yang telah berlangsung puluhan juta tahun.
Fenomena tersebut bukanlah tanda kehancuran mendadak, melainkan isyarat kecil dari proses geologi kolosal yang terus bekerja di kedalaman bumi. Perubahan besar pada wajah planet ini diperkirakan baru akan terlihat jelas dalam kurun waktu 5 hingga 10 juta tahun ke depan.
Baca juga: PBB Bahas Kecerdasan Buatan di Dewan Keamanan, Dunia Waspadai Risiko dan Manfaat AI
Ketika celah antar lempeng semakin melebar, air laut diprediksi akan masuk dan mengisi lembah retakan. Pada tahap akhir, bagian timur Afrika akan benar-benar terpisah dari daratan utama dan membentuk pulau besar baru di Samudra Hindia.
Peristiwa ini mengingatkan pada sejarah Bumi sekitar 138 juta tahun lalu, saat Afrika dan Amerika Selatan terpisah. Layaknya kepingan puzzle yang dahulu menyatu, Afrika Timur di masa depan akan menjadi bukti terbaru bahwa wajah planet Bumi senantiasa berubah dan tidak pernah benar-benar abadi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























