Saturday, July 4, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

Berbincang dengan Denise: Awetan Satwa, Lemur Terbang dan Para Frater

Redaksi by Redaksi
January 24, 2023 8:30 am
in Pilihan Redaksi
Museum satwa

Museum Zoologi Frater Malang (foto/ Imam A. Hanifah)

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

PAGI ITU tugas menulis artikel belum tergarap sama sekali. Dalam daftar wisata di Dau, Kabupaten Malang, tinggal Museum Zoologi di Jalan Mahameru yang belum kutulis. Akhirnya dengan segera kuarahkan sepeda motor menuju ke arah museum yang berada di kawasan Tidar, Kota Malang.

Usai memarkir kendaraan, tampak seorang wanita paruh baya berkemeja putih sedang membersihkan halaman depan sebuah gedung museum. Dari kejauhan ia menyapa hangat. Pagi hari di akhir bulan November 2022, suasana Museum Zoologi Frater M. Vianney Malang masih tampak lengang.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

“Dari mana mas?” sapanya. “Tugumalang, Bu,” jawabku singkat sambil permisi ingin meliput suasana di dalam museum yang memiliki 12.000 koleksi satwa itu.

Begitu memasuki ruangan, saya disambut ratusan koleksi kerang dan hewan bercangkang yang tertata rapi di meja kaca. Di atas pintu, sebuah kepala banteng terpasang gagah. Dalam kondisi kagum, saya terkesima dengan awetan seekor harimau sumatera, Pantera Tigris.

Tantangan Mengawetkan Satwa dan Mahalnya Biaya Taksidermi

Berkas cahaya matahari menerobos celah-celah lemari membuat saya agak kesulitan mengabadikan beberapa koleksi karena pantulan cahaya. Sementara perempuan tadi telah selesai menyapu. Ia lalu duduk di meja sambil mendata berbagai jenis kerang untuk diletakkan di etalase.

Museum
Koleksi awetan penyu yang masih terawat (foto/imam)

Namanya Denise Resiamini Praptaningsih yang biasa dipanggil Denise. Ia telah lama mengabdi sebagai salah satu pengelola Museum Zoologi Malang. Guru SMAK Frateran Malang yang setahun lagi hendak pensiun ini lalu menjelaskan apa saja tantangan yang kini dihadapi museum.

“Jadi kendalanya itu dana. Dana dalam hal maintenance, perawatan. Jadi pengadaan terus tapi ndak bisa merawat ya susah,” tutur perempuan yang genap berusia 60 tahun ini.

Dari penjelasan Denise, ternyata jenis awetan yang umum digunakan museum dengan koleksi satwa mati ada dua jenis, yakni awetan basah dan kering. “Namanya Taksidermi mas, jadi kalua begini ini kan kering, disumbat pakai dakron. Kalau zaman dulu ya pakai sepat kelapa,” jelasnya.

Koleksi ular kobra di Museum Zoologi (Foto/Imam)

Dengan berkembangnya zaman, para ilmuan pun menyadari bahwa sepat kurang baik digunakan sebagai bahan pengisi awetan satwa sehingga beralih ke dakron. Namun mahalnya harga dakron menjadi kendala tersendiri. “Nah dakron itu mahal,” sambung Denise.

Berikutnya adalah awetan basah. Guru Biologi ini lalu berkisah jika dulu, Museum Zoologi Malang menggunakan formalin sebagai bahan awetan basah. Namun banyaknya komentar negatif membuat mereka beralih ke bahan lain seperti alcohol dengan kadar 80%.

“Banyak yang komentar, nanti anak belum belajar malah kena bla.bla bla,” tutur Denise menirukan cibiran para pengunjung. Akhirnya pengelola museum pun mengajukan anggaran untuk menggunakan alkohol sebesar Rp 10 juta.

Penggunaan awetan basah memang dan perlu persiapan. Setidaknya, menurut Denise, cairan harus diganti setiap 3 tahun sekali. “Ya dibuangi semua dulu air yang lama, dikasih cuka, kemudian diangin-anginkan baru setelah dikasih alcohol,” jelas Denise.

Koleksi ekor ikan pari di museum zoologi (foto/imam)

Penggunaan larutan dan persiapan akhirnya juga berimbas ke dana. Denise mengungkapkan jika museum membutuhkan hingga Rp 5 juta per bulan. Minimnya biaya akhirnya memaksa para pengelola harus menekan biaya hingga Rp 2 juta .

Perempuan paruh baya ini lalu menceritakan bagaimana perjuangan dan besar biaya yang harus mereka keluarkan demi mendapatkan koleksi Harimau dan Singa. “Kami dapat harimau ini, tahun 2002. Itu sudah Rp 7 juta. D iatas juga ada singa,” tutur Denise.

Museum Zoologi memang memiliki satu awetan harimau di lantai satu dan singa di lantai dua. Kedua awetan itu masih tampak bagus walaupun kondisinya sudah tak sebagus koleksi museum lainnya.

Setelah mendapat koleksi harimau, museum akhirnya mendapat koleksi singa yang hampir mati dari Kebun Binatang Gembira Loka. Hewan ini lalu didapatkan setelah sempat dipindahkan ke kebun binatang Wonokromo. “Ya kami ikut ngongkosi mas, dari Gembira Loka ke Surabaya, yang mahal ya biaya taksiderminya,” tambah Denise.

