Malang, Tugumalang.id – Sabtu malam (8/8), kopi dan manuskrip tua bertemu di sebuah meja di Kopi Rahayu, Buring, Kedungkandang. Di antara percakapan pengunjung dan aroma kopi yang menguar, sebuah buku karya KH Abdul Wahab Chasbullah menjadi pusat perhatian.
Buku itu bukan bacaan yang lazim ditemukan di kedai kopi. Panyirep Gemuruh, risalah yang merekam pandangan Mbah Wahab mengenai perluasan Masjid Peneleh dan kehidupan keagamaan masyarakat pada masanya, selama ini relatif sulit dijumpai publik. Malam itu, GP Ansor PAC Kedungkandang membawanya kembali ke tengah percakapan anak muda.
Bedah buku tersebut menghadirkan Fathul H. Panatrapraja sebagai narasumber. Buku lama itu pun menjadi pintu masuk untuk membicarakan lebih jauh sosok Mbah Wahab—bukan hanya sebagai salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama dan tokoh perjuangan bangsa, tetapi juga sebagai ulama yang menulis, berkorespondensi, dan merespons persoalan masyarakat melalui gagasan.
Fathul menjelaskan bahwa Panyirep Gemuruh diterbitkan pada 1924, ketika usia Mbah Wahab sekitar 36 tahun. Pada usia yang relatif muda itu, Mbah Wahab telah melakukan korespondensi dengan ulama-ulama besar di Haramain untuk meminta pandangan mengenai persoalan perluasan Masjid Peneleh.
Baca juga : Pengabdian Tanpa Akhir Pesantren untuk NKRI
Persoalannya cukup konkret. Masjid yang semakin ramai tidak lagi mampu menampung jamaah. Salah satu pilihan yang muncul adalah memperluas bangunan dengan memanfaatkan lahan makam di sekitar masjid. Persoalan tersebut kemudian mendorong Mbah Wahab mencari pandangan keilmuan yang lebih luas.
Di titik itu, Panyirep Gemuruh memperlihatkan sesuatu yang sering luput ketika Mbah Wahab hanya dibicarakan sebagai tokoh sejarah. Di balik nama besar tersebut terdapat seorang intelektual yang berhadapan dengan persoalan konkret masyarakat, mencari pendapat, berdialog dengan ulama lain, lalu menuangkannya dalam tulisan.
Menariknya, pembicaraan malam itu tidak hanya berkisar pada isi risalah. Seorang peserta justru menyoroti bahasa yang digunakan Mbah Wahab. Beberapa bagian, katanya, menggunakan campuran Bahasa Jawa Arek, Arab, Melayu, dan Belanda.
Pertanyaan itu membuka kemungkinan pembacaan lain terhadap Panyirep Gemuruh. Apakah naskah tersebut semata-mata sebuah risalah keagamaan? Atau terdapat pula jejak personal di dalamnya—semacam catatan yang memperlihatkan cara seorang ulama berhadapan dengan lingkungan sosial dan bahasa pada zamannya?
Pertanyaan semacam itu membuat buku tua tersebut terasa tidak terlalu jauh dari kehidupan pembacanya hari ini. Manuskrip yang lahir lebih dari seabad lalu ternyata masih dapat memancing perdebatan, tafsir, bahkan pertanyaan baru.
Baca juga: Ratusan Peserta Muktamar Rakyat An Nahdliyin Sepakati Petisi untuk NU yang Lebih Baik
Moderator Fajar SH kemudian mengarahkan pembicaraan agar diskusi tidak berhenti pada nostalgia sejarah. Baginya, membaca kembali karya ulama bukan sekadar usaha mengingat masa lalu, melainkan kesempatan untuk mempertemukan warisan intelektual dengan persoalan hari ini.
Salah satu pertanyaan yang ia ajukan kepada narasumber adalah: apa yang dapat dipelajari dari cara para ulama pada masa itu menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa menjadikannya konflik berkepanjangan?
Pertanyaan tersebut membawa diskusi keluar dari halaman buku. Panyirep Gemuruh tidak lagi hanya diperlakukan sebagai benda lama yang perlu diselamatkan dari lupa, tetapi sebagai sumber gagasan yang dapat dibaca ulang sesuai kebutuhan zaman.
Di tengah arus informasi digital yang bergerak serba cepat, percakapan semacam itu menghadirkan jeda. Buku dibaca perlahan. Pertanyaan diajukan. Pendapat dipertukarkan. Sebuah gagasan dari 1924 kembali diperiksa oleh pembaca yang hidup lebih dari seratus tahun setelahnya.
Barangkali di situlah arti penting pertemuan malam itu.
Bukan semata-mata karena sebuah buku lama berhasil diperkenalkan kembali, tetapi karena gagasan di dalamnya menemukan ruang baru untuk hidup.
Di sebuah kedai kopi di Kedungkandang, Mbah Wahab kembali mendapatkan pembaca. Dan dari meja-meja sederhana tempat orang biasa menikmati kopi, sebuah warisan intelektual kembali bergema.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko

























