Saturday, July 4, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pilihan Redaksi

CATATAN MUDIK (17): Inilah Pohon-pohon yang Melindungi Kompleks Percandian Muarajambi

Redaksi by Redaksi
May 18, 2022 2:36 pm
in Pilihan Redaksi
Pohon-pohon Kundu

Pohon-pohon kundu atau pohon sialang di lokasi Candi Kotomahligai dalam Kompleks Percandian Muarajambi, Provinsi Jambi, Sabtu sore, 7 Mei 2022.

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Saat berada di Desa Baru, Kecamatan Marasebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, Abdi Purmono, wartawan senior yang mudik bersepeda motor dari Malang ke Medan, sejauh 2756 km, menyempatkan singgah di kompleks percandian Muarajambi. Wilayah itu masuk pada kawasan Cagar Budaya Nasional (KBN) Muarajambi.

DERETAN pohon duku dan durian laksana berbaris di tepi jalan Desa Baru, Kecamatan Marosebo, Kabupaten Muaro Jambi, Provinsi Jambi, selepas Jembatan Batanghari II hingga saya bersama dua kawan memasuki kompleks percandian Muarajambi.

READ ALSO

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Semua area yang kami lewati masuk dalam Kawasan Cagar Budaya Nasional (KCBN) Muarajambi. Kawasan cagar budaya ini terletak di tepian Sungai Batanghari, sungai terpanjang di Pulau Sumatera, yang berhulu di Pegunungan Bukit Barisan dan bermuara di pantai timur Jambi.

Abdi Purmono saat berada di antara pepohonan Kundu. dok/Abdi Purmono

KCBN Muarajambi dilabeli status warisan budaya nasional melalui penetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 259/M/2013 Tanggal 30 Desember 2013 dengan luas 3.981 hektar. Kompleks candi agama Budha jadi zona inti KCBN Muarajambi, dengan luas 17,5 kilometer persegi (1.750 hektare) atau 44 persen dari luas keseluruhan KCBN.

“Saking luasnya, area yang kita lewati dari Jembatan Batanghari sampai kita masuk kompleks percandian ini masih sebagian kecil dari seluruh luas KCBN Muarajambi,” kata Ramond, pegiat jurnalistik dan juga pemerhati budaya Jambi, kepada saya, Sabtu sore, 7 Mei 2022.

KCBN Muarajambi mencakup kompleks percandian, situs permukiman kuno dan sistem jaringan perairan kuno. Secara administratif, luas KCBN Muarajambi terhampar di wilayah delapan desa dalam dua kecamatan, yaitu Muarajambi, Danau Lamo, dan Dusun Baru di Kecamatan Marosebo, serta Kemingking Luar, Kemingking Dalam, Dusun Mudo, Teluk Jambu, dan Tebat Patah di Kecamatan Taman Rajo.

Candi Dilindungi Pohon Duku, durian dan Sialang
Menurut Ramond, buah duku yang banyak dijual di Jakarta dan kota besar lainnya dengan nama duku palembang sejatinya banyak berasal dari Kabupaten Muaro Jambi. Termasuk yang tumbuh liar maupun dibudidayakan masyarakat di dalam KCBN Muarajambi. Keadaan ini mirip dengan nasib buah apel dari wilayah Kabupaten Pasuruan, terutama dari Kecamatan Nongkojajar dan Kecamatan Tosari, yang diberi label sebagai apel Batu atau apel Malang. Misalnya begitu.

Pohon-pohon kundu atau pohon sialang di lokasi Candi Kotomahligai dalam Kompleks Percandian Muarajambi, Provinsi Jambi, Sabtu sore, 7 Mei 2022. foto/Abdi Purmono

Selain duku dan durian, bagi Ramond, ada satu jenis pohon yang sangat eksotis di dalam kompleks Candi Muarajambi, yaitu pohon kundu atau pohon sialang. Pohon bernama ilmiah Koompassia excelsa hanya bisa dijumpai di Candi Kotomahligai.

