Oleh: Rohim Warisi*
Tugumalang.id – Sekitar setahun yang lalu, Daud mulai bisa melihat do’a-do’a yang dipanjatkan oleh orang-orang di sekitarnya.
Do’a-do’a itu muncul di atas kepala pendo’a, seperti deretan tulisan yang berjajar, membentuk kata-kata, membentuk kalimat, lalu diam sebentar di udara sebelum menghilang perlahan-lahan.
Seperti do’a Salman, ketika shalat Jum’at di masjid desa. Dari belakang, Daud melihat di atas kepala Salman tampak tulisan,
“Tuhan, saya ingin motor keluaran terbaru.”
Tentu saja Daud tahu kalau Salman sedang berdo’a agar punya motor keluaran terbaru. Pun Daud juga tahu, kalau do’a itu sulit terkabul, sebab profesi Salman sebagai pengangguran hebat yang selalu menghabiskan waktunya memancing di pinggiran kali. Salman bisa berangkat memancing sejak pagi, pulang menjelang magrib, lalu bercerita seolah-olah ikan-ikan di sungai telah bersepakat menolak rezekinya.
Begitu pun do’a-do’a orang lain di dalam masjid. Berderet banyak tulisan keinginan dari masing-masing jama’ah shalat Jum’at. Ada yang meminta anaknya diterima kerja. Ada yang meminta utangnya lunas. Ada yang meminta istrinya tidak curiga kalau ia pulang malam. Ada juga yang meminta tetangganya segera sadar diri, padahal tetangga yang dimaksud sedang duduk tidak jauh darinya.
Dan hanya Daud yang bisa melihat itu.
Tentang kemampuan ini, Daud mendapatkannya setelah ia tertidur di makam Kiai Luqman, pengasuh pesantrennya dulu.
Baca Juga: Cetak Talenta Baru Seni dan Sastra, Disdik Kota Batu Gelar FLS3N SMP/MTs 2026
Waktu itu Daud baru saja boyong dari pesantren. Seperti santri-santri lain yang akan pulang, Daud ikut ziarah ke makam Kiai Luqman untuk pamit. Di pesantren Daud, hal seperti itu sudah menjadi kebiasaan. Tradisi itu sederhana saja: membaca tahlil, menundukkan kepala, lalu pamit baik-baik. Di pesantren, bahkan pulang pun harus memakai adab.
Daud datang bersama beberapa kawannya. Mereka duduk melingkar di dekat makam, membaca tahlil dan do’a pelan-pelan. Malam itu tubuh Daud capek sekali. Beberapa hari sebelumnya ia kurang tidur karena ikut mengurusi proses kelulusan santri. Ada perasaan senang karena sebentar lagi pulang, tapi ada juga perasaan sedih karena harus meninggalkan tempat yang bertahun-tahun membuatnya hafal pada bunyi kentongan, jadwal ngaji, dan suara pengurus keamanan yang memanggil namanya setiap kali ia melanggar aturan.
Sebab semasa di pesantren, Daud bukan termasuk santri yang menonjol. Ia tidak pandai membaca kitab kuning. Hafalannya biasa saja. Dalam urusan melanggar peraturan, barulah ia sering terlihat seperti santri yang punya bakat besar. Ia pernah telat jama’ah, pernah tidur saat ngaji, pernah juga dihukum berdiri di depan kantor keamanan sambil membaca istighfar sampai kakinya pegal.
Entah sejak bacaan ke berapa, kepala Daud mulai berat. Ia mencoba tetap duduk tegak, tetapi matanya berkali-kali terpejam. Kawan-kawannya melihat itu, namun tidak ada yang membangunkannya. Mereka mengira Daud hanya kelelahan. Lagi pula, siapa yang tega membangunkan orang yang tertidur sambil duduk di makam kiai, pada malam terakhirnya sebagai santri?
Maka Daud dibiarkan tertidur di sana, masih dalam posisi duduk, dengan kepala sedikit menunduk.
Dalam tidurnya, Daud bermimpi melihat Kiai Luqman duduk tidak jauh darinya. Wajah kiai itu tampak tenang, seperti biasanya ketika masih hidup dan mengaji di depan para santri. Daud ingin mendekat, tetapi kakinya seperti tertahan. Ia hanya bisa menunduk.
Lalu Kiai Luqman berkata pelan,
“Yang naik ke langit, biarkan di langit.”
Setelah itu Daud terbangun. Malam masih gelap. Kawan-kawannya masih membaca do’a. Kaki Daud kesemutan karena terlalu lama duduk. Ia meluruskan kakinya pelan-pelan, lalu mengusap wajahnya.
Baca Juga: Festival Sastra Kota Malang 2025, Menggugat Narasi Tunggal Kota
“Mimpi aneh,” gumam Daud.
Tetapi sejak malam itu, hidup Daud tidak lagi sama.
Awalnya Daud mengira kemampuan itu adalah anugerah. Ia merasa seperti diberi kelebihan yang tidak diberikan kepada orang lain. Tetapi lama-lama Daud sadar, tidak semua yang tersembunyi baik untuk diketahui. Do’a memang dipanjatkan kepada Tuhan, tetapi banyak do’a yang kalau dibaca manusia lain akan menjadi urusan panjang.
Daud pernah sekali keceplosan setelah membaca do’a Bu Marni.
“Ya Allah, semoga uang arisan yang kupakai kemarin bisa kuganti sebelum ketahuan.”