Lemur Terbang: Satwa Langka yang Jadi Koleksi

Museum Zoologi Frater Malang memang unik. Beda dengan museum lain di Kota Malang dan Batu yang biasanya berisikan peninggalan sejarah kerajaan atau tinggalan zaman penjajahan.

Pembicaraan dengan Denise terjeda sejenak saat saya meminta izin untuk mencatat apa saja koleksi yang ada di museum. Denise pun mengajak untuk berkeliling ke lantai dua.

Begitu masuk ke ruangan tersebut, saya terkagum dengan banyaknya koleksi hewan langka yang telah diawetkan dengan baik. Di pojok kanan terdapat penyu hijau (Chelonia mydas) yang ditata rapi dengan penyu jenis lainnya.

Di dinding, terdapat dua kotak kayu besar yang berisi puluhan kumbang tanduk. Belum lagi iguana dan biawak dalam awetan cair. Di tengah aula, terdapat belasan toples kaca yang berisi beragam jenis ular. Mulai dari python hingga kobra. Menakjubkan.

Awetan kering di sudut lain pun tak kalah menarik perhatian. Ada trenggiling, tupai, burung cendrawasih, hingga tengkorak buaya, kijang dan burung berparuh besar asal Kalimantan.

Satu lagi yang menarik adalah koleksi hewan berkaki empat, namun memilih sayap. “Itu lemur jawa mas, jarang ada yang punya,” kata Denise. Saya sekilas membayangkan tokoh momo yang ada dalam kartun Avatar.

Lemur atau Kubung juga dikenal dengan nama Kubung sunda (Sunda Flying Lemur), Malayan Flying Lemur atau Sunda Colugo. Satwa ini masih berkerabat dengan kubung filipina (Cynocephalus volans) dan menjadi bagian dari keluarga Cynocephalidae.

Awetan Lemur Jawa di Museum Zoologi Malang (Foto/Imam)

Lemur sendiri memang dikenal sebagai hewan yang hidup di atas pohon dan makan tumbuhan lunak seperti tunas, bunga, dan buah-buahan. Oleh karena itu, hewan ini memiliki kemampuan meluncur dari tempat tinggi ke tempat yang lebih rendah dengan sangat indah berkat selaput dari kaki depan hingga kaki belakang.

Mirip dengan pakaian olahraga ekstrim wingsuit flying yang biasa menggunakan pakaian khusus untuk bisa terbang di udara. Pakaian khusus ini disebut jumpsuit, memiliki sayap di bagian lengan dan memanjang hingga selangkang penerjun.

Hewan yang aktif di malam hari ini masih dapat ditemukan di hutan hujan tropis di dataran rendah hingga ketinggian 1.000 Mdpl. Dengan kemampuan adaptifnya, tak heran Lemur masih bisa ditemukan di Jawa, Sumatera, dan Kalimantan. Di Jawa, spesies ini ada di Cagar Alam Pangandaran, Hutan Kemuning Temanggung dan Taman Nasional Meru Betiri.

Satwa ini termasuk kategori hewan ini dilindungi. Pemerintah pun memiliki regulasi melalui Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa. Karena populasinya stabil di alam, badan perlindungan satwa internasional atau IUCN masih memasukkan kubung sunda dalam kategori kategori risiko Rendah. Namun, kerusakan habitat dan perburuan mengancam keberlangsungan hidup kubung sunda.

Jasa Para Frater di Museum Zoologi Malang

Museum Zoologi Malang didirikan pada tahun 1998 dan awalnya hanya diperuntukkan untuk sekolah yang dibawah naungan Yayasan Mardi Wiyata. Namun, karena banyaknya masukan, akhirnya museum ini diperuntukkan untuk umum pada tahun 2004 dan diresmikan langsung oleh Dirjen Konservasi Keanekaragaman Hayati Departemen Kehutanan.

Awetan harimau di museum zoologi Malang (foto/Imam)

Museum yang berlokasi di tepi perkebunan jeruk dan memiliki bangunan dua lantai didirikan dengan peran penting dari Freter M. Clemens, BHK. Semua spesies yang dipamerkan di museum ini adalah hasil jerih payah Clemens dalam mengumpulkan ribuan awetan satwa mulai dari kerang hingga berbagai spesies mamalia.

Freter M. Clemens adalah seorang pria asal Flores yang sangat mencintai alam dan ilmu pengetahuan, ia juga dikenal sebagai ahli ular. Bersama gurunya, Freter M. Vianney, yang juga seorang ahli ular, Clemens merintis museum ini. Namun, Frater Clemens, pendiri museum yang juga menjadi biarawan Bunda Hati Kudus, meninggal pada bulan Februari 2022.

Penulis: Imam A. Hanifah

Editor: jatmiko

Tags: formalinkoleksi kerang dan hewan bercangkangMuseum zoologiSMAK Frateran Malang

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Monday, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Sunday, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Tuesday, 7 Oct 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Tuesday, 7 Oct 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Tuesday, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Monday, 15 Sep 2025
Next Post
bantuan gempa tak kunjung cair

Bantuan Gempa Tak Kunjung Cair, Wabup Malang: Tunggu Tim Teknis

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Mulai Berdampak, Bapenda Kota Malang Sebut Opsen PKB Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 6 Festival Budaya di Malang yang Digelar Rutin Setiap Tahun, Wajib Masuk Daftar Wisata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Edi Purwanto, Santri dan Penggerak NU Asal Malang Terpilih Jadi Komisioner KI Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.