Perlu diketahui, selain Candi Kotomahligai, kompleks Candi Muarajambi mempunyai Candi Tinggi, Candi Kembar Batu, Candi Kedaton, Candi Gumpung, Candi Gedong 1 dan Candi Gedong 2, Candi Astano, serta kolam Talaga Rajo.

Suasana sangat hening dan teduh saat kami mengunjungi Candi Kotomahligai. Secara administratif, candi ini berlokasi di Desa Danau Lamo, Kecamatan Marosebo, berdekatan dengan jalan menuju Muara Sabak, Ibu Kota Kabupaten Tanjung Jabung Timur.

Sejumlah situs di kompeks percandian MuaraJambi. dok/Abdi Purmono

Candi Kotomahligai terletak di bagian paling barat Kompleks Candi Muarajambi, sekitar 900 meter dari Candi Kedaton—kedua candi dipisahkan Sungai Terusan. Candi Kotomahligai dikelilingi rawa dan kanal-kanal kuno, hutan belukar, serta kebun duku, durian, karet, dan jengkol. Kanal-kanal ini yang menghubungkan Candi Kotomahligai dengan candi-candi lainnya.

Kelompok candi di Muarajambi dikelilingi pagar tembok. Begitu begitu pula dengan Candi Kotomahligai yang dipagari tembok berdimensi 97,5 x 12 meter. Tembok pagar ini membagi ruang candi induk dan pendapa di bagian timur. Terdapat reruntuhan berlumut hijau mirip gundukan candi induk berukuran 20 x 20 meter dan ukuran candi perwara atau candi pengiring berdimensi 20 x 15 meter. Gundukan candi induk dan candi perwara berada di tengah halaman.

“Gundukan-gundukan ini diduga reruntuhan candi maupun runtuhan bangunan lain yang menandakan di masa lalu telah ada permukiman manusia yang maju,” kata Ramond.

Nah, di situlah pohon-pohon sialang tegak menjulang setinggi rata-rata 40-50 meter. Berbeda dengan kebanyakan pohon, akar pohon sialang muncul di permukaan tanah. Kaliber akarnya sangat besar, rata-rata sekitar 5-6 meter. Saking besarnya, perlu enam orang dewasa bergandengan tangan untuk bisa melingkari akarnya.

Menurut Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia Provinsi Jambi Abdul Haviz alias Ahok, keberadaan pohon sialang menjadi kelebihan sekaligus keunikan Candi Kotomahligai, misalkan dibanding dengan Candi Tinggi yang lebih popular, karena pohon sialang hanya tumbuh di situ.

“Pohon kundu cuma ada di Kotomahligai. Jumlahnya 11 pohon dan usianya diperkirakan ratusan tahun,” kata Ahok.

Pohon Kundu di Kompleks percandian Muara Jambi.dok/Abdi Purmono

Datuk Gondang, seorang tokoh masyarakat setempat mengatakan, pohon-pohon kundu tak hanya berkaitan dengan sikap batin dan kebudayaan masyarakat setempat, tapi juga menjadi sumber penghasilan. Masyarakat lokal umum menyebutnya dengan pohon madu lantaran ribuan lebah suka membangun koloni atau di dahan-dahannya.

Warga biasa menggunakan tangga kayu sepanjang 4-5 meter untuk naik hingga ke bagian batang yang bisa dipeluk, lalu memanjat dan merayapi dahan tempat sarang-sarang lebah berada. Tentu memanjat pohon setinggi itu berisiko tinggi, nyawa taruhannya.

“Makanya madu-madu dari Jambi dijamin kualitasnya karena asli dipanen dari dalam hutan, dari pohon-pohon yang tinggi,” kata Datuk Gondang, dalam obrolan malam hari di Pojok Kopi Dusun. Kedai kopi ini berada di sepetak kebun karet. Saat asyik mengobrol, listriknya padam sehingga suasana jadi gulita.

Namun, Datuk Gondang dan Ramond menyimpan kecemasan terhadap keberadaan pohon sialang di Candi Kotomahligai terkait rencana pemugaran candi oleh Balai Arkeologi (Balar) Sumatera Selatan. Penelitian dan ekskavasi sudah dilakukan pada 2-17 Juli 2021 untuk mengetahui peran dan fungsi Candi Kotomahligai di masa lalu. Penelitian akan dilanjutkan dalam waktu yang belum ditentukan.

Mereka khawatir pohon-pohon besar nan tua di sana akan ditebangi walau sudah dijamin aman oleh Balar Sumatera Selatan dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi.

“Mungkin pohon-pohon tua di Kotomahligai tetap dipertahankan, tapi Abang kalau ke sini bisa jadi sudah terjadi perubahan-perubahan yang signifikan terhadap lanskap eksotis lokasi ini,” ujar Ramond.

Sedangkan Ahok berkeyakinan pemugaran takkan sampai merusak lanskap atau tatanan lokasi. Paling banter pohon-pohon tua, bukan cuma pohon kundu, yang mau tumbang saja yang bakal dipangkas atau dipotong sehingga tak sampai merusak nilai kesejarahannya.

Baiklah. Kecemasan itu patut dihargai dan diperhatikan. Namun, suka tak suka, kegiatan wisata di sana harus tetap berjalan. Bagi pelancong yang ingin memasuki lokasi Candi Kotomahligai disarankan memakai baju lengan Bu panjang dan membawa losion antinyamuk.

Karena mobil tak bisa masuk, maka pakailah sepeda motor atau sepeda sewaan untuk menjangkau Candi Kotomahligai kendati berjalan kaki jauh lebih bagus untuk kelestarian lingkungan dan anggap saja berolahraga.

Reporter: Abdi Purmono
editor: Jatmiko

—
Terima kasih sudah membaca artikel kami. Ikuti media sosial kami yakni Instagram @tugumalangid , Facebook Tugu Malang ID , 
Youtube Tugu Malang ID , dan Twitter @tugumalang_id

 

 

Tags: catatan mudikcatatan mudik 2756 kilometerkompleks percandian muarajambiMudik Malang-Medan dengan Bersepeda MotorPohon MunduProvinsi Jambi

Related Posts

Kampung Gandean
Pilihan Redaksi

Sejarah di Balik Nama Kampung Gandean, Jejak Permukiman Abdi Pemerintahan di Jantung Kota Malang

Monday, 23 Mar 2026
Omah Wiromargo
Pilihan Redaksi

Omah Wiromargo Hadir sebagai Rumah Baca Gratis di Sekitar Pasar Besar Malang

Sunday, 18 Jan 2026
Kebun Botol Malang
Pilihan Redaksi

TBM Kebun Botol Malang, Literasi dan Pembelajaran Bahasa Asing di Tengah Kebun Hijau

Tuesday, 7 Oct 2025
Kebun Botol
Pilihan Redaksi

Kebun Botol Malang, Inovasi Ibu-Ibu Tlogomas Ubah Limbah Plastik Jadi Ladang Hijau Bernilai Ekonomi

Tuesday, 7 Oct 2025
KA Jayabaya
Pilihan Redaksi

Catatan Perjalanan KA Jayabaya: Rezeki Bertemu Penumpang Baik, Panik Tragedi Ojol di Jakarta

Tuesday, 16 Sep 2025
JFC 2025 Batch 2
Pilihan Redaksi

JFC 2025 Batch 2 Dibuka, Nurcholis Tekankan 6M sebagai Landasan Jurnalisme Berkualitas

Monday, 15 Sep 2025
Next Post
atjong tio

Perjuangan Atjong Tio Raih Medali di Sea Games Vietnam 2022

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sosialisasi Opsen Pajak Kendaraan Mulai Berdampak, Bapenda Kota Malang Sebut Opsen PKB Meningkat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 6 Festival Budaya di Malang yang Digelar Rutin Setiap Tahun, Wajib Masuk Daftar Wisata

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Edi Purwanto, Santri dan Penggerak NU Asal Malang Terpilih Jadi Komisioner KI Pusat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.