Sabtu, September 12, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home News

Di Kedai Kopi, Gagasan Mbah Wahab Kembali Bergema

Irham Thoriq by Irham Thoriq
Agustus 9, 2026 7:13 pm
in News
Di Kedai Kopi, Gagasan Mbah Wahab Kembali Bergema
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Malang, Tugumalang.id – Sabtu malam (8/8), kopi dan manuskrip tua bertemu di sebuah meja di Kopi Rahayu, Buring, Kedungkandang. Di antara percakapan pengunjung dan aroma kopi yang menguar, sebuah buku karya KH Abdul Wahab Chasbullah menjadi pusat perhatian.

Buku itu bukan bacaan yang lazim ditemukan di kedai kopi. Panyirep Gemuruh, risalah yang merekam pandangan Mbah Wahab mengenai perluasan Masjid Peneleh dan kehidupan keagamaan masyarakat pada masanya, selama ini relatif sulit dijumpai publik. Malam itu, GP Ansor PAC Kedungkandang membawanya kembali ke tengah percakapan anak muda.

READ ALSO

Kades Kaliasri Gaguk Mengundurkan Diri, Ingin Fokus Bisnis

Anggota DPRD Kabupaten Malang Zulham Akhmad Mubarrok Diduga Diserang Saat Lerai Keributan

Bedah buku tersebut menghadirkan Fathul H. Panatrapraja sebagai narasumber. Buku lama itu pun menjadi pintu masuk untuk membicarakan lebih jauh sosok Mbah Wahab—bukan hanya sebagai salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama dan tokoh perjuangan bangsa, tetapi juga sebagai ulama yang menulis, berkorespondensi, dan merespons persoalan masyarakat melalui gagasan.Di Kedai Kopi, Gagasan Mbah Wahab Kembali Bergema

Fathul menjelaskan bahwa Panyirep Gemuruh diterbitkan pada 1924, ketika usia Mbah Wahab sekitar 36 tahun. Pada usia yang relatif muda itu, Mbah Wahab telah melakukan korespondensi dengan ulama-ulama besar di Haramain untuk meminta pandangan mengenai persoalan perluasan Masjid Peneleh.

Baca juga : Pengabdian Tanpa Akhir Pesantren untuk NKRI

Persoalannya cukup konkret. Masjid yang semakin ramai tidak lagi mampu menampung jamaah. Salah satu pilihan yang muncul adalah memperluas bangunan dengan memanfaatkan lahan makam di sekitar masjid. Persoalan tersebut kemudian mendorong Mbah Wahab mencari pandangan keilmuan yang lebih luas.

Di titik itu, Panyirep Gemuruh memperlihatkan sesuatu yang sering luput ketika Mbah Wahab hanya dibicarakan sebagai tokoh sejarah. Di balik nama besar tersebut terdapat seorang intelektual yang berhadapan dengan persoalan konkret masyarakat, mencari pendapat, berdialog dengan ulama lain, lalu menuangkannya dalam tulisan.

Menariknya, pembicaraan malam itu tidak hanya berkisar pada isi risalah. Seorang peserta justru menyoroti bahasa yang digunakan Mbah Wahab. Beberapa bagian, katanya, menggunakan campuran Bahasa Jawa Arek, Arab, Melayu, dan Belanda.

Pertanyaan itu membuka kemungkinan pembacaan lain terhadap Panyirep Gemuruh. Apakah naskah tersebut semata-mata sebuah risalah keagamaan? Atau terdapat pula jejak personal di dalamnya—semacam catatan yang memperlihatkan cara seorang ulama berhadapan dengan lingkungan sosial dan bahasa pada zamannya?

Pertanyaan semacam itu membuat buku tua tersebut terasa tidak terlalu jauh dari kehidupan pembacanya hari ini. Manuskrip yang lahir lebih dari seabad lalu ternyata masih dapat memancing perdebatan, tafsir, bahkan pertanyaan baru.

Baca juga: Ratusan Peserta Muktamar Rakyat An Nahdliyin Sepakati Petisi untuk NU yang Lebih Baik

Moderator Fajar SH kemudian mengarahkan pembicaraan agar diskusi tidak berhenti pada nostalgia sejarah. Baginya, membaca kembali karya ulama bukan sekadar usaha mengingat masa lalu, melainkan kesempatan untuk mempertemukan warisan intelektual dengan persoalan hari ini.

