Analisa Kegamangan Pemerintah Terkait Perbedaan Mudik dan Sambang Orang Tua

  • Whatsapp
Ilustrasi. foto: freepic.

MALANG – Baru-baru ini publik Malang dibingungkan oleh kebijakan Wali Kota Malang, Sutiaji, terkait kebijakan pelarangan mudik. Namun, di waktu yang sama ia juga membuat statement jika sambang orang tua diperbolehkan oleh warga Kota Malang.

Hal tersebut membuat Ahli Kebijakan dari Universitas Brawijaya (UB), Dr Mohammad Nuh, mempertanyakan kebijakan Pemerintah Kota (Pemkot) Malang yang mengatakan jika mudik tidak boleh tapi sambang orang tua diperbolehkan.

Bacaan Lainnya

“Menurut saya itulah bentuk belum siapnya pemerintah untuk menerapkan aturan itu seperti apa. Implementasi dari pelarangan mudik itu seperti apa, kita tahu kemarin gak boleh seluruh Jawa timur, sekarang diperkecil di zona tertentu boleh, dan kemarin disampaikan pernyataan mudik gak boleh tapi sambang boleh. Saya menyampaikan apa bedanya, karena bentuk penularan itu tidak mengenal antara mudik dan sambang,” kritiknya.

Menurutnya belum tentu yang sambang orang tua tidak membawa COVID-19, dan belum tentu yang mudik membawa COVID-19.

“Begitu yang sambang tadi membawa bibit virus COVID-19 ya tetap akan menular, tapi bagi mereka yang mudik tidak membawa itu (COVID-19) atau dalam kondisi sehat ya tidak menularkan,” ujarnya.

Ia menduga bahwa ini merupakan kegamangan pemerintah dalam menerapkan kebijakan dengan segala pertimbangan mulai dari tuntutan masyarakat dan kondisi ekonomi.

Padahal, menurutnya sebenarnya mudik ini juga merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perekonomian di daerah. Pasalnya, pasti para pemudik yang pulang ke kampung halaman akan membawa uang yang cukup banyak sehingga terjadi transaksi di desa.

Baca Juga  Idul Fitri dan Palestina, Penderitaan Anak-anak Menjelang Hari Raya

“Sebetulnya jika pemerintah sudah menyiapkan infrastruktur yang ada, mudik itu justru membawa konsekuensi terhadap mekanisme pertumbuhan ekonomi di sebuah wilayah. Orang mudik di suatu kampung dia kan membawa uang, di sana ada transaksi atau bisnis yang menghidupkan perekonomian di desa,” jelasnya.

“Tapi itu tetap dipersyaratkan dengan proses protokol kesehatan yang ketat, kemudian kenyaring mereka dengan tes antigen dan sebagainya disiapkan. Tapi itu saya lihat untuk menuju ke sana masih terbatas dalam jumlah yang cukup besar dan untuk menjamin semua bisa lolos atau terseleksi dengan model tes antigen ini yang perlu menjadi perhatian,” pungkasnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *