Oleh: Dr. Aries Musnandar
KITA sering berharap guru agama mampu membentuk generasi yang berakhlak, toleran, dan cinta damai. Harapan itu tentu wajar. Namun, ada pertanyaan yang tidak kalah penting, siapa yang menyiapkan guru agama tersebut?, jawabannya membawa kita ke perguruan tinggi.
Guru agama tidak lahir hanya karena seseorang menguasai materi keislaman. Ia harus memahami peserta didik, menguasai pedagogi, mampu berkomunikasi, memiliki integritas, dan dapat menerjemahkan nilai agama ke dalam kehidupan nyata.
Karena itu, pendidikan calon guru agama tidak boleh hanya menghasilkan orang yang pintar berbicara tentang Islam. Pendidikan tinggi harus melahirkan pendidik yang mampu menghidupkan nilai Islam dalam perilaku.
Dalam konteks inilah Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) memiliki tanggung jawab strategis.
Dosen Bukan Sekadar Pengajar
Dosen MPAI berhadapan dengan mahasiswa yang sebagian akan kembali ke sekolah dan madrasah sebagai guru agama, sementara sebagian lainnya dapat berkiprah dalam berbagai profesi pendidikan dan pelayanan keagamaan, termasuk lingkungan Kementerian Agama.
Mereka membutuhkan bekal yang lebih luas daripada penguasaan teori. Mahasiswa perlu memahami bagaimana merancang pembelajaran yang bermakna, melakukan asesmen secara adil, memanfaatkan teknologi, mengembangkan komunikasi yang efektif, serta menghadapi persoalan sosial yang semakin kompleks. Tetapi ada satu hal yang tidak boleh hilang, yakni keteladanan.
Dosen yang berbicara tentang toleransi tetapi tidak memberi ruang bagi perbedaan pendapat sedang memberikan pelajaran yang kontradiktif.
Dosen yang mengajarkan akhlak tetapi mempermalukan mahasiswa ketika melakukan kesalahan juga sedang menyampaikan pesan pendidikan yang kuat, meskipun bukan pesan yang diinginkan. Mahasiswa belajar dari suasana kelas sebagaimana mereka belajar dari buku.
Karena itu, dosen MPAI sesungguhnya mempunyai dua tugas sekaligus: mentransfer pengetahuan dan membentuk kultur akademik yang mencerminkan nilai-nilai pendidikan Islam.
Menyiapkan Guru yang Profesional
Guru agama masa kini menghadapi tantangan yang berbeda dari masa lalu. Informasi keagamaan dapat diperoleh dengan cepat melalui media sosial. Anak-anak tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari YouTube, TikTok, Instagram, dan berbagai sumber digital lainnya.
Guru tidak mungkin lagi hanya menjadi sumber informasi. Guru harus menjadi pembimbing yang membantu peserta didik memilah informasi, memahami konteks, berpikir kritis, dan menggunakan pengetahuan agama secara bertanggung jawab.
Karena itu, calon guru agama perlu dibekali kemampuan digital literacy sekaligus religious literacy. Mereka harus mampu menghadapi informasi keagamaan yang beragam tanpa kehilangan dasar-dasar keilmuan dan nilai Islam. Di sinilah pembelajaran di MPAI harus responsif terhadap perubahan zaman.
Profesional di Kementerian Agama
Hal yang sama berlaku bagi mahasiswa yang kelak bekerja sebagai profesional atau aparatur di lingkungan Kementerian Agama. Mereka bukan hanya membutuhkan kemampuan administratif. Mereka berhadapan dengan masyarakat yang beragam dan membawa institusi keagamaan dalam menjalankan pelayanan publik.
Karena itu, profesionalisme perlu dibangun bersama integritas. Pelayanan yang baik membutuhkan kompetensi, kedisiplinan, tanggung jawab, komunikasi, objektivitas, dan kemampuan memahami masyarakat. Nilai keagamaan semestinya memperkuat semua itu, bukan menjadi pengganti profesionalisme.
Dengan demikian, lulusan MPAI diharapkan tidak hanya memahami pendidikan Islam secara konseptual, tetapi mampu menerjemahkan nilai Islam ke dalam praktik profesional.
Perdamaian Dimulai dari Profesionalisme
Ada hubungan yang sering luput antara profesionalisme dan perdamaian. Masyarakat akan lebih mudah mempercayai institusi ketika pelayanan diberikan secara adil dan manusiawi. Konflik sosial juga dapat diredam ketika orang-orang yang menjalankan fungsi publik mampu berkomunikasi dengan baik dan memperlakukan masyarakat secara bermartabat.
Karena itu, membangun perdamaian tidak selalu harus dilakukan melalui pidato tentang perdamaian. Seorang guru yang mencegah bullying sedang membangun perdamaian.
Seorang kepala madrasah yang menyelesaikan konflik secara adil sedang membangun perdamaian. Seorang pegawai Kementerian Agama yang memberikan pelayanan secara profesional tanpa diskriminasi juga sedang membangun perdamaian.
Dan seorang dosen MPAI yang membimbing mahasiswa menjadi guru serta profesional keagamaan yang berintegritas sedang menanamkan mata rantai perdamaian untuk masa depan.
Dari Kampus ke Masyarakat
Perguruan tinggi memiliki posisi penting dalam mata rantai tersebut. Apa yang terjadi di ruang kuliah dapat dibawa mahasiswa ke ruang kelas sekolah, madrasah, kantor pemerintahan, organisasi masyarakat, dan lingkungan sosialnya.
Karena itu, pertanyaan tentang kualitas pendidikan Islam sebenarnya bukan hanya pertanyaan tentang kurikulum. Ia juga pertanyaan tentang manusia seperti apa yang kita bentuk melalui pendidikan tersebut.
Apakah lulusan kita hanya mampu menjawab soal ujian? ataukah mereka mampu menghadapi perbedaan, menyelesaikan konflik, melayani masyarakat, mendidik dengan keteladanan, dan menghadirkan kemaslahatan?.
Jika pendidikan Islam ingin berkontribusi pada perdamaian dunia, maka jawabannya harus dimulai dari manusia yang kita siapkan hari ini.
Guru agama dan profesional Kementerian Agama adalah bagian penting dari ekosistem tersebut. Dosen MPAI memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa mereka tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga matang secara moral dan sosial.
Sebab, dunia tidak hanya membutuhkan orang yang mampu berbicara tentang perdamaian. Dunia membutuhkan manusia yang mampu mempraktikkan perdamaian dalam pekerjaan, pendidikan, pelayanan, dan kehidupan sehari-hari.
Dan proses melahirkan manusia seperti itu dapat dimulai dari sebuah ruang kuliah sederhana, yakni ketika seorang dosen membimbing mahasiswa untuk memahami bahwa ilmu bukan sekadar untuk diketahui, tetapi untuk dihidupkan dan memberi manfaat bagi sesama.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
*Penulis adalah Dosen Fakultas Ilmu Keislaman (FIK) dan Magister PAI Universitas Raden Rahmat (UNIRA) Malang.
*Tugumalang.id mengundang para akademisi maupun praktisi untuk menulis di Ruang Cendekia melalui email: ruangakademika2026@gmail.com.































