Rabu, November 4, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Setelah Reuni, Lalu Apa?

Redaksi by Redaksi
November 3, 2026 10:00 am
in Ruang Cendekia
Setelah Reuni, Lalu Apa?
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Mastur Sonsaka*

SAYA datang ke reuni akbar di Tlekung, Batu, Minggu (1/11/2026) kemarin bukan sebagai tamu. Saya datang sebagai saksi.

READ ALSO

Pendidikan untuk Menjadi Khalifah: Mengembangkan Tujuh Dimensi Manusia

Mendidik Mahasiswa untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Lulusan

Saya angkatan 1999. Turun dari angkot AL. Masuk lewat gerbang Jalan Gajayana yang penuh sesak dengan stan pendaftaran bimbingan tes masuk STAIN dari Ormek. Keluar sebagai wisudawan ke-2 setelah kampus ini resmi bernama UIN Malang. Di antara masuk dan keluar itu, nama kampus saya sempat berganti menjadi UIIS – Universitas Islam Indonesia Sudan. Ada yang masih ingat singkatan itu? UIIS. Nama yang aneh, penuh harapan, dan umurnya pendek.

Karena itu, ketika Rektor Prof. Hj. Ilfi Nur Diana berdiri di panggung dan menyebut angka 71.905 lulusan, mulai dari 11.417 lulusan Tarbiyah, 3.593 lulusan STAIN, hingga 24.567 mahasiswa hari ini, saya tidak mendengar statistik. Saya mendengar autobiografi saya sendiri.

Saya mendengar langkah kaki saya dari Gajayana ke Tlekung.

Dan di reuni yang dihadiri 1.200 alumni lintas generasi itulah, saya mengerti satu hal: kampus ini sudah jauh berjalan, tetapi kita sebagai alumninya baru saja akan mulai berjalan.

Dua sambutan di panggung itu menampar saya dengan lembut.

Sambutan pertama dari Bunda Rektor.

Beliau berkata, reuni bukan sekadar ajang temu kangen, tetapi momentum strategis untuk memperkuat organisasi alumni, membangun komunikasi dan komitmen bersama, serta memetakan dan mengoptimalkan potensi alumni agar semakin berdampak bagi masyarakat.

Kalimat itu terasa personal bagi angkatan saya. Angkatan yang kuliahnya di Gajayana, ujiannya di gedung yang masih sederhana, dan perpustakaannya masih bau kertas fotokopian.

Bu Ilfi lalu bercerita tentang museum sejarah yang akan dibangun. “Nanti fotonya dipajang di museum. Kalau sudah jadi, kami undang semua datang lagi,” ujarnya.

Saya tersenyum. Foto saya mungkin tidak akan ada di museum itu. Angkatan peralihan seperti kami jarang berfoto, kami lebih banyak bertahan. Tapi gagasan museum itu puitis sekali. Museum bukan untuk menyimpan debu, tetapi untuk menyimpan jejak. Dan jejak angkatan 1999 adalah jejak tentang bagaimana sebuah kampus berani berganti nama tiga kali demi mencari jati dirinya.

Bu Ilfi juga menyelipkan kebanggaan yang tidak kaleng-kaleng: 68,4 persen lulusan 2025 langsung terserap kerja. Hampir 70 persen fresh graduate bekerja. Akreditasi unggul mencapai 68 persen, sedangkan internasional 36,2 persen, menuju 82 persen pada 2027 dengan lahirnya Fakultas Ushuluddin, Fakultas Teknik, dan Prodi Manajemen Haji Umrah.

Baca juga: Reuni Akbar UIN Malang 2026, Rektor Paparkan Capaian Internasional dan Peran Alumni

Saya yang masuk ketika akreditasi masih diperjuangkan dari nol mendengar itu seperti mendengar anak yang dulu kita timang kini sudah berlari kencang.

Pesan beliau jelas: jangan hanya jadi ambassador yang memajang logo di kaus reuni. Jadilah kontributor. Yang jadi kiai dan guru, kasih masukan kurikulum. Yang jadi pengusaha dan direktur, bukakan pintu kerja.

Sambutan kedua dari Ketua KAMALIKI terpilih, Cak Udin.

M. Hasanuddin Wahid. Angkatan 1996, Ketua Himpunan Jurusan, Presiden Mahasiswa 1998. Kakak angkatan saya. Sekjen PKB dan anggota DPR RI yang hari ini kembali pulang sebagai Ketua IKA periode 2026–2031.

Sambutannya tidak panjang. Hanya dua kata yang ia ulang: sedekah dan jejaring.

“Mari kita gerakkan semangat sedekah dan optimalkan jejaring lintas profesi.”

Dua kata itu menutup lingkaran 27 tahun perjalanan saya. Dulu, kami di Gajayana diajari bahwa ilmu harus disedekahkan. Hari ini, di kampus megah di Tlekung yang jalannya pun dijanjikan Bupati Malang akan dimuluskan tahun depan, sedekah itu dimaknai ulang.

Bukan sedekah uang, tetapi sedekah jaringan. Seperti kata Wali Kota Batu Nurochman yang juga hadir: ikatan alumni jangan berhenti di ruang nostalgia, harus jadi gerakan nyata.

