Minggu, Oktober 25, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Sastra & Budaya

Karcis

Cerpen ini Berdasarkan buku autobiografi karya Surya Burhanuddin

Redaksi by Redaksi
Oktober 25, 2026 9:29 am
in Sastra & Budaya
Karcis

Surya Burhanuddin dan Sjenny Djamain. Foto/dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Cikini, akhir 1969. Ruang kuliah itu sempit dan bising. Di antara seratus empat puluh mahasiswa baru Teknik Sipil, hanya ada kurang dari sepuluh perempuan. Sjenny duduk di barisan tengah dengan sweater kuning pucat. Ia tidak cantik dengan cara yang mencolok. Ia hanya, entah bagaimana, membuat Surya menoleh dua kali.

Tidak ada perkenalan. Tidak ada kalimat pembuka. Hanya pandangan sekilas yang kemudian, selama bertahun-tahun, terus kembali seperti undangan yang tidak pernah dicabut.

READ ALSO

Tari Gandrung Banyuwangi Kerap Meriahkan Festival Budaya di Malang

Doa-doa

Kampus ATN bukan kampus mewah. Catnya mengelupas, ruang kelasnya pengap oleh suara kendaraan di Jalan Cikini Raya. Di bawah pohon tanjung yang sedang berbunga, mahasiswa berlalu-lalang dengan map di ketiak. Surya datang dengan Vespa tuanya, Sjenny datang dengan bus kota jurusan Kebayoran.

Baca Juga: PKKMB Unikama Bedah Buku Rahasia Cinta Ilahi dan Spiritualitas Pendidikan Karakter

Awalnya mereka pulang bersama karena kebetulan. Arahnya searah. Lalu kebetulan itu menjadi kebiasaan. Lalu kebiasaan itu menjadi sesuatu yang tidak perlu diucapkan.

Sjenny sesekali menumpang Vespa Surya. Dalihnya sederhana: menghindari antrean bus, menghindari senior yang terlalu perhatian. Ia duduk di boncengan tanpa memeluk. Tangannya hanya bertengger ringan di ujung jok, menjaga jarak yang sopan. Angin sore masuk ke celah-celah kemeja mereka. Di lampu merah, Surya bisa mendengar napasnya sendiri.

Di perjalanan pulang yang pendek itu mereka berbicara tentang hal-hal kecil. Tentang dosen yang galak, tentang sistem gugur yang membuat separuh angkatan hilang, tentang keinginan Surya untuk menggambar rumah yang suatu hari akan mereka tinggali. Sjenny tertawa kecil, lalu menyanyikan sepenggal lagu, suaranya merdu seperti yang kemudian dikenal orang sebagai Trio Djamain Sisters. Surya tidak menjawab apa-apa. Ia hanya mengantar sampai halte, lalu memutar balik sendirian dalam gelap.

Tujuh tahun. Angka itu mudah ditulis, sulit dijalani.

Keluarga Sjenny mulai gelisah. Seorang gadis tidak bisa menunggu selamanya. Bisik-bisik itu sampai ke telinga Surya. Ia tidak marah. Ia hanya semakin pagi membaca koran Kompas, melipat halaman lowongan, mengirim lamaran dengan amplop cokelat besar. Ia lulus tepat waktu, menjadi satu-satunya BE sipil yang diterima di PT Pupuk Sriwidjaja pada saat itu. Baru setelah surat pengangkatan itu ia berani melamar, dengan restu paman yang mantan duta besar, dan disambut keluarga perempuan yang juga mantan duta besar.

Baca Juga: Polinema Tingkatkan Kompetensi First Aid bagi Sivitas Akademika

Tanggal 30 April 1976 mereka menikah. Sjenny anggun dalam busana adat Makassar. Surya mengucapkan ijab kabul dengan suara yang tidak bergetar, padahal lututnya gemetar di balik meja.

Sehari setelah resepsi, mereka berangkat ke Singapura. Seminggu. Bagi orang 1976, keluar negeri bukan liburan, itu pembuktian. Surya menggenggam tangan Sjenny di Orchard Road yang berkilau, dan dalam hati ia berjanji: kebahagiaan bukan di etalase itu, melainkan pada perempuan di sampingnya.

Setahun kemudian mereka kembali bepergian, ke Hongkong dan Kuala Lumpur. Di Kuala Lumpur yang lembap dan hangat, Sjenny berkata pelan di kamar hotel sederhana: negeri ini membuat hatinya tenang, seperti pernah mengenalnya. Surya membeli beberapa kaset Sharifah Aini. Di perjalanan pulang, mereka memutarnya berulang-ulang di mobil pinjaman.

