Minggu, Oktober 11, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Ruang Cendekia

Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’

Redaksi by Redaksi
Agustus 24, 2026 1:25 pm
in Ruang Cendekia
Membaca Ulang Warisan Spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah dalam ‘Sendang Winotan’
Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Balya Ibnu Malkan*

Di lingkungan pesantren, pengetahuan tidak hanya diwariskan melalui lembaran-lembaran kitab kuning. Ada cara lain yang tidak kalah penting dalam menjaga sejarah, yaitu “sanad laku” atau rantai keteladanan dan spiritualitas.

READ ALSO

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Tradisi lisan dan ingatan bersama tentang bagaimana seorang kiai bersikap, beribadah, dan berinteraksi dengan masyarakat sering kali menjadi pelajaran yang lebih hidup daripada sekadar teks tertulis. Sayangnya, ingatan yang disampaikan dari mulut ke mulut ini mudah hilang seiring berpulangnya para santri sepuh yang menjadi saksi perjalanan hidup seorang kiai.

Dalam kegelisahan menjaga ingatan itulah, buku “Sendang Winotan: Kisah Teladan dan Amalan KH Abdul Hamid Chasbullah” hadir layaknya oase literasi. Membaca buku ini, kita disuguhkan sebuah gagasan penting tentang inti pendidikan pesantren: “warisan terbesar seorang ulama bukanlah banyaknya karya yang ditinggalkan, melainkan akhlak, ilmu, dan keteladanan yang terus hidup dalam diri murid-muridnya”. Buku ini merupakan ikhtiar yang patut diapresiasi karena berusaha merawat warisan tersebut dalam bentuk buku yang kini dapat diakses publik luas.

Membicarakan sejarah Nahdlatul Ulama (NU), khususnya di kawasan Jombang yang menjadi rahim kebangkitan ulama, tidak mungkin melepaskan peran jejaring Pesantren Tambakberas. Di tengah pergerakan keagamaan inilah sosok KH Abdul Hamid Chasbullah menorehkan jejak pengabdiannya. Namun, membaca rekam jejak beliau melalui buku ini membawa kita pada corak kepemimpinan yang sangat lumrah ditemui pada kiai-kiai khos (kiai utama atau sepuh) di lingkungan Nahdliyin.

Kesan kesederhanaan tersebut terlihat ketika kita melihat desain sampul buku. Potret sang kiai yang menunduk tawadhu dengan raut wajah teduh, mengenakan pakaian serba putih yang bersahaja, serta berlatar siluet menara masjid bersejarah, seolah menunjukkan bahwa sang tokoh adalah patron yang membumi.

Baca juga: Menagih Batin Jam’iyyah: Mengapa NU Tak Boleh Berjarak Sejengkal Pun dari Pesantren?

Seperti yang ditekankan dalam keterangan di sampul bukunya, di balik perjalanan sejarah NU, beliau adalah sosok ulama yang pengaruhnya begitu luas, tetapi memilih hidup sederhana. KH Abdul Hamid Chasbullah menunjukkan kepemimpinan yang menjauhi panggung publisitas. Daya tarik dan wibawa beliau bersumber dari kedalaman ilmu, keikhlasan berkhidmat tanpa pamrih, keluhuran akhlak, serta istiqamah dalam membimbing masyarakat akar rumput.

Dari sudut pandang jurnalistik maupun kajian sosial keislaman, terbitnya “Sendang Winotan” penting karena ikut mendokumentasikan tradisi lisan pesantren. Selama ini, kisah kekeramatan, laku prihatin (tirakat), hingga amalan-amalan seorang kiai lebih sering beredar dari mulut ke mulut, di warung kopi sekitar madrasah, di serambi masjid kala senja, atau setahun sekali dalam majelis-majelis haul. Melalui buku ini, ingatan yang berpotensi tercecer itu dibukukan dan ditata dengan lebih rapi.

Secara umum, buku ini menghimpun kisah-kisah inspiratif, nasihat, tuntunan amalan, doa, wirid, hingga laku spiritual KH Abdul Hamid Chasbullah. Hal-hal yang bersifat batiniah dan personal itu sebelumnya diwariskan dari para murid dan keluarga secara turun-temurun. Tentu harus diakui, menyusun biografi spiritual berdasarkan ingatan lisan rentan terjebak pada pengagungan berlebihan atau pandangan subjektif dari sang pencerita.

Akan tetapi, karya ini menunjukkan upaya yang cukup hati-hati. Keterlibatan banyak pihak dalam proses penyusunannya menjadi cara untuk saling memeriksa dan memastikan cerita yang ditulis, sesuai dengan tradisi tabayyun dalam pesantren. Buku ini ditulis oleh KH Ainur Rofiq Al-Amin dan KH Muhammad Syifa’ Malik, dengan proses kompilasi naskah oleh Ahsani Fathurrohman dan Fathul H. Panatapraja, serta diperkuat sambutan pembuka dari KH Abdurrozaq Sholeh.

Kolaborasi dalam penulisan ini membuat setiap riwayat dan sanad amaliyah yang dicantumkan memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan secara historis maupun syariat.

Bagi warga jam’iyah Nahdlatul Ulama, buku semacam ini memiliki manfaat yang lebih luas daripada sekadar catatan biografi. Frasa “Sendang Winotan” secara puitis merujuk pada telaga spiritual yang airnya tak pernah surut membasuh dahaga. Di tengah kehidupan digital yang riuh dan serba pragmatis, buku ini bisa menjadi panduan amaliyah sehari-hari yang menenangkan. Kumpulan doa dan wirid di dalamnya dapat menjadi pedoman praktis bagi nahdliyin untuk menjaga ketenangan batin.

Lebih jauh lagi, buku seperti ini bisa menjadi pengingat bagi warga NU untuk kembali menjernihkan niat, terutama ketika