Kota Batu, Tugumalang.id – Sejumlah desa di Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, masih kerap menjadi langganan banjir setiap musim hujan. Peristiwa terbaru terjadi di Desa Bulukerto dan Desa Bumiaji pada Minggu (4/1/2025), saat luapan air membawa material lumpur hingga sudetan sampah berupa batang pohon besar yang hanyut bersama aliran.
Kondisi tersebut kembali memicu keluhan warga, terutama karena banjir tidak hanya membawa air, tetapi juga material berat yang memperparah dampak di kawasan permukiman. Pemerintah Kota Batu pun merespons cepat untuk menyiapkan langkah penanganan yang lebih terukur dan berkelanjutan.
Baca juga: Alih Fungsi Lahan Memburuk, Pemkot Malang Semakin Kewalahan Atasi Banjir
Respons Cepat Pemkot Batu Lakukan Pemetaan Udara
Wali Kota Batu, Nurochman, menginstruksikan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) untuk segera melakukan pengambilan foto udara di wilayah terdampak banjir. Langkah ini dilakukan sebagai dasar pemetaan sungai dan kanal banjir yang ada saat ini.
“Saya instruksikan Dinas PUPR segera melakukan foto udara untuk pemetaan sungai dan kanal-kanal banjir eksisting. Data ini akan memudahkan pemerintah dalam melakukan pemetaan dan intervensi kebijakan, termasuk rencana menambah kanal-kanal baru atau sudetan untuk memecah debit air,” tegas Cak Nur, sapaan akrab Wali Kota Batu.
Menurutnya, pemetaan yang akurat menjadi kunci agar kebijakan penanganan banjir tidak bersifat sementara, melainkan mampu menjawab persoalan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir.
Alih Fungsi Lahan Jadi Sorotan Utama
Selain infrastruktur, Cak Nur menekankan bahwa persoalan banjir di Bumiaji tidak bisa dilepaskan dari maraknya alih fungsi lahan di kawasan hulu. Ia menilai, penambahan sudetan atau kanal hanya akan efektif jika dibarengi dengan komitmen bersama dalam menjaga lingkungan.
Baca juga: Alih Fungsi Lahan Hutan Diduga Jadi Penyebab Longsor Berturut di Pujon-Ngantang
“Pemerintah akan menambah sudetan, tapi perilaku masyarakat terkait alih fungsi lahan harus menjadi komitmen bersama. Masyarakat pengelola hutan harus berpikir jangka panjang bahwa ada saudara-saudara kita di posisi bawah yang harus dipertimbangkan keselamatannya. Kepatuhan terhadap ketentuan pemanfaatan kawasan hutan adalah kunci,” ujarnya.
Ia juga menjelaskan bahwa Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sebenarnya telah melakukan upaya mitigasi sejak beberapa bulan lalu. Namun, derasnya aliran air yang membawa lumpur, sampah, dan potongan kayu menjadi tantangan utama di lapangan.
“Sebanyak apapun kanal dan sudetan sungai, tetap tidak akan bisa menampung jika air membawa material lumpur, sampah, hingga potongan kayu. Inilah mengapa kesadaran menjaga hutan dan tidak membuang sampah ke aliran sungai menjadi sangat penting agar upaya mitigasi kami di hilir tidak sia-sia,” pungkas Cak Nur.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
redaktur: jatmiko





























