Tugumalang.id – Petai (parkia speciosa) kerap dikenal karena aromanya yang menyengat. Namun, di balik bau khasnya, biji hijau berbentuk pipih ini menyimpan beragam nutrisi yang bermanfaat bagi tubuh.
Di banyak daerah, termasuk di Jawa Timur, petai lazim hadir di meja makan sebagai pelengkap sambal, tumisan, atau lalapan. Meski populer, tidak sedikit orang yang menghindarinya karena aroma yang tertinggal di mulut.
Baca Juga: PLN Konservasi Waduk Selorejo Malang, Tanam 10 Ribu Bibit Pohon
Dr. Saddam Ismail dalam video edukasinya memaparkan sejumlah manfaat petai sekaligus hal-hal yang perlu diwaspadai. Berikut ini ulasan lengkapnya.
Manfaat Petai
1. Kaya Nutrisi
Menurut dr. Saddam Ismail, petai mengandung protein, serat, kalsium, fosfor, kalium, vitamin, serta antioksidan. Kandungan tersebut membuat petai layak dipertimbangkan sebagai bagian dari menu sehat sehari-hari.
2. Membantu Mengontrol Gula Darah
Salah satu manfaat yang disebutkan adalah membantu mengontrol kadar gula darah. Dalam video itu, dr. Saddam menjelaskan bahwa antioksidan, fitosterol, dan stigmasterol dalam petai membantu mencegah lonjakan gula darah.
3. Berpotensi Melawan Infeksi
Petai juga disebut memiliki sifat antibakteri dan antijamur. Menurut dr. Saddam, sifat tersebut berpotensi membantu tubuh melawan kuman. Kata “berpotensi” penting digarisbawahi, sebab petai tidak dapat menggantikan pengobatan medis pada orang yang sudah terinfeksi.
Baca Juga: Gerakan Nandur Gunung, Upaya Merestorasi Alam oleh GeKrafs Kota Batu
4. Menyehatkan Pencernaan
Kandungan serat dalam petai, kata dr. Saddam, membantu mencegah sembelit dan melancarkan pergerakan usus. Secara umum, serat yang cukup juga membuat perut terasa kenyang lebih lama.
5. Menjaga Kesehatan Jantung
Dalam video tersebut, dr. Saddam menyebut kalium dalam petai membantu menjaga tekanan darah dan denyut jantung tetap stabil. Kalium merupakan mineral yang memang dikenal berperan dalam keseimbangan cairan dan fungsi jantung.
6. Meningkatkan Daya Tahan Tubuh
Petai juga mengandung vitamin C. Menurut dr. Saddam, vitamin tersebut membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas sehingga turut mendukung daya tahan tubuh.
Perlu dicatat, manfaat-manfaat di atas bersifat pendukung. Petai bukan obat, sehingga masyarakat yang memiliki penyakit tertentu tetap perlu menjalani terapi sesuai anjuran tenaga kesehatan dan tidak mengandalkan makanan semata.
Di balik manfaatnya, dr. Saddam menekankan agar petai tidak dikonsumsi secara berlebihan. Konsumsi yang terlalu banyak dapat membebani ginjal dan meningkatkan kadar asam urat karena kandungan purinnya yang tinggi.
Ia juga mengingatkan bahwa petai sebaiknya dikonsumsi dalam jumlah wajar dan bukan sebagai pengganti obat medis. Karena itu, orang dengan gangguan ginjal atau asam urat tinggi disarankan berkonsultasi dengan dokter sebelum rutin mengonsumsinya.
Kelompok yang paling perlu waspada adalah orang dengan gangguan ginjal dan penderita asam urat tinggi. Bagi kelompok ini, porsi petai sebaiknya dibicarakan dengan dokter atau ahli gizi agar tidak memperburuk kondisi. Bagi orang yang sehat pun, prinsip yang sama berlaku: makan secukupnya dan tetap diimbangi sayur, buah, serta air putih yang cukup.
Mengapa Petai Berbau Menyengat?
Bau khas yang muncul setelah makan petai berasal dari senyawa yang mengandung belerang. Senyawa ini terbawa lewat napas dan keringat, serta keluar bersama urine. Bau tersebut tidak berbahaya, tetapi bisa mengganggu kenyamanan saat bertemu banyak orang.
Untuk mengurangi bau napas, sejumlah orang menyikat gigi dan lidah, berkumur, atau mengunyah daun mint. Minum air putih yang cukup juga dapat membantu.
Tips Mengolah Petai
Pilih petai yang segar, berwarna hijau cerah, serta tidak berlendir atau berjamur. Untuk pengolahan, merebus, mengukus, atau menumis dengan sedikit minyak umumnya lebih baik daripada menggoreng berlebihan atau mencampurnya dengan santan kental dan garam dalam jumlah besar.
Petai bisa dinikmati sebagai bagian dari pola makan seimbang, bukan makanan utama yang dikonsumsi setiap hari dalam jumlah besar.
Petai mudah ditemukan di pasar tradisional dengan harga yang relatif terjangkau. Bahan pangan lokal ini biasa diolah menjadi sambal goreng, tumisan, pepes, atau dimakan mentah sebagai lalapan.
Petai memang berbau tajam, tetapi kandungan gizinya patut diperhitungkan. Seperti disampaikan dr. Saddam Ismail, manfaatnya akan optimal jika petai dikonsumsi secara wajar dan tidak dijadikan pengganti obat.
Selama porsinya tepat dan kondisi kesehatan diperhatikan, petai dapat menjadi pelengkap menu bergizi. Dengan begitu, aroma yang menyengat itu sebanding dengan manfaat yang ditawarkan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis : Khoirun Nisak (Magang)
Editor: Herlianto. A






































