Rabu, September 2, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Aku Online Maka Aku Ada

Redaksi by Redaksi
September 6, 2023 10:16 am
in Catatan
Yusron Hapizullah.

Yusron Hapizullah. Foto/dok for TM

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Yusron Hapizullah*

Tugumalang.id – Apa yang akan terjadi jika pisau diberikan pada chef Juna dan Michael Myers, tokoh pembunuh dalam serial Halloween? Anda pasti sudah tahu jawabannya. Dari tangan chef Juna akan tersaji masakan yang enak di atas meja, sementara dari tangan Myers akan tertumpah darah. Dalam hal ini pisau bersifat netral bergantung pada siapa yang menggunakan.

READ ALSO

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Begitulah ilustrasi sederhana kehadiran internet di tengah-tengah kehidupan kita saat ini yang sudah sangat bergantung padanya. Internet bisa melahirkan dampak positif jika digunakan dengan benar, sebaliknya akan menjadi petaka bila dimanfaatkan dengan salah.

Lalu bagaimana dengan internet yang kita pakai di hampir setiap lini kehidupan ini, apakah kita memanfaatkannya sebagaimana chef Juna menggunakan pisau, atau sebagaimana Myers menciptakan kekacauan?

Baca Juga: Tragedi Kanjuruhan Adalah Catatan Penting

Pada prinsipnya, internet membantu kita terhubung dengan banyak orang. Yang tadinya jauh terasa dekat, tapi bisa juga sebaliknya membuat yang dekat tak terlihat, yang ramah di dunia nyata bisa menjadi brutal di dunia maya.

Pertanyaan selanjutnya adalah seberapa manusiakah kita dengan internet? Atau seberapa binatangkah kita? Kenapa pertanyaan ini muncul, tentu Anda tahu alasannya. Jika belum tahu, silahkan lanjut membaca artikel ini.

Medsos, Kepalsuan yang Digandrungi

Untuk menjawab dua pertanyaan di atas, mari berselancar sambil berenang di lautan medsos, anak cucu dari internet. Tapi hati-hati resiko tenggelamnya sanggat tinggi, terlalu besar arus  dan gelombang informasi yang datang dari berbagai penjuru (disrupsi).

Berselancar dimulai. Apa yang Anda temukan di medsos? Berbagai bentuk dan jenis manusia akan Anda jumpai bertebaran dan berkicau dengan genre masing-masing. Keberadaan mereka di medsos seolah sekaligus eksistensi mereka.

Jika pada abad modern Pemikir Prancis, Rene Decartes, mengatakan  “I think therefor I am” (aku berpikir maka aku ada), mungkin Descartes ala now akan mengatakan “aku online maka aku ada”.

Frasa modifikasi Descartes itu bisa dipahami bahwa orang-orang kini berlomba-ria menggelar-tampilkan eksistensi mayanya. Si miskin yang gengsi akan memakai topeng si kaya, si burik akan tampil menawan dengan bantuan filter aplikasi, si kaya menyebarkan-tontokan kedermawanannya, dan sederet kepalsuan lainya.

Bahkan satu orang di dunia nyata bisa menyusup dan menjadi beragam pridai di akun-akun yang berbeda, fenomena bazer misalnya. Ia sengaja diproduksi masal dan dikloning oleh pabrik-pabrik penjual isu murahan, berita bohong, makian, fitnah dan berbagai kotoran lainnya. Umumnya mereka berkolaborasi dengan bandit-bandit yang haus kekuasaan.

Lalu, informasi yang bau-membusuk itu bermuara di kepala Anda seolah menjadi tempat pembuangan alias septic tank. Yang isinya bertera-tera bit informasi sampah dan receh dan itu bisa menghantam akal sehat, lalu Anda menjadi gagap dan latah.

Pepatah Arab klasik mengatakan kullu saqith laqith (setiap benda jatuh, pasti ada yang memungutnya). Begitupun informasi yang berhamburan di jagat maya. Ia dipungut, ditelan dan dimuntahkan lalu dibagi-sedekahkan oleh golongan “amatiran”,  bahkan orang-orang yang berada di bawah “standar amatir” merasa menajadi pakar dengannya.

Follower Segalanya

Mengapa demikian, memang standar kebenaran diukur dari banyaknya followers. Gila sih. Semakin banyak yang mengikuti maka Anda aka dipuji serta kebenaran berada di genggaman. Ini sebagaimana dikhawatirkan Tom Nichols dalam “The Death of Expertise” (matinya kepakaran).

Publik lebih menerima pendapat dari selebgram yang tengah viral daripada argumetasi para ahli yang teruji melalui kajian ilmiah mereka. Bahkan sepuluh ribu penonton bola yang tengah menonton di stadion mendadak menjadi pelatih yang mengomentari habis setiap pemain.

Informasi yang masih dipertanyakan kebenarannya diviralkan bila sesuai seleranya, merangsang yang lain untuk berkomentar alias nyinyir. Bahkan, tak jarang dipenuhi komentar dengan begitu brutal dan caci maki. Kemudian diramaikan pengadu domba, spesialis fitnah yang begitu lihai menggoreng, memanggang isu-isu receh dan hoaks.

Tak pelak kebenaran terlihat seperti  kebohongan begitupun sebaliknya, sehingga tidak bisa membedakan anatara berita dengan opini, ujaran kebencian, fitnah, disinformasi bercampur menjadi satu.

Inilah era, menurut Herlianto. A dalam bukunya Secangkir Kopi Filsafat, yang bertumpu pada 3 hal: framing (membingkai peristiwa), signing (permainan tanda), dan priming (penonjolan bagian-bagian tertentu). Inilah era orang-orang menyebutnya sebagai Post-Truth.

Bagaimana dengan netizen Indonesia? Microsoft  dalam laporannya yang berjudul Digital Civility Index (DCI) menjelaskan tingkat kesopanan pengguna internet sepanjang tahun 2020.

Dalam laporan tersebut netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara alias akhlaknya dapat nilai “D” atau kesopan-santunan yang buruk. Fakta lain meunjukkan bahwa minat baca orang-orang Indonesia sangat rendah.

Dalam riset yang dilakukan Central Connecticut State University pada maret 2016 yang bertajuk World’s Most Litarate Nations Ranked, Indonesia berada di peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca, berada di atas Bostwana (61) di bawah Thailand (59). Barangkali, ini bekelindan dengan belum membaiknya dunia maya kita saat ini.

Fakta-fakta peradaban internet ini mengingatkan kita dengan pepatah lama yang mengatakan “tong kosong nyaring bunyinya”. Apakah pepatah itu mewakili warganet Indonesia?

Anda tahu jawabannya. Tentu ini adalah tantangan bagi kita semua, untuk mendorong diri kita sendiri, lingkungan terdekat dan publik itu sendiri untuk dapat memanfaatkan internet dan medsos sebagaimana chef juga menggunakan pisau bukan Michael Myer, agar bertebaran manfaat bagi kita semua dan para generasi berikutnya.

*Penulis adalah mahasiswa STF Al Farabi sekaligus santri Pesantren Luhur Baitul Hikmah

Editor: Herlianto. A

Tags: InternetMatinya Kepakaranonline

Related Posts

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas
Catatan

Kontestasi, Konstelasi, dan Hasil Dua Muktamar NU: Cipasung vs Tambakberas

Senin, 31 Agu 2026
Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah
Catatan

Menyelamatkan Marwah NU: Mengakhiri Akrobat Angka dan Mengembalikan Khittah Musyawarah

Minggu, 30 Agu 2026
Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang
Catatan

Connecting The Dots dan Magister Psikologi UIN Malang

Kamis, 27 Agu 2026
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Catatan

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Senin, 24 Agu 2026
Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?
Catatan

Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Minggu, 23 Agu 2026
Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran
Catatan

Kota Malang: Antara Pusat dan Pinggiran

Jumat, 21 Agu 2026
Next Post
Simak cara membaca pikiran orang yang bisa dipelajari.

7 Trik Psikologi Cara Membaca Pikiran Orang

BERITA POPULER

  • Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    Meriah Hingga Akhir Bulan, Jadwal Karnaval Malang Raya 26 -31 Agustus 2026

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.