Oleh: Mastur Sonsaka*
SAYA datang ke reuni akbar di Tlekung, Batu, Minggu (1/11/2026) kemarin bukan sebagai tamu. Saya datang sebagai saksi.
Saya angkatan 1999. Turun dari angkot AL. Masuk lewat gerbang Jalan Gajayana yang penuh sesak dengan stan pendaftaran bimbingan tes masuk STAIN dari Ormek. Keluar sebagai wisudawan ke-2 setelah kampus ini resmi bernama UIN Malang. Di antara masuk dan keluar itu, nama kampus saya sempat berganti menjadi UIIS – Universitas Islam Indonesia Sudan. Ada yang masih ingat singkatan itu? UIIS. Nama yang aneh, penuh harapan, dan umurnya pendek.
Karena itu, ketika Rektor Prof. Hj. Ilfi Nur Diana berdiri di panggung dan menyebut angka 71.905 lulusan, mulai dari 11.417 lulusan Tarbiyah, 3.593 lulusan STAIN, hingga 24.567 mahasiswa hari ini, saya tidak mendengar statistik. Saya mendengar autobiografi saya sendiri.
Saya mendengar langkah kaki saya dari Gajayana ke Tlekung.
Dan di reuni yang dihadiri 1.200 alumni lintas generasi itulah, saya mengerti satu hal: kampus ini sudah jauh berjalan, tetapi kita sebagai alumninya baru saja akan mulai berjalan.
Dua sambutan di panggung itu menampar saya dengan lembut.
Sambutan pertama dari Bunda Rektor.
Beliau berkata, reuni bukan sekadar ajang temu kangen, tetapi momentum strategis untuk memperkuat organisasi alumni, membangun komunikasi dan komitmen bersama, serta memetakan dan mengoptimalkan potensi alumni agar semakin berdampak bagi masyarakat.
Kalimat itu terasa personal bagi angkatan saya. Angkatan yang kuliahnya di Gajayana, ujiannya di gedung yang masih sederhana, dan perpustakaannya masih bau kertas fotokopian.
Bu Ilfi lalu bercerita tentang museum sejarah yang akan dibangun. “Nanti fotonya dipajang di museum. Kalau sudah jadi, kami undang semua datang lagi,” ujarnya.
Saya tersenyum. Foto saya mungkin tidak akan ada di museum itu. Angkatan peralihan seperti kami jarang berfoto, kami lebih banyak bertahan. Tapi gagasan museum itu puitis sekali. Museum bukan untuk menyimpan debu, tetapi untuk menyimpan jejak. Dan jejak angkatan 1999 adalah jejak tentang bagaimana sebuah kampus berani berganti nama tiga kali demi mencari jati dirinya.
Bu Ilfi juga menyelipkan kebanggaan yang tidak kaleng-kaleng: 68,4 persen lulusan 2025 langsung terserap kerja. Hampir 70 persen fresh graduate bekerja. Akreditasi unggul mencapai 68 persen, sedangkan internasional 36,2 persen, menuju 82 persen pada 2027 dengan lahirnya Fakultas Ushuluddin, Fakultas Teknik, dan Prodi Manajemen Haji Umrah.
Baca juga: Reuni Akbar UIN Malang 2026, Rektor Paparkan Capaian Internasional dan Peran Alumni
Saya yang masuk ketika akreditasi masih diperjuangkan dari nol mendengar itu seperti mendengar anak yang dulu kita timang kini sudah berlari kencang.
Pesan beliau jelas: jangan hanya jadi ambassador yang memajang logo di kaus reuni. Jadilah kontributor. Yang jadi kiai dan guru, kasih masukan kurikulum. Yang jadi pengusaha dan direktur, bukakan pintu kerja.
Sambutan kedua dari Ketua KAMALIKI terpilih, Cak Udin.
M. Hasanuddin Wahid. Angkatan 1996, Ketua Himpunan Jurusan, Presiden Mahasiswa 1998. Kakak angkatan saya. Sekjen PKB dan anggota DPR RI yang hari ini kembali pulang sebagai Ketua IKA periode 2026–2031.
Sambutannya tidak panjang. Hanya dua kata yang ia ulang: sedekah dan jejaring.
“Mari kita gerakkan semangat sedekah dan optimalkan jejaring lintas profesi.”
Dua kata itu menutup lingkaran 27 tahun perjalanan saya. Dulu, kami di Gajayana diajari bahwa ilmu harus disedekahkan. Hari ini, di kampus megah di Tlekung yang jalannya pun dijanjikan Bupati Malang akan dimuluskan tahun depan, sedekah itu dimaknai ulang.
Bukan sedekah uang, tetapi sedekah jaringan. Seperti kata Wali Kota Batu Nurochman yang juga hadir: ikatan alumni jangan berhenti di ruang nostalgia, harus jadi gerakan nyata.
Setelah reuni, lalu apa?
Bagi saya, angkatan 1999 yang masuk dari Gajayana dan keluar dari UIN, jawabannya menjadi sangat pribadi.
Baca juga: Ribuan Alumni Terhubung Kembali Lewat Momen Reuni Akbar UIN Malang 2026
Setelah reuni, kita pulang untuk menagih janji kita sendiri pada kampus yang dulu becek itu.
Tugas kita bukan lagi mengenang UIIS yang hanya seumur jagung. Tugas kita adalah memastikan mahasiswa yang hari ini kuliah di Tlekung tidak perlu lagi merasakan apa yang kita rasakan dulu: bingung mau jadi apa setelah lulus Psikologi.
Maka saya membayangkan tiga hal sederhana untuk KAMALIKI periode Cak Udin ini:
Pertama, dari foto ke peta. Foto reuni kita akan dipajang di museum. Tapi peta potensi kita harus dipajang di hati. Buat peta hidup 71.905 alumni itu. Bukan sekadar nama dan tahun, tetapi: siapa bisa bantu skripsi, siapa bisa bantu magang, siapa bisa bantu buka lapangan kerja. Angkatan 1999 tahu betul rasanya tidak punya peta.
Kedua, dari cerita ke sedekah. Di angkatan kami, cerita yang paling sering diulang adalah “dulu susah”. Sudah, cukup. Sekarang waktunya cerita “dulu susah, sekarang saya bisa bantu apa”. Satu alumni satu sedekah jaringan. Itu lebih abadi dari museum mana pun.
Ketiga, dari Gajayana ke dunia. Bu Ilfi bermimpi alumni diakui internasional. Mimpi itu tidak akan tercapai oleh rektorat saja. Ia butuh alumni yang pulang tidak hanya membawa rindu, tetapi juga membawa kolaborasi internasional.
Saya masuk dari Jalan Gajayana, keluar sebagai wisudawan ke-2 UIN. Kampus saya sudah selesai mencari namanya. Sekarang giliran kami, alumninya, yang mencari makna dari nama itu.
Setelah reuni, lalu apa? Lalu kita buktikan bahwa angkatan yang kuliah di tengah pergantian nama itu juga bisa memberi nama baik bagi almamaternya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah alumnus Psikologi UIN Malang angkatan 1999. Masuk di kampus Jalan Gajayana saat bernama STAIN, kemudian UIIS, dan lulus sebagai wisudawan ke-2 setelah menjadi UIN. Anggota KPU Provinsi NTB.
**Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com
editor: jatmiko






































