Minggu, Juli 19, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

KKN di Desa Penari, Nyata Meminggirkan Rasa Budaya Jawa

Redaksi by Redaksi
Mei 29, 2022 7:00 pm
in Catatan
kkn di desa penari

Poster Film KKN Di Desa Penari. Credit: Manoj Punjabi

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Pietra Widiadi*

Di mulai dengan kehadiran beberapa orang, jembatan panjang yang tak terawat, hutan, dan ular. Lalu dibuka dengan Bahasa Jawa Mataraman di daerah yang katanya timur, Jawa Timur, dan diiringi gending Jawa yang mengiring suara merdu Sinden. Tidak ada keterangan kapan kejadiannya, hanya 2009. Jadi menggambarkan tahun 2009, dengan desa antah berantah di tlatah Jawa Timur.

READ ALSO

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a

Buku Pelanggaran

Pembukaan yang ingin menggambarkan kengerian, mencoba memberikan kesan mistis dan kengerian serta dihantar dengan dialog bahasa Jawa yang tidak mengesankan Jawa Timur, bagian timur dan bisik sangkaaan yang serem.

Setelah itu, datanglah para mahasiswa yang disertai cewek yang berjilbab, dari kumpulan cewek yang datang ber-KKN yang diberi kesan berpikiran rasional penuh ketaqwaan.

kkn di desa penari
Pietra Widiadi. Foto: dok

Dalam perjalanan sebagian film, pada penggal-penggal tertentu kemudian muncul bahasa Jawa yang ditampilan mengesankan khas bahasa Jawa budaya Arek.

Film ini tayang di gedung bioskop, dialawai dengan iklan, promosi begitu gencar dan memberikan makna yang “woow”, sebuah karya yang akan memberikan tontonan horor dengan latar belakang budaya Jawa yang “ndeso”.

Saat kemunculan beberapa penggal slot dalam film itu, sudah bisa ditebak, tontonan ini akan mengejek cara laku orang Jawa yang jauh dari rasionalitas dan penuh dengan hal-hal mistis yang jahat yang hanya bisa dilawan dengan keberagamaan yang taat. Bagi kaum muda usia remaja (saya mengindari istilah milenial, atau bahkan stereotype tentang generasi Z), ini adalah tontonan yang akan menghadirkan ketegangan, apa lagi dalam benak mereka Jawa adala keangkeran, kemistisan.

Setelah iklan bertebaran dan kemudian kelarisan direngkuh, jualan film ini mengorbankan laku budaya dan gambaran tentang budaya adiluhung. Generasi kita makin jauh dari budayanya sendiri. Mereka makin mendekap erat budaya barat dan ala Timur Tengah yang dianggap mencerahkan dan mendekati pada rasionalitas dalam bertuhan. Ini jelas tidak akan bisa ditemukan dalam budaya Jawa.

Gambar sesaji, banten atau cok-cakal sebagai sarana untuk mengaturkan suguh pada leluhur, dianggap sebuah cara yang tidak patut. Dupa dan kemenyan yang dianggap mendatangkan setan, demit, dan iblis jahanam. Padahal kalau disimak lebih dalam, kemenyan adalah barang yang mahal yang biasa dipakai sesembahan kepada Sang Kuasa, misalnya dalam agama Kristen dengan “persembahan mas, kemenyan….” Yang dapat ditemukan dalam kitab suci mereka. Kita bisa lihat bukhur, bagi budaya Timur-Tengah yang juga menyajikan wewangian dalam hidangan kesalehan. Kemudian seolah dikuatkan dengan gambaran kakek tua dengan jenggot dan suara parau yang menakutkan, menandakan bahwa dukun adalah kesialan hidup.

Gambaran-gambaran yang meminggirkan budaya Jawa itu, ditegaskan lagi soal gamelan, dan tembang Jawa (baca geguritan) yang diindahkan oleh Sinden serta tarian yang menjadi bagian dari ritus budaya yang menghargai karya leluhur ditempatkan sangat marginal, sebagai dalang dari kesesatan. Lebih jauh dari itu, film ini juga menggiring pada pemahaman bahwa perempuan dengan pakaian yang terbuka, perempuan yang tidak santun akan celaka, dan cenderung dengan perilaku seks yang bebas, dan ini adalah kaum penzina (baca Konde.com).

