Rabu, Oktober 7, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Alumni Sebut Sistem SMA SPI Tidak Beres

Redaksi by Redaksi
Juni 3, 2021 1:13 pm
in Pendidikan
Komnas PA desak Hakim tolak gugatan praperadilan tersangka dugaan seksual siswa kasus SMA SPI

SMA SPI Kota Batu. Foto: M Sholeh

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Kasus dugaan kejahatan berupa kekerasan seksual, kekerasan fisik, dan eksploitasi ekonomi di SMA SPI Kota Batu terus bergulir. Setidaknya, sudah ada 12 orang alumni sekolah telah melapor ke Polda Jatim atas dugaan kejahatan yang diduga dilakukan oleh founder SMA SPI.

Tentu hal itu mengejutkan semua pihak. Pasalnya, sekolah gratis bagi anak kurang mampu itu dikenal sebagai sekolah berkualitas. Bahkan, salah satu kisah dalam sekolah itu pernah diangkat menjadi film layar lebar.

READ ALSO

LLDIKTI Jatim Gelar Bimtek Tata Kelola Jabatan Akademik Dosen di UIBU Malang

Dipercaya Garap 17 RDTR dari Kementerian ATR/BPN, ITN Malang Raih Paket Kerja Sama Terbanyak

Kepopulerannya juga telah menarik perhatian pejabat tinggi negeri untuk hadir langsung mengunjungi sekolah itu. Tak tanggung tanggung, sekolah tersebut bahkan juga pernah diundang oleh UNESCO menjadi pembicara tentang pendidikan kewirausahaan.

SMA SPI Kota Batu. Foto: M Sholeh

Namun pengakuan mengejutkan muncul dari salah seorang alumni SMA SPI Kota Batu yang tak mau disebutkan identitasnya. Dia mengaku pernah mengenyam pendidikan di sekolah gratis itu.

Dia masuk sekolah itu lantaran ibunya tak mampu membiayainya bersekolah SMA. Sementara ayahnya, telah meninggalkan keluarganya sejak SMP. Usai lulus, dia mengaku langsung bekerja di sekolah itu juga. Namun karena merasa tertindas, dia resign usai bekerja selama 5 tahun disana.

Pengakuan alumni ini muncul usai beredarnya pemberitaan terkait kejahatan yang terjadi di sekolah tersebut. Dia bahkan membenarkan adanya kejahatan berupa kekerasan seksual, kekerasan fisik, dan eksploitasi ekonomi yang didugakan selama ini.

Hal itulah yang juga membuatnya keluar dari sekolah itu dan memilih kembali ke daerah asalnya. Dia juga memilih tak menceritakan kepada ibunya atas apa yang dia alami di sekolah tersebut.

“Bekerja di sana seperti bekerja rodi, saya merasa sistemnya tidak beres sehingga lebih baik saya mengundurkan diri karena jujur itu tidak sesuai dengan UU Ketenagakerjaan,” ujar alumni SMA SPI asal luar Jawa itu.

Dia mengaku, sistem kerja dan sistem penggajian disana tidak sesuai dengan aturan standar pada umumnya. Dikatakan, jam kerja disana lebih dari 8 jam, sementara gajinya dibawah UMR Kota Batu.

“Karena pada dasarnya orang bekerja itu 8 jam tapi di sana tidak seperti itu. Disana melebihi itu, bahkan sangat lebih,” ucapnya.

Untuk masalah gaji, dia tidak begitu mempermasalahkan lantaran sudah mendapat pendidikan gratis di sana. Namun dia sangat menyayangkan atas jam kerja yang ada.

“Sistemnya aja yang bagi saya itu tidak benar. Karena kita ini manusia, mesin saja butuh waktu untuk istirahat apalagi kita manusia,” imbuhnya.

Bahkan, dia juga menceritakan pengalamannya saat menjadi siswa di sana. Dia mengaku jarang mendapat materi pembelajaran akademis dan lebih banyak mendapatkan tugas layaknya bekerja.

