Tugumalang.id – Satgas Penanganan dan Pencegahan Kekerasan Seksual (PPKS) kampus STIE Malangkucecwara terus menggencarkan sosialisasi kepada para mahasiswanya untuk mengantisipasi penularan HIV dan inveksi menular seksual.
Ketua Satgas PPKS STIE Malangkucecwara, Mohamad Soedarman mengatakan, sosialisasi ini rutin digencarkan setiap bulan. Baginya, sosialisasi penting dilakukan untuk mengantisipasi hal hal yang tak diinginkan.
“Kami ingin menghasilkan lulusan yang hebat, sehat jasmani dan rohani. Tentu kami berharap lulusan kampus ini nantinya menjadi manusia yang bermartabat,” kata Soedarman.
Baca Juga: Mahasiswi STIE Malangkucecwara, Aprilia Terpilih Jadi Presiden IAI Muda Malang Raya
Dalam sosialisasi ini, Satgas PPKS memberikan materi terkait dengan bahaya HIV hingga tips tips agar terhindar dari virus menular seksual.
“Memang HIV itu seperti fenomena gunung es. Kelihatannya sedikit, tetapi kenyataannya banyak sekali. Dan lingkungan perguruan tinggi salah satu yang rentan,” ujarnya.

Baginya, HIV sangat berbahaya dan gejalanya kerap sulit terdeteksi. Bisa 3-10 tahun baru terdeteksi.
Dokter dari klinik STIE Malangkucecwara, dr Danny Rivaldi mengatakan bahwa kalangan mahasiswa cenderung memiliki pola hidup masyarakat barat. Hal ini meningkatkan resiko penularan HIV.
Baca Juga: Konser Bertabur Bintang Semarakkan Dies Natalis ke-53 Tahun STIE Malangkucecwara dan MFM
Menurutnya, penderita HIV awalnya tidak akan merasakan gejala. Jikapun ada, gejalanya seperti sakit biasa yakni flu atau diare. Rata rata, gejala HIV memang terdeteksi setelah 3-10 tahun. Untuk itu, dia menyarankan agar orang yang punya resiko tinggi tertular HIV harus segera melakukan pemeriksaan dini.
“Jika terdeteksi, medis akan memberikan konseling. Lalu pengobatan untuk menekan replikasi virus dalam tubuh. Kemudian edukasi melalui konseling berkelanjutan. Karena obat ini harus diminum seumur hidup,” jelasnya.
Salah satu obat terbaik dari segala penyakit baginya adalah pencegahan. Maka edukasi dini terkait penularan HIV sangat penting digencarkan kepada generasi muda.
Dikatakan, bersentuhan, kena keringat, satu tempat tinggal, bertukar alat makan atau bertukar makanan dengan penderita HIV menurutnya bukanlah media penularan HIV.
“Maka edukasi tentang HIV dan penularannya itu penting. Karena penularannya itu ada 3. Lewat cairan tubuh area privat, darah dan dari ibu ke anak (kelahiran bayi dengan ibu penderita HIV),” paparnya.
Berdasarkan data yang didapat, Danny mengatakan bahwa sek bebas merupakan faktor teratas penularan HIV. Kemudian hubungan sesama jenis lebih tinggi dari pada hubungan heteroseksual.
Selain itu, penyebaran HIV juga bisa melalui proses pengunaan narkoba. Dimana, pengguna narkoba menggunakan jarum suntik yang sama dengan penderita HIV.
Jika ada masyarakat mengetahui orang sekitarnya terjangkit HIV, maka hal yang perlu dilakukan adalah tak menjauhinya dan tak menghujat. Sebab, mental penderita HIV yang buruk akan memperparah kondisi.
“Jadi perlu disemangatin agar mau berobat secara berkelanjutan. Karena rata rata penderita HIV itu pasrah dan kadang pengobatannya putus di tengah jalan. Akhirnya memburuk,” tandasnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter: M Sholeh
Editor: Herlianto. A
