Lima belas bulan setelah menikah, penantian mereka dijawab. Sjenny mengandung. Dokter bilang sehat. Surya menunduk lama di koridor rumah bersalin, bahunya bergetar.

Reiza kini di Jakarta, Yanuar di Singapura, Rizki di Malaysia. Tujuh ratus anak muda yang mereka kirim kuliah ke luar negeri kini tersebar lintas benua, tetapi tidak satu pun dari semua perjalanan itu lebih jauh daripada perjalanan pulang yang pendek dari Cikini ke Kebayoran dulu.

Lima puluh tahun kemudian, di beranda rumah mereka di Malang, senja turun perlahan. Sjenny kini lebih banyak duduk, rambutnya memutih, tangannya masih hangat ketika digenggam. Surya membereskan laci meja kerja, tempat ia menyimpan kertas-kertas yang seharusnya sudah dibuang.

Di dasar laci, ia menemukan benda kecil: karcis bus kota yang sudah menguning, robek di satu sudut. Tanggalnya luntur, tetapi ia ingat. Itu karcis yang Sjenny simpan diam-diam bertahun-tahun lalu, peninggalan hari-hari ketika ia masih memilih bus daripada Vespa, hari-hari ketika cinta mereka masih berbentuk jarak yang dijaga sopan.

Ia tidak tahu kenapa Sjenny menyimpannya. Mungkin karena ia juga takut melupakan. Mungkin karena, seperti dia, Sjenny ingin bukti bahwa perjalanan panjang itu pernah dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.

Sore itu, dari radio tua di ruang tamu, lagu lama Sharifah Aini mengalun lagi. Sjenny menoleh dari dapur, tersenyum.

Surya memasukkan kembali karcis itu ke dalam dompetnya, di balik kartu-kartu yang sudah tidak dipakai. Bukan karena ia takut kehilangan. Tetapi karena ia tahu, cinta yang bertahan lima puluh tahun tidak pernah tinggal di kata-kata besar.

Ia tinggal di karcis bus yang tak pernah dipakai, di kaset yang pita suaranya mulai serak, di tangan yang bertengger ringan di ujung jok Vespa, dan tidak pernah benar-benar pergi.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Editor: Herlianto. A

Tags: Cerita PendekKarcis

Related Posts

Tari Gandrung Banyuwangi Kerap Meriahkan Festival Budaya di Malang
Sastra & Budaya

Tari Gandrung Banyuwangi Kerap Meriahkan Festival Budaya di Malang

Selasa, 11 Agu 2026
Ilustrasi doa-doa. Foto/dok
Sastra & Budaya

Doa-doa

Minggu, 26 Jul 2026
Ayat-Ayat Luka
Ruang Cendekia

Ayat-Ayat Luka

Minggu, 19 Jul 2026
Novel Alternate Universe
Sastra & Budaya

Rekomendasi 3 Novel Alternate Universe dengan Cerita Lintas Dimensi

Kamis, 25 Jun 2026
Amalan Hari Jumat sebagaimana anjuran Rasulullah SAW yang diyakini akan membawa keberkahan bagi setiap umat Muslim. /Foto: Pinterest/Herman Adriansyah
Sastra & Budaya

Banyak Keberkahan, 4 Amalan di Hari Jumat Sebagaimana Anjuran Rasulullah SAW

Jumat, 17 Apr 2026
5 Novel Chicklit
Sastra & Budaya

5 Novel Chicklit yang Centil Karya Sophie Kinsella

Sabtu, 28 Mar 2026
Next Post
4,1 Juta Anak Tak Bersekolah, Wamensos Ajak Muhammadiyah Perluas Akses Pendidikan

4,1 Juta Anak Tak Bersekolah, Wamensos Ajak Muhammadiyah Perluas Akses Pendidikan

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10222026 3
Iklantm 10222026 2
Iklantm 10212026 1
Iklantm 10162026 2
Iklantm 10162026 3
Iklantm 10192026 1
Iklantm 10162026 4
Iklantm 10162026 1
Iklantm 10162026 11
Iklantm 10162026 5
Iklantm 10162026 6
Iklantm 10162026 7
Iklantm 10162026 8
Iklantm 10162026 9
Iklantm 10162026 10
Iklantm 10162026 12
Iklantm 10162026 13
Iklantm 10172026 1
Iklantm 10172026 2
Iklantm 10202026 1
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.