Malang, Tugumalang.id – Tim mahasiswa Teknik Sipil S-1 Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) berhasil menembus 10 besar nasional Kompetisi Jembatan Indonesia (KJI) XXI 2026. Mereka juga meraih penghargaan Kategori Kesesuaian Implementasi dengan Rancangan Awal Terbaik melalui model Jembatan Jaladhara Vana.
Tim tersebut berhasil menyisihkan sekitar 300 proposal dalam kompetisi yang digelar di Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar pada pertengahan Oktober 2026. Pencapaian itu menjadi hasil perjuangan panjang mahasiswa ITN Malang dalam merancang dan membangun model jembatan pelengkung.
Tim ITN Malang digawangi M. Maulana Fadilah dan Aldo Eka Pratama Putra. Keduanya mendapat bimbingan dosen Ir. Hadi Surya Wibawanto Sunarwadi, ST., MT., IPP.
“Alhamdulillah, senang. Akhirnya kami bisa dapat juara setelah berjuang beberapa tahun. Semoga ini menjadi pintu buat teman-teman ke depannya yang mau ikut KJI semakin termotivasi dan bisa dapat juara,” ujar M. Maulana Fadilah saat ditemui di Kampus 1 ITN Malang bersama rekan setimnya.
Mengangkat Identitas Lokal Kalimantan
Jembatan Jaladhara Vana mengusung konsep arsitektur lokal Samarinda, Kalimantan. Unsur budaya daerah tersebut diterapkan pada sejumlah bagian konstruksi jembatan.
Menurut Fadil, sapaan akrab M. Maulana Fadilah, railing jembatan menggunakan siluet Sungai Mahakam yang dipadukan dengan ikon pesut, hewan endemik khas Kalimantan.
Penerangan jalan mengaplikasikan ornamen Persegi Talawang yang merepresentasikan senjata adat Kalimantan. Sementara itu, elemen jembatan menggunakan corak Batik Asmat Laya untuk mempertegas identitas lokal.
Baca juga: ITN Malang Susun RDTR Pulau Morotai untuk Buka Peluang Investasi
Dari sisi konstruksi, struktur utama jembatan menggunakan profil hollow untuk gelagar pelengkung dan gelagar memanjang, serta profil gelagar melintang.
“Untuk bagian kabel penggantung menggunakan kawat sling yang dikombinasikan dengan sistem penggantung dengan tingkat TKDN 100%,” jelas Fadil.
Keberhasilan meraih penghargaan tersebut tidak lepas dari sejumlah tantangan. Menurut Fadil, salah satu kendala terbesar dalam KJI tahun ini adalah regulasi baru mengenai Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN). Seluruh material yang digunakan wajib merupakan produk dalam negeri.
Tim sempat kesulitan mendapatkan material produksi lokal, seperti besi hollow dan kawat sling yang sesuai dengan kebutuhan konstruksi.
Selain persoalan material, pencarian workshop untuk pengerjaan jembatan di Malang juga menjadi tantangan tersendiri. Namun, berkat kerja keras, ketekunan, serta dukungan program studi dan dosen pembimbing, seluruh kendala tersebut berhasil diatasi.
Bagi Aldo Eka Pratama Putra, KJI bukan kompetisi pertamanya. Ia sebelumnya pernah menjadi finalis KJI XX 2025 di Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), meski belum berhasil membawa pulang gelar juara.
Dalam pengerjaan Jembatan Jaladhara Vana, Fadil dan Aldo berbagi tugas. Keduanya terlibat bersama dalam proses perakitan, tetapi memiliki tanggung jawab berbeda.
“Kalau untuk jobdesk-nya itu bareng-bareng. Mas Fadil bagian analisa struktur, nah saya bagian yang gambar DED. Ngerakitnya juga bareng-bareng, Mas Fadil ngerakit bagian sisi kiri jembatan, saya kanan jembatan,” ungkap Aldo.
Persiapan kompetisi berlangsung cukup padat. Aldo menyebut, penyusunan proposal membutuhkan waktu sekitar satu bulan. Sementara itu, fabrikasi, persiapan presentasi, hingga uji coba memakan waktu hampir tiga bulan.
Pengalaman mengikuti kompetisi tahun sebelumnya menjadi bahan evaluasi untuk memperbaiki hasil pengerjaan tahun ini.
“Untuk tahun ini alhamdulillah kami cukup puas dengan proses pabrikasi yang kami hasilkan. Selain itu, masalah kawat sling yang gampang slip saat ditaruh beban juga sudah ketemu solusinya, jadi tahun ini aman dan tidak slip,” jelas Aldo.
Aldo berpesan kepada mahasiswa tingkat bawah di Teknik Sipil agar tidak takut mengikuti kompetisi. Menurutnya, KJI bukan sekadar ajang untuk mengejar kemenangan, tetapi juga kesempatan mengaplikasikan ilmu perkuliahan, memperluas relasi dengan mahasiswa kampus lain, serta membawa nama baik almamater.
Baca juga: ITN Malang English Festival 2026, Siswa BSS Borong Juara
Sementara itu, dosen pembimbing tim, Ir. Hadi Surya Wibawanto Sunarwadi, ST., MT., IPP., menyebut pencapaian tahun ini merupakan hasil evaluasi pengalaman selama tiga tahun terakhir sebagai finalis KJI kategori jembatan pelengkung.
Evaluasi tersebut dilakukan untuk meningkatkan kualitas perencanaan, fabrikasi, hingga pelaksanaan.
“Tahun ini kami berupaya memaksimalkan persiapan dan seluruh target dapat tercapai. Sejak awal, kami mendorong tim untuk mengedepankan optimalisasi kinerja jembatan,” jelas Hadi.
Hadi juga mengapresiasi konsistensi tim dalam menjaga kesesuaian antara proposal dan hasil pengerjaan di lapangan. Menurutnya, rancangan yang tertuang dalam proposal berhasil diwujudkan dengan baik pada miniatur jembatan. Hal itu menjadi bagian penting dari proses pembelajaran mahasiswa.
“ITN Malang telah memiliki pengalaman berkompetisi di tingkat nasional hingga internasional. Mahasiswa harus percaya diri dengan kemampuan dan daya saing yang dimiliki,” pungkas Hadi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Sumber: Rilis ITN Malang
editor: jatmiko






