Setelah reuni, lalu apa?

Bagi saya, angkatan 1999 yang masuk dari Gajayana dan keluar dari UIN, jawabannya menjadi sangat pribadi.

Baca juga: Ribuan Alumni Terhubung Kembali Lewat Momen Reuni Akbar UIN Malang 2026

Setelah reuni, kita pulang untuk menagih janji kita sendiri pada kampus yang dulu becek itu.

Tugas kita bukan lagi mengenang UIIS yang hanya seumur jagung. Tugas kita adalah memastikan mahasiswa yang hari ini kuliah di Tlekung tidak perlu lagi merasakan apa yang kita rasakan dulu: bingung mau jadi apa setelah lulus Psikologi.

Maka saya membayangkan tiga hal sederhana untuk KAMALIKI periode Cak Udin ini:

Pertama, dari foto ke peta. Foto reuni kita akan dipajang di museum. Tapi peta potensi kita harus dipajang di hati. Buat peta hidup 71.905 alumni itu. Bukan sekadar nama dan tahun, tetapi: siapa bisa bantu skripsi, siapa bisa bantu magang, siapa bisa bantu buka lapangan kerja. Angkatan 1999 tahu betul rasanya tidak punya peta.

Kedua, dari cerita ke sedekah. Di angkatan kami, cerita yang paling sering diulang adalah “dulu susah”. Sudah, cukup. Sekarang waktunya cerita “dulu susah, sekarang saya bisa bantu apa”. Satu alumni satu sedekah jaringan. Itu lebih abadi dari museum mana pun.

Ketiga, dari Gajayana ke dunia. Bu Ilfi bermimpi alumni diakui internasional. Mimpi itu tidak akan tercapai oleh rektorat saja. Ia butuh alumni yang pulang tidak hanya membawa rindu, tetapi juga membawa kolaborasi internasional.

Saya masuk dari Jalan Gajayana, keluar sebagai wisudawan ke-2 UIN. Kampus saya sudah selesai mencari namanya. Sekarang giliran kami, alumninya, yang mencari makna dari nama itu.

Setelah reuni, lalu apa? Lalu kita buktikan bahwa angkatan yang kuliah di tengah pergantian nama itu juga bisa memberi nama baik bagi almamaternya.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

*Penulis adalah alumnus Psikologi UIN Malang angkatan 1999. Masuk di kampus Jalan Gajayana saat bernama STAIN, kemudian UIIS, dan lulus sebagai wisudawan ke-2 setelah menjadi UIN. Anggota KPU Provinsi NTB.

**Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com

editor: jatmiko

Tags: Alumni UIN MalangJejaring AlumniKAMALIKIMastur SonsakaReuni Akbar UIN Malang

Related Posts

Pendidikan untuk Menjadi Khalifah: Mengembangkan Tujuh Dimensi Manusia
Ruang Cendekia

Pendidikan untuk Menjadi Khalifah: Mengembangkan Tujuh Dimensi Manusia

Senin, 2 Nov 2026
Mendidik Mahasiswa untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Lulusan
Ruang Cendekia

Mendidik Mahasiswa untuk Kehidupan, Bukan Sekedar Lulusan

Sabtu, 31 Okt 2026
Hujan Kita Rindukan, Banjir Tak Kita Harapkan
Ruang Cendekia

Hujan Kita Rindukan, Banjir Tak Kita Harapkan

Rabu, 28 Okt 2026
Dari Kampus Sederhana ke Panggung Dunia: Ujian Sesungguhnya UIN Maliki Malang di Usia 65 Tahun
Ruang Cendekia

Dari Kampus Sederhana ke Panggung Dunia: Ujian Sesungguhnya UIN Maliki Malang di Usia 65 Tahun

Selasa, 27 Okt 2026
65 Tahun UIN Malang: Kampus Besar Harus Terasa Dekat
Ruang Cendekia

65 Tahun UIN Malang: Kampus Besar Harus Terasa Dekat

Senin, 26 Okt 2026
Ketika AI Tak Punya Nurani: Mengapa Karakter Ulul Albab UIN Malang Makin Relevan?
Ruang Cendekia

Ketika AI Tak Punya Nurani: Mengapa Karakter Ulul Albab UIN Malang Makin Relevan?

Senin, 26 Okt 2026
Next Post
Wakil Rektor II Unikama Beri Pelatihan Audit ISO 19011:2026 di Tugu Tirta

Wakil Rektor II Unikama Beri Pelatihan Audit ISO 19011:2026 di Tugu Tirta

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10222026 3
Iklantm 10222026 2
Iklantm 10212026 1
Iklantm 10162026 2
Iklantm 10162026 3
Iklantm 10192026 1
Iklantm 10162026 4
Iklantm 10162026 1
Iklantm 10162026 11
Iklantm 10162026 5
Iklantm 10162026 6
Iklantm 10162026 7
Iklantm 10162026 8
Iklantm 10162026 9
Iklantm 10162026 10
Iklantm 10162026 12
Iklantm 10162026 13
Iklantm 10172026 1
Iklantm 10172026 2
Iklantm 10202026 1
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.