Tugumalang.id – Cikini, akhir 1969. Ruang kuliah itu sempit dan bising. Di antara seratus empat puluh mahasiswa baru Teknik Sipil, hanya ada kurang dari sepuluh perempuan. Sjenny duduk di barisan tengah dengan sweater kuning pucat. Ia tidak cantik dengan cara yang mencolok. Ia hanya, entah bagaimana, membuat Surya menoleh dua kali.
Tidak ada perkenalan. Tidak ada kalimat pembuka. Hanya pandangan sekilas yang kemudian, selama bertahun-tahun, terus kembali seperti undangan yang tidak pernah dicabut.
Kampus ATN bukan kampus mewah. Catnya mengelupas, ruang kelasnya pengap oleh suara kendaraan di Jalan Cikini Raya. Di bawah pohon tanjung yang sedang berbunga, mahasiswa berlalu-lalang dengan map di ketiak. Surya datang dengan Vespa tuanya, Sjenny datang dengan bus kota jurusan Kebayoran.
Baca Juga: PKKMB Unikama Bedah Buku Rahasia Cinta Ilahi dan Spiritualitas Pendidikan Karakter
Awalnya mereka pulang bersama karena kebetulan. Arahnya searah. Lalu kebetulan itu menjadi kebiasaan. Lalu kebiasaan itu menjadi sesuatu yang tidak perlu diucapkan.
Sjenny sesekali menumpang Vespa Surya. Dalihnya sederhana: menghindari antrean bus, menghindari senior yang terlalu perhatian. Ia duduk di boncengan tanpa memeluk. Tangannya hanya bertengger ringan di ujung jok, menjaga jarak yang sopan. Angin sore masuk ke celah-celah kemeja mereka. Di lampu merah, Surya bisa mendengar napasnya sendiri.
Di perjalanan pulang yang pendek itu mereka berbicara tentang hal-hal kecil. Tentang dosen yang galak, tentang sistem gugur yang membuat separuh angkatan hilang, tentang keinginan Surya untuk menggambar rumah yang suatu hari akan mereka tinggali. Sjenny tertawa kecil, lalu menyanyikan sepenggal lagu, suaranya merdu seperti yang kemudian dikenal orang sebagai Trio Djamain Sisters. Surya tidak menjawab apa-apa. Ia hanya mengantar sampai halte, lalu memutar balik sendirian dalam gelap.
Tujuh tahun. Angka itu mudah ditulis, sulit dijalani.
Keluarga Sjenny mulai gelisah. Seorang gadis tidak bisa menunggu selamanya. Bisik-bisik itu sampai ke telinga Surya. Ia tidak marah. Ia hanya semakin pagi membaca koran Kompas, melipat halaman lowongan, mengirim lamaran dengan amplop cokelat besar. Ia lulus tepat waktu, menjadi satu-satunya BE sipil yang diterima di PT Pupuk Sriwidjaja pada saat itu. Baru setelah surat pengangkatan itu ia berani melamar, dengan restu paman yang mantan duta besar, dan disambut keluarga perempuan yang juga mantan duta besar.
Baca Juga: Polinema Tingkatkan Kompetensi First Aid bagi Sivitas Akademika
Tanggal 30 April 1976 mereka menikah. Sjenny anggun dalam busana adat Makassar. Surya mengucapkan ijab kabul dengan suara yang tidak bergetar, padahal lututnya gemetar di balik meja.
Sehari setelah resepsi, mereka berangkat ke Singapura. Seminggu. Bagi orang 1976, keluar negeri bukan liburan, itu pembuktian. Surya menggenggam tangan Sjenny di Orchard Road yang berkilau, dan dalam hati ia berjanji: kebahagiaan bukan di etalase itu, melainkan pada perempuan di sampingnya.
Setahun kemudian mereka kembali bepergian, ke Hongkong dan Kuala Lumpur. Di Kuala Lumpur yang lembap dan hangat, Sjenny berkata pelan di kamar hotel sederhana: negeri ini membuat hatinya tenang, seperti pernah mengenalnya. Surya membeli beberapa kaset Sharifah Aini. Di perjalanan pulang, mereka memutarnya berulang-ulang di mobil pinjaman.
Lima belas bulan setelah menikah, penantian mereka dijawab. Sjenny mengandung. Dokter bilang sehat. Surya menunduk lama di koridor rumah bersalin, bahunya bergetar.
Reiza kini di Jakarta, Yanuar di Singapura, Rizki di Malaysia. Tujuh ratus anak muda yang mereka kirim kuliah ke luar negeri kini tersebar lintas benua, tetapi tidak satu pun dari semua perjalanan itu lebih jauh daripada perjalanan pulang yang pendek dari Cikini ke Kebayoran dulu.
Lima puluh tahun kemudian, di beranda rumah mereka di Malang, senja turun perlahan. Sjenny kini lebih banyak duduk, rambutnya memutih, tangannya masih hangat ketika digenggam. Surya membereskan laci meja kerja, tempat ia menyimpan kertas-kertas yang seharusnya sudah dibuang.
Di dasar laci, ia menemukan benda kecil: karcis bus kota yang sudah menguning, robek di satu sudut. Tanggalnya luntur, tetapi ia ingat. Itu karcis yang Sjenny simpan diam-diam bertahun-tahun lalu, peninggalan hari-hari ketika ia masih memilih bus daripada Vespa, hari-hari ketika cinta mereka masih berbentuk jarak yang dijaga sopan.
Ia tidak tahu kenapa Sjenny menyimpannya. Mungkin karena ia juga takut melupakan. Mungkin karena, seperti dia, Sjenny ingin bukti bahwa perjalanan panjang itu pernah dimulai dari sesuatu yang sangat kecil.
Sore itu, dari radio tua di ruang tamu, lagu lama Sharifah Aini mengalun lagi. Sjenny menoleh dari dapur, tersenyum.
Surya memasukkan kembali karcis itu ke dalam dompetnya, di balik kartu-kartu yang sudah tidak dipakai. Bukan karena ia takut kehilangan. Tetapi karena ia tahu, cinta yang bertahan lima puluh tahun tidak pernah tinggal di kata-kata besar.
Ia tinggal di karcis bus yang tak pernah dipakai, di kaset yang pita suaranya mulai serak, di tangan yang bertengger ringan di ujung jok Vespa, dan tidak pernah benar-benar pergi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A





