Salah satu pertanyaan yang ia ajukan kepada narasumber adalah: apa yang dapat dipelajari dari cara para ulama pada masa itu menyelesaikan perbedaan pendapat tanpa menjadikannya konflik berkepanjangan?

Pertanyaan tersebut membawa diskusi keluar dari halaman buku. Panyirep Gemuruh tidak lagi hanya diperlakukan sebagai benda lama yang perlu diselamatkan dari lupa, tetapi sebagai sumber gagasan yang dapat dibaca ulang sesuai kebutuhan zaman.

Di tengah arus informasi digital yang bergerak serba cepat, percakapan semacam itu menghadirkan jeda. Buku dibaca perlahan. Pertanyaan diajukan. Pendapat dipertukarkan. Sebuah gagasan dari 1924 kembali diperiksa oleh pembaca yang hidup lebih dari seratus tahun setelahnya.

Barangkali di situlah arti penting pertemuan malam itu.

Bukan semata-mata karena sebuah buku lama berhasil diperkenalkan kembali, tetapi karena gagasan di dalamnya menemukan ruang baru untuk hidup.

Di sebuah kedai kopi di Kedungkandang, Mbah Wahab kembali mendapatkan pembaca. Dan dari meja-meja sederhana tempat orang biasa menikmati kopi, sebuah warisan intelektual kembali bergema.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

editor: jatmiko

 

Tags: Bedah BukuGP Ansor KedungkandangKH Abdul Wahab ChasbullahMasjid PenelehMbah WahabNahdlatul UlamaPanyirep Gemuruh

Related Posts

Kades Kaliasri Gaguk Mengundurkan Diri, Ingin Fokus Bisnis
News

Kades Kaliasri Gaguk Mengundurkan Diri, Ingin Fokus Bisnis

Sabtu, 12 Sep 2026
Anggota DPRD Kabupaten Malang Zulham Akhmad Mubarrok Diduga Diserang Saat Lerai Keributan
News

Anggota DPRD Kabupaten Malang Zulham Akhmad Mubarrok Diduga Diserang Saat Lerai Keributan

Sabtu, 12 Sep 2026
Relokasi Pendamping Desa Disorot, Kader NU Diingatkan Ukhuwah Kusiriyah
News

Relokasi Pendamping Desa Disorot, Kader NU Diingatkan Ukhuwah Kusiriyah

Sabtu, 12 Sep 2026
Mahasiswa Kedokteran UB Lompat dari Gedung, IPK 3,8 dan Aktif Bimbing Maba
News

Mahasiswa Kedokteran UB Lompat dari Gedung, IPK 3,8 dan Aktif Bimbing Maba

Sabtu, 12 Sep 2026
Kriteria Tak Terpenuhi, Pemkot Malang Kesulitan Isi Jabatan Kosong
News

Kriteria Tak Terpenuhi, Pemkot Malang Kesulitan Isi Jabatan Kosong

Jumat, 11 Sep 2026
DPRD Kota Malang Dorong Kampus Perkuat Pendampingan Kesehatan Mental Mahasiswa
News

DPRD Kota Malang Dorong Kampus Perkuat Pendampingan Kesehatan Mental Mahasiswa

Jumat, 11 Sep 2026
Next Post
Mendikdasmen Dorong Museum Sains Jadi Ruang Belajar Interaktif

Abdul Mu’ti Dorong Museum Mega Science Center Perkuat Pembelajaran Sains Interaktif

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Diduga Bunuh Diri, Mahasiswa Kedokteran UB Lompat dari Lantai 6

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Pengorbanan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 08272026 2
Iklantm 08272026 1
17 Iklan HUT RI UIN Mlg.jpg
Iklantm 08172026 Pemkab
13 Iklan HUT RI BPJS2.jpg
12 Iklan HUT RI UM.jpg
07 Iklan HUT RI Prokopim Batu.jpg
Backdrop Kemerdekaan 434x390 Cm 1
Ucapan HUTRI2
HUTRI81 PKB 90X100.jpg
15 Iklan HUT RI PKS.jpg
16 Iklan HUT RI DPMPTSP Kota Batu.jpg
11 Iklan HUT RI Perumdam Among Tirto.jpg
06 Iklan HUT RI Dishub Kota Batu.jpg
08 Iklan HUT RI Satpol PP Batu.jpg
10 Iklan HUT RI Dinas Pendidikan Batu.jpg
14 Iklan HUT RI Dinas Perpus Batu.jpg
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.