MALANG, Tugumalang.id – Masalah banjir di Kota Malang masih menjadi momok serius bagi warga sepanjang tahun 2025. Curah hujan ekstrem yang melanda wilayah ini tercatat meningkat hingga lebih dari 300 persen dibandingkan kondisi normal.
Banjir di Kota Malang tidak hanya merendam ratusan titik permukiman dan ruas jalan utama, tetapi juga mengganggu aktivitas harian warga, memicu evakuasi, serta menyebabkan kerugian material yang signifikan.
Fenomena banjir ini kian sering terjadi seiring laju urbanisasi yang pesat. Dengan luas wilayah yang relatif tetap, Kota Malang kini dihuni hingga sekitar 1,5 juta jiwa, termasuk mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi, sehingga tekanan terhadap daya dukung lingkungan semakin meningkat.
Selain faktor alam berupa hujan lebat, penyebab banjir di Malang juga dipengaruhi faktor manusia, seperti sistem drainase yang tersumbat sampah, sedimentasi sungai, serta berkurangnya area resapan air.
Data Kasus Banjir Tahun ke Tahun
Berdasarkan catatan BPBD Kota Malang, tren kejadian banjir di Kota Malang menunjukkan peningkatan dari tahun ke tahun.
Baca juga: Banjir di Kota Malang Dampak Alih Fungsi Lahan dan Saluran Drainase Tertutup
Pada 2024 tercatat 36 kejadian banjir dengan 182 titik terdampak. Sementara sepanjang 2025 hingga awal Desember, jumlahnya meningkat menjadi 45 kejadian dengan 298 titik tergenang. Angka tersebut naik 116 titik atau sekitar 64 persen.
Kepala BPBD Kota Malang, Prayitno, menjelaskan bahwa tingginya kasus banjir pada 2025 dipicu oleh curah hujan yang jauh di atas normal serta keterbatasan daya tampung drainase.
“Jadi curah hujan tidak seperti sebelumnya. Dirilis BMKG, potensi hujan meningkat sampai 40 persen dari biasanya,” ujarnya.
Ia menambahkan, sistem drainase yang selama ini dinilai cukup, tidak mampu menampung debit air hujan dengan intensitas tinggi yang terjadi berulang.
Data historis dari WALHI Jatim juga menunjukkan tren peningkatan banjir di Kota Malang, mulai sekitar 100 kejadian pada 2015, 108 kejadian pada 2016, 192 kejadian pada 2017, 201 kejadian pada 2018, hingga lebih dari 700 kasus kumulatif sejak 2019.
Lonjakan tersebut berkorelasi dengan kenaikan curah hujan rata-rata hingga 40 persen, bahkan mencapai 300 persen pada puncaknya, seperti yang terjadi pada 4 Desember 2025 dengan 39 titik terdampak dan ketinggian air mencapai 1,6 meter.
Penyebab Utama Banjir di Kota Malang
Curah hujan tinggi menjadi pemicu langsung terjadinya banjir. BMKG melaporkan peningkatan curah hujan tahunan hingga 40 persen, dengan lonjakan lokal dari 20 mm menjadi sekitar 60 mm dalam satu periode hujan.
Kondisi tersebut diperparah oleh drainase yang tersumbat sedimentasi dan sampah. Selain itu, alih fungsi lahan dari area terbuka dan persawahan menjadi bangunan permanen meningkatkan koefisien limpasan air, sehingga air hujan langsung mengalir ke permukaan tanpa sempat terserap.
Masalah tata ruang juga berperan besar. Permukiman padat di kawasan seperti Lowokwaru dan Klojen semakin mengurangi kawasan resapan. Di sisi lain, konversi lereng perbukitan menjadi lahan pertanian gagal menahan aliran air, sehingga memicu banjir bandang di sejumlah Daerah Aliran Sungai (DAS).
Pendapat Ahli Soal Banjir di Kota Malang
Dosen Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Malang, Amalia Nur Adibah, menilai banjir berintensitas tinggi yang kerap melanda Kota Malang dipicu oleh maraknya alih fungsi lahan serta penutupan saluran drainase di kawasan permukiman.
Menurutnya, perubahan fungsi lahan menjadi kawasan terbangun membuat air hujan tidak lagi terserap secara optimal dan langsung mengalir ke badan jalan.
Kondisi tersebut tidak hanya memicu genangan, tetapi juga mempercepat kerusakan infrastruktur dan berdampak pada ketahanan bangunan di sekitarnya.
“Situasi ini diperparah oleh saluran drainase yang tertutup oleh bangunan warga. Banyak drainase sengaja ditutup untuk melebarkan rumah, sehingga air tidak punya akses masuk,” jelas Amalia.
Baca juga: Hujan Lebat Picu 16 Titik Banjir di Kota Malang
Solusi Penanganan Banjir di Kota Malang
Untuk mengatasi persoalan banjir yang terus berulang, Pemerintah Kota Malang merencanakan pembangunan sudetan sebagai salah satu solusi pengendalian aliran air.
Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, mengatakan pembangunan sudetan ditargetkan mulai direalisasikan pada 2026. Beberapa wilayah yang masuk dalam rencana tersebut di antaranya kawasan Klojen dan Lowokwaru.
“Tahun depan (2026), sekarang sudah lelang untuk sudetan di sekitar Klojen dan lain-lain, termasuk di Letjen Sutoyo,” ujarnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Bagus Rachmad Saputra
redaktur: jatmiko





