Malamnya, ketika ibu-ibu arisan ribut karena uang di amplop kurang dari catatan bendahara, Daud tiba-tiba berkata, “Coba tanya Bu Marni.”
Kalimat pendek itu membuat urusan menjadi panjang. Bu Marni menangis, ibu-ibu tersinggung, dan Pak RT pusing menengahi perkara yang sebenarnya tidak ingin diketahui siapa-siapa.
Sejak kejadian itu, Daud mengerti, do’a yang bocor tidak selalu menjadi petunjuk. Kadang ia hanya menjadi perkara baru yang lebih sulit ditutup.
Sejak saat itu, Daud lebih sering menunduk. Ia hanya bisa melihat do’a ketika orang sedang berdo’a. Di luar itu, orang-orang tetap menjadi rahasia seperti biasa. Kalau ia memalingkan wajah, do’a itu lewat begitu saja. Tetapi kalau sudah terbaca, ia tidak bisa melupakannya.
Kepada Sumaiyah, Daud paling sering menunduk.
Sumaiyah adalah perempuan dari desa sebelah. Desa mereka bersebelahan, hanya dipisahkan oleh sungai kecil dan jalan yang kalau musim hujan berubah menjadi licin seperti niat orang yang sedang berbohong. Sumaiyah biasa membantu ibunya berjualan di warung. Kadang ia juga mengajar anak-anak kecil mengaji di mushala.
Sumaiyah bukan perempuan yang membuat semua laki-laki berhenti bekerja saat ia lewat. Tetapi entah kenapa, setiap Sumaiyah lewat depan rumah Daud, Daud selalu merasa ada sesuatu dalam dirinya yang ikut berjalan.
Daud menyukai Sumaiyah dengan cara yang paling tidak berguna, yaitu diam-diam. Ia tidak pernah datang ke rumah Sumaiyah. Tidak pernah mengirim salam. Tidak pernah mengatakan apa-apa. Ia hanya menjadi laki-laki yang tahu kapan Sumaiyah biasanya lewat, lalu pura-pura sedang menyapu halaman, pura-pura membetulkan sandal, pura-pura mencari sesuatu yang sebenarnya tidak hilang.
Pernah suatu sore, Sumaiyah membeli gula di warung dekat rumah Daud. Padahal di dekat rumahnya sendiri ada warung. Daud tahu itu, tapi ia pura-pura tidak tahu. Sumaiyah juga tahu Daud pura-pura tidak tahu, sebab setelah menerima kembalian, ia tersenyum kecil tanpa melihat Daud.
Daud sering mendengar orang-orang membicarakan Sumaiyah. Katanya Sumaiyah pantas mendapat laki-laki yang jelas. Yang punya pekerjaan tetap. Yang punya keberanian. Yang kalau datang ke rumah orang tua perempuan tidak hanya membawa niat baik, tetapi juga membawa kepastian.
Pernah juga Daud mendengar ibu Sumaiyah berkata di warung, bahwa perempuan tidak bisa menunggu laki-laki yang hanya pandai diam. Waktu itu Daud sedang membeli rokok eceran. Ia pura-pura tidak mendengar, tetapi kalimat itu pulang lebih dulu ke dadanya daripada kakinya sendiri.
Daud tidak marah mendengar itu. Sebab ia tahu, setelah boyong dari pesantren, ia memang belum menjadi apa-apa. Ia bukan kiai, bukan ustadz besar, bukan pedagang berhasil. Ia hanya Daud. Orang yang bisa membaca do’a orang lain, tetapi tidak bisa membaca masa depannya sendiri.
Maka setiap melihat Sumaiyah berdo’a, Daud memilih tidak melihat. Di pengajian, di mushala, di rumah orang hajatan, Daud selalu menunduk. Ia takut isi do’a Sumaiyah berisi nama laki-laki lain. Tetapi ia juga takut kalau isi do’a Sumaiyah berisi namanya. Sebab dua-duanya sama-sama bisa membuat hati menjadi tidak tenang.
Beberapa hari yang lalu, ketakutan Daud akhirnya kalah.
Sore itu hujan turun deras. Daud berteduh di mushala desa sebelah setelah pulang dari rumah temannya. Ia duduk di dekat pintu, memperhatikan air yang jatuh dari ujung genting. Di dalam mushala, hanya ada beberapa orang. Sebagian sudah pulang. Sebagian masih duduk membaca do’a.
Di sudut depan, Daud melihat Sumaiyah baru selesai shalat.
Daud segera menunduk. Ia ingat mimpi di makam Kiai Luqman. Ia ingat kalimat yang dulu terdengar seperti pesan, tapi belakangan terasa seperti larangan.
“Yang naik ke langit, biarkan di langit.”
Tetapi manusia sering kalah bukan oleh sesuatu yang besar, melainkan oleh sesuatu yang sangat kecil. Satu lirikan. Satu rasa ingin tahu. Satu harapan yang sejak lama disimpan dalam dada.
Daud mengangkat wajahnya sedikit.
Sumaiyah sedang mengangkat kedua tangan. Kepalanya tertunduk. Di atas kepalanya, perlahan muncul deretan tulisan yang hanya bisa dilihat Daud.
Daud tahu ia harus segera memalingkan wajah. Ia tahu ia tidak berhak membaca do’a itu. Tetapi matanya terlanjur sampai pada kalimat pertama.
Ya Allah, bunuh cintaku pada Daud
*Penulis adalah Khodimul Ma’had Pondok Pesantren Terpadu Al-Amin.
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

























