MALANG, Tugumalang.id – Hari ini, 1 Oktober, 4 tahun lalu (1/10/2022) menjadi momen kelabu bagi dunia sepakbola tanah air. Semua berawal ketika Arema FC kalah 2-3 dari Persebaya.
Setelah pertandingan berakhir, sebagian suporter Arema turun ke lapangan. Situasi kemudian berkembang menjadi kericuhan dan aparat keamanan melakukan penembakan gas air mata.
Baca Juga: Alun-Alun Kepanjen di Stadion Kanjuruhan Masih Dikaji, Ini Pertimbangannya
Menurut rangkuman tugumalang.id yang mengutip laporan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF), gas air mata kemudian menyebar dan memicu kepanikan penonton. Sebagian penonton berusaha meninggalkan tribun melalui pintu keluar yang kondisinya sudah sangat padat. Terjadi desak-desakan dan jatuhnya korban.
Persoalan penting yang kemudian menjadi pusat penyelidikan adalah penggunaan gas air mata di dalam stadion, termasuk penembakan ke arah tribun. Total ada 135 nyawa yang melayang. Lima korban masih berusia di bawah 13 tahun. Artinya, terdapat pula anak-anak yang menjadi korban tragedi tersebut.

Dalam liputannya, penyebab kematian menurut beberapa sumber tugumalang.id, penyebabnya kekurangan oksigen, terinjak-injak, hingga dampak gas air mata. Pada April 2023, Tugumalang.id menulis bahwa keluarga korban tetap menuntut proses hukum meskipun telah ada putusan pengadilan.
Bagi sebagian keluarga, persoalannya bukan hanya mengenai uang atau kompensasi. Mereka mempertanyakan pertanggungjawaban atas meninggalnya anggota keluarga mereka.
Pada peristiwa ini, gate 13 menjadi salah satu titik penting dalam kegiatan mengenang korban. Pada Juni 2024, Forkopimda Kabupaten Malang bersama keluarga korban menggelar doa bersama di depan Gate 13.
Baca Juga: Arema FC Siap Kelola Stadion Kanjuruhan dengan Konsep Legacy Safety
Gate ini disebut gate maut karena tidak terbukanya pintu di gate ini, ditengarai menjadi penyebab berdesak-desakannya supporter hingga membuat puluhan orang terinjak-injak dan meninggal dunia.
Pada Juli 2024, Tugumalang.id melaporkan bahwa keluarga korban membentuk Yayasan Keadilan Tragedi Kanjuruhan (YKTK). Pembentukan yayasan tersebut menjadi salah satu bentuk upaya keluarga untuk memberikan dukungan sosial dan menjaga perjuangan keluarga korban.
Karena tragedi ini juga, Stadion Kanjuruhan dibangun kembali oleh pemerintah pusat. Setelah sekitar dua tahun, Arema FC kembali menggunakan Stadion Kanjuruhan. Tugumalang.id mencatat kepastian tersebut setelah adanya nota kesepahaman terkait penggunaan stadion.
Tragedi Kanjuruhan bukan sekadar kerusuhan seusai pertandingan Arema FC–Persebaya pada 1 Oktober 2022, tetapi sebuah tragedi kemanusiaan yang menewaskan 135 orang, melukai lebih dari 600 orang, memunculkan perdebatan panjang mengenai penggunaan gas air mata, sistem keselamatan stadion dan pertanggungjawaban hukum, serta meninggalkan trauma dan perjuangan keadilan yang masih berlangsung hingga 2026.
Tragedi Kanjuruhan juga pukulan bagi para keluarga, teman, kerabat, dan semua pihak yang ditinggalkan oleh orang-orang tersayang. “Saya malah nggak tahu (Agil suka bersedekah). Saya tahunya dari orang-orang yang melayat,” ujar Winartiningsih (55), ibu dari Agil saat ditemui di rumah duka, Rabu (5/10/2022).
Semoga tidak ada lagi, nyawa yang melayang sia-sia, apalagi karena Sepakbola.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Tim Peliput Tragedi Kanjuruhan: Aisyah Nawangsari Putri, Ulul Azmy, M. Sholeh, Bagus Rachmad Saputra
Editor: Herlianto. A