Dikatakan, karena di sekolah tersebut juga terdapat hotel umum dan tempat wisata, sehingga para siswa juga dilibatkan dalam pelayanan pengunjung.

Dia juga menceritakan pengalamannya saat mendekati ujian akhir sekolah. Disebutkan, dia hanya mengikuti 1 tryout dari 3 tryout yang ada. Hal itu dikarenakan founder sekolah tersebut mengajaknya untuk rapat di Surabaya hingga berhari-hari.

“Jadi saya tidak ikut tryout 2 kali, tau-tau balik ke sekolah sudah ujian. Di sana saya merasakan sendiri saat jadi siswa, selain jadi siswa juga bekerja,” ungkapnya.

Banyaknya tugas pekerjaan yang dibebankan, membuatnya beberapa kali melewatkan ibadahnya. Tingginya intensitas kerja juga membuatnya harus mengedepankan tugasnya dari pada ibadahnya.

“Kalau anak-anak yang ada disana menurut saya mengalami tekanan psikis. Karena lingkungan yang dibentuk di sana adalah kita seperti punya desa dan kota sendiri. Sehingga kita mau keluarpun intinya kita diminta diam, seminimal mungkin agar tidak bersosialisasi dengan orang luar,” bebernya.

Meski demikian, dia tidak berani memberikan pengaduan kepada pihak manapun dan memilih berdiam diri karena ada rasa takut. Namun, dia memastikan bahwa dia mengetahui apa yang terjadi disekolah tersebut.

“Sementara ini saya memilih untuk diam dulu tapi sebenarnya saya tau yang terjadi seperti apa. Saya memilih untuk benar-benar diam. Tapi untuk apapun kejadian yang ada disana saya tau. Saya memilih untuk mendoakan yang terbaik, saya serahkan persoalan ini kepada pihak berwajib saja,” ujarnya.

Reporter: M Sholeh

Editor: Lizya Kristanti

Related Posts

LLDIKTI Jatim Gelar Bimtek Tata Kelola Jabatan Akademik Dosen di UIBU Malang
Pendidikan

LLDIKTI Jatim Gelar Bimtek Tata Kelola Jabatan Akademik Dosen di UIBU Malang

Selasa, 6 Okt 2026
Dipercaya Garap 17 RDTR dari Kementerian ATR/BPN, ITN Malang Raih Paket Kerja Sama Terbanyak
Advertorial

Dipercaya Garap 17 RDTR dari Kementerian ATR/BPN, ITN Malang Raih Paket Kerja Sama Terbanyak

Senin, 5 Okt 2026
Pelatihan PLTS ITN Malang Bekali Praktisi Rancang Energi Surya
Advertorial

Pelatihan PLTS ITN Malang Bekali Praktisi Rancang Energi Surya

Senin, 5 Okt 2026
UIN Malang Bahas Moderasi Beragama di Tengah Geopolitik Global
Advertorial

UIN Malang Bahas Moderasi Beragama di Tengah Geopolitik Global

Senin, 5 Okt 2026
Wujudkan Duta Moderasi Beragama, PSIMB UIN Malang Gandeng Pusbangkom MKMB Kemenag RI
Advertorial

Wujudkan Duta Moderasi Beragama, PSIMB UIN Malang Gandeng Pusbangkom MKMB Kemenag RI

Senin, 5 Okt 2026
Gelar Academic Mobility Visit Bersama UMPSA Malaysia, Polinema Perluas Kolaborasi Akademik dan Mobilitas Mahasiswa
Advertorial

Gelar Academic Mobility Visit Bersama UMPSA Malaysia, Polinema Perluas Kolaborasi Akademik dan Mobilitas Mahasiswa

Minggu, 4 Okt 2026
Next Post
gudang - Gudang Barang Bekas di Pagelaran Terbakar

Gudang Barang Bekas di Pagelaran Terbakar

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.