Gambaran khas tentang pemahaman puritanisme (cara dalam bahasa Inggris pure, asli atau murni), jadi semacam penanda bahwa Jawa atau laku Jawa itu, tidak murni dalam kekhasanahan orang memuji Illahi. Dalam hal ini purtanisme, atau paham kemurnian menjadi langgap yang cukup kuat menghantarkan bahwa dalam berbudaya, seperti Jawa, itu tidak cukup elok.

Dalam hal ini jelas bahwa Jawa yang pada dasarnya bukan sekedar pakaian, bukan sekedar tarian yang dilengkapi seperangkat gamelan dan pujian dari para Sinden, dan bukan sekedar bahasa atau bahkan warna kulit dan agama, dalam hal ini pada titik puncaknya, seharusnya mendudukan budaya Jawa puncak dari karsa, karya, dan rasa.

Dalam pemahaman ini, maka jelas bahwa Jawa pada film yang dianggap paling laris dari jualan tontonan, tidak mendudukan Jawa sebagai pusatnya, sebagai bentuk budaya yang patut dijunjung, tetapi dilecehkan dalam posisi yang cukup rendah. Akal sehat diabaikan, penjelasan Jawa Timur tidak spesifik karena Jawa Timur terbagi dalam beberapa sub-budaya berdasarkan logat bahasanya yaitu Mataraman, Arek, Pendalungan, Madura, dan Osing.

Bahkan tidak memberikan informasi kejadian kapan, ini menyesatkan. Bahwa Jawa (khususnya yang timur), memiliki cara hidup tidak sehat, rumah kotor, kamar mandi seadanya, WC (water closet) yang jorok, dan ketertinggalan yang amat jauh sehingga tidak ada penerangan. Hutan yang jauh dari kota. Jadi Kuliah Kerja Nyata, yang nyata-nyata tidak KKN karena memang tidak menggambarkan mahasiswa sedang kerja nyata, tetapi mahasiswa yang tersesat di desa Jawa yang membuat mereka kesurupan (Bahasa Jawa, artinya sudah melewati senja).

Film ini hanya tontonan saja dengan pendekatan gimik pemasaran sebuah produk seolah memberikan rasa Jawa, dan ternyata dimakan oleh kaum muda dan penonton yang dengan atusias memadati gedung bioskop yang hampir dua tahun lebih kosong melompong karena COVID-19. Ini tontonan yang bukan menunjukan laku budaya Jawa tetapi sekedar jualan dari pemilik modal yang tanpa bertanggungjawab tidak meletakkan budaya Jawa pada tempatnya.

Yang penting cuan, duit bisa diraup dengan sebanyak-banyaknya. Jadi film ini jelas tidak mendidik dan membawa pada mainstream dan stereotype yang tidak tepat, bahwa budaya Jawa penuh kesirikan dan tentu saja film ini sangat menyepelekan akal sehat. KKN yang menyesatkan.

 

*Penulis merupakan penggagas kelompok diskusi Jawi Kawi dan beraktivitas barengan dengan teman-teman Sabtu Legen dari Giritoya Mataya yang biasa ngobrol budaya Jawa di Lereng Tumur Gunung Kawi, dan founder dari Pendopo_Kembangkopi dari Yayasan dial (www.dial.or.id)

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: desa penarikknkkn di desa penari

Related Posts

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a
Catatan

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a

Senin, 13 Jul 2026
Buku Pelanggaran
Catatan

Buku Pelanggaran

Minggu, 12 Jul 2026
Cologne,  Katedral, dan Masjid 
Catatan

Cologne, Katedral dan Masjid 

Kamis, 9 Jul 2026
Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik
Catatan

Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik

Kamis, 9 Jul 2026
Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan
Catatan

Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan

Rabu, 8 Jul 2026
Kota Malang dan El Nino
Catatan

Kota Malang dan El Nino

Rabu, 8 Jul 2026
Next Post
kabupaten malang

Warga 3 Desa di Kabupaten Malang Masih Andalkan Perahu Getek untuk Menyeberang Sungai

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.