Tugumalang.id – Kopi menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat di Ruteng, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT). Di balik potensi tersebut, pemberdayaan petani dan peningkatan kualitas hasil panen menjadi pekerjaan penting agar kopi lokal mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Salah satu yang konsisten mengambil peran itu adalah Koperasi Asnikom. Kelompok ini bahkan bisa mendorong produksi kopi terbaik hingga bisa tembus pasar Belanda.
Sejarah Koperasi Asnikom
Berdiri sejak 2010, Asnikom kini menaungi 1.062 petani kopi yang tersebar di sejumlah desa di wilayah Manggarai. Berkantor di Ruteng, koperasi ini berupaya memperkuat posisi petani melalui pendampingan mulai dari proses budidaya hingga penanganan pascapanen.
Baca Juga: Di Kedai Kopi, Gagasan Mbah Wahab Kembali Bergema
Manajer Koperasi Asnikom, Damas Susagas mengatakan bahwa fokus utama koperasi tidak sekadar menghimpun dan membantu memasarkan hasil produksi petani.
Asnikom, kata dia, juga aktif memberikan pelatihan agar petani mampu menghasilkan kopi berkualitas, khususnya jenis Arabika dan Robusta dengan standar tinggi.

Pendampingan dilakukan sejak tahap budidaya, pemetikan saat panen, hingga proses pasca panen. Petani dibekali pengetahuan mengenai teknik pengolahan yang tepat agar kualitas biji kopi tetap terjaga dan memiliki nilai jual lebih tinggi.
“Tentu agar mereka paham dari segi budidaya sehingga menghasilkan produksi yang bagus. Kemudian juga ketika panen kami fasilitasi mereka untuk pelatihan pelatihan pascapanen sampai grading,” kata Damas.
Selain pendampingan teknis, Asnikom juga berupaya memperjuangkan dukungan kebijakan pemerintah untuk sektor perkebunan kopi. Salah satunya melalui dorongan pembiayaan sekolah lapang bagi petani serta penyediaan fasilitas pengolahan hasil panen.

Upaya advokasi tersebut pernah membuahkan dukungan berupa sejumlah mesin pengolahan kopi. Di antaranya mesin pulper, huller basah dan huller kering yang membantu petani dalam mengolah biji kopi. Ia mengakui distribusi fasilitas itu belum merata karena masih ada sejumlah desa yang belum mendapatkan bantuan peralatan.
Tantangan Petani Kopi Ruteng, Kabupaten Manggarai
Dari sisi ekonomi, sektor kopi dinilai masih memberikan kontribusi cukup baik bagi kehidupan petani demi kesejahteraan mereka. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, anomali cuaca menjadi tantangan serius yang berdampak pada penurunan produksi.
Kondisi tersebut membuat hasil panen tidak selalu optimal, meskipun harga jual kopi relatif membantu menjaga pendapatan petani. Dalam kondisi ini maka petani perlu memutar otak untuk mengantisipasi kondisi kemungkinan terburuk.
Baca Juga: 5 Inovasi Gerobak Jualan di Malang, dari Kopi Keliling hingga Mie di Pinggir Jalan
Dalam kondisi produksi yang baik, anggota Asnikom mampu menghasilkan sekitar 300 ton kopi dalam satu musim panen. Volume tersebut menunjukkan besarnya potensi perkebunan kopi di Ruteng Manggarai jika didukung kondisi cuaca dan pengelolaan produksi yang memadai.
Jangkauan pemasaran kopi anggota Asnikom juga telah melampaui pasar lokal. Kopi Arabika lebih banyak dipasarkan ke sejumlah daerah di Pulau Jawa dan Bali, termasuk Jakarta dan Surabaya, serta memasok kebutuhan sejumlah kafe kafe. Sementara itu, kopi Robusta telah menjangkau pasar ekspor, salah satunya Belanda.
“Untuk jenis Arabika, lebih banyak ke Jawa dan Bali. Kalau Robusta, lebih banyak ekspor ke Belanda,” ujarnya.
Meski demikian, Asnikom belum melakukan ekspor secara mandiri karena belum memiliki lisensi ekspor. Untuk menjangkau pasar internasional, pemasaran kopi Robusta masih dilakukan melalui pihak kedua.
Keterbatasan tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah koperasi untuk memperkuat kapasitas kelembagaan sekaligus memperluas akses pasar. Sejauh ini, menurut Damas Susagas, pihaknya juga mendapat dukungan dan pendampingan dari Aliansi Petani Indonesia (API) untuk berbagai hal, mulai soal regenerasi dan advokasi.
Di tengah potensi pasar yang terbuka, persoalan fasilitas pascapanen masih menjadi tantangan lain. Salah satu proses yang membutuhkan biaya cukup besar adalah sortasi atau pemilahan biji kopi berdasarkan kualitas. Selama ini, proses tersebut masih banyak dilakukan secara manual sehingga membutuhkan tenaga dan waktu lebih banyak.
Damas berharap pemerintah, lembaga keuangan, maupun para pembeli kopi dapat memberikan dukungan berupa mesin sortasi. Menurutnya, keberadaan mesin tersebut dapat membuat proses pemilahan lebih efisien sekaligus membantu meningkatkan kualitas produk yang dipasarkan.
“Memang yang kita harapkan bahwa ada lembaga lembaga yang bisa mendanai untuk fasilitas pascapanen. Karena pengalaman kami di sortasi itu lumayan mahal. Kalau mesin yang bisa untuk sortasi ada bantuan seperti itu, itu membantu petani supaya nanti hasil sortasi itu lebih mahal,” jelasnya.
Bagi Asnikom, penguatan fasilitas pascapanen bukan sekadar persoalan mempercepat pekerjaan. Lebih dari itu, peningkatan kualitas dan konsistensi hasil sortasi menjadi kunci agar kopi petani Manggarai memiliki posisi tawar lebih baik di pasar. Karena itu, mereka tetap berusaha konsisten untuk menghasilkan produksi kopi terbaik.
Dengan dukungan permodalan, teknologi, dan kebijakan yang berpihak kepada petani, potensi kopi daerah diharapkan dapat memberikan nilai ekonomi yang semakin besar bagi masyarakat.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A






































