Malang, Tugumalang.id – Nikotin membuat produk tembakau sulit ditinggalkan karena bekerja pada otak dan sistem saraf. Penggunaan berulang dapat membentuk ketergantungan, termasuk ketika seseorang mencoba berhenti.
World Health Organization (WHO) menyebut nikotin sebagai zat yang sangat adiktif dan berbahaya, terutama bagi anak-anak, remaja, serta dewasa muda yang otaknya masih berkembang. Paparan nikotin pada kelompok usia tersebut dapat memengaruhi perkembangan otak, termasuk bagian yang berkaitan dengan perhatian dan kemampuan belajar.
Di Indonesia, persoalan ketergantungan nikotin juga menyentuh kelompok usia muda. WHO Indonesia mencatat berdasarkan Global School Health Survey 2023, sekitar 20 persen pelajar berusia 13–17 tahun menggunakan produk tembakau dan 12 persen menggunakan rokok elektronik.
Baca juga: 4,15 Juta Penduduk Usia Produktif Terpapar Napza, Empat Instansi Perkuat Penanganan
Nikotin Bekerja Cepat pada Otak
Nikotin dapat mencapai otak dengan cepat setelah masuk ke dalam tubuh. Zat tersebut memengaruhi sistem saraf dan bagian otak yang berkaitan dengan rasa nyaman serta penghargaan.
Penggunaan berulang membuat otak beradaptasi terhadap keberadaan nikotin. Tubuh kemudian dapat mengalami toleransi, yakni kondisi ketika membutuhkan paparan lebih lanjut untuk mendapatkan efek yang sebelumnya dirasakan.
Ketergantungan nikotin antara lain ditandai keinginan kuat untuk menggunakannya, kesulitan berhenti, serta toleransi terhadap nikotin. Seseorang dapat merasa membutuhkan nikotin agar merasa normal atau nyaman.
Bisa Memengaruhi Denyut Jantung dan Tekanan Darah
Efek nikotin juga berkaitan dengan sistem kardiovaskular. Paparan dalam jumlah tertentu dapat meningkatkan denyut jantung, tekanan darah, frekuensi pernapasan, serta tingkat kewaspadaan.
Pada paparan nikotin kadar rendah, efek yang dapat muncul antara lain peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan tremor. Pada paparan yang lebih berat, nikotin dapat menyebabkan gangguan irama jantung hingga gangguan pada sistem tubuh lainnya.
Efek tersebut perlu dibedakan dari dampak jangka panjang penggunaan produk tembakau. Nikotin berperan besar dalam menyebabkan ketergantungan. Sementara itu, asap rokok dan produk tembakau lainnya membawa berbagai zat berbahaya yang dapat meningkatkan risiko penyakit.
WHO menyebut penggunaan tembakau dapat menyebabkan kanker, penyakit jantung, stroke, penyakit paru-paru, penurunan kesuburan, melemahnya sistem kekebalan tubuh, hingga kematian dini. Penggunaan tembakau juga berdampak pada hampir seluruh organ tubuh.
Baca juga: Dinkes Kota Batu Bangun Kemandirian Kesehatan di 5 Pondok Pesantren
Saat Berhenti, Tubuh Mulai Beradaptasi
Ketergantungan nikotin semakin terlihat ketika seseorang menghentikan penggunaannya. Tubuh dan otak yang sebelumnya terbiasa menerima nikotin harus kembali menyesuaikan diri.
Gejala putus nikotin dapat berupa mudah marah, gelisah, cemas, sulit tidur, kesulitan berkonsentrasi, rasa lapar yang meningkat, serta keinginan kuat untuk kembali menggunakan nikotin. Gejala tersebut bersifat sementara dan berangsur berkurang ketika tubuh mulai terbiasa tanpa nikotin.
Craving atau keinginan kuat untuk kembali menggunakan nikotin juga dapat muncul dalam situasi yang sebelumnya berkaitan dengan kebiasaan merokok. Misalnya ketika berada di tempat tertentu, bertemu orang yang biasa merokok bersama, atau melakukan aktivitas yang selama ini selalu disertai rokok.
Karena itu, berhenti menggunakan produk tembakau tidak selalu cukup hanya dengan mengandalkan kemauan. Konseling dan obat-obatan tertentu dapat membantu mengatasi ketergantungan serta gejala putus nikotin.
Nikotin Tidak Sama dengan Seluruh Bahaya Tembakau
Nikotin perlu dibedakan dari seluruh bahaya yang terdapat dalam produk tembakau. Nikotin merupakan zat utama yang menyebabkan ketergantungan, sedangkan produk tembakau mengandung berbagai zat kimia lain yang dapat berkontribusi terhadap penyakit serius.
Asap rokok mengandung berbagai bahan kimia berbahaya, termasuk nitrosamin yang terbentuk selama proses penanaman, pengolahan, dan pembakaran tembakau. Senyawa tersebut berhubungan dengan risiko kanker.
Keinginan kembali menggunakan rokok akibat ketergantungan nikotin berbeda dari seluruh risiko kesehatan yang ditimbulkan rokok. Nikotin membuat penggunaan sulit dihentikan, sementara paparan zat berbahaya lain dalam produk tembakau dapat menyebabkan kerusakan kesehatan dalam jangka panjang.
Anak Muda Menjadi Kelompok yang Perlu Diperhatikan
Kelompok usia muda menjadi perhatian khusus karena perkembangan otak masih berlangsung hingga usia dewasa muda. Paparan nikotin pada masa tersebut dapat memengaruhi jalur otak yang berhubungan dengan perhatian, pembelajaran, serta pengendalian impuls.
Perkembangan produk nikotin baru juga membuat persoalan tersebut semakin kompleks. Produk seperti rokok elektronik, kantong nikotin, serta produk nikotin lainnya dapat dipasarkan dengan desain, rasa, dan citra yang menarik bagi generasi muda.
WHO Indonesia menyoroti penggunaan rasa buah dan permen, kemasan berwarna, serta desain yang dianggap modern sebagai bagian dari daya tarik produk nikotin terhadap anak muda.
Ketergantungan Dapat Diputus
Ketergantungan nikotin bukan berarti seseorang tidak dapat berhenti. Ketika penggunaan dihentikan, tubuh secara bertahap melakukan penyesuaian. Gejala putus nikotin dapat muncul pada masa awal, tetapi umumnya berkurang seiring waktu.
Dukungan konseling, strategi menghadapi craving, serta terapi yang sesuai dapat membantu proses berhenti menggunakan produk tembakau.
Nikotin bekerja cepat dan dapat membuat tubuh serta otak terbiasa terhadap keberadaannya. Sementara itu, berbagai zat berbahaya lain dalam produk tembakau turut meningkatkan risiko penyakit serius.
Memahami cara kerja nikotin penting untuk melihat persoalan tembakau secara lebih utuh, terutama ketika produk nikotin semakin mudah ditemukan dan menyasar kelompok usia yang lebih muda.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Dwiyana Khusnul Qotimah
editor: jatmiko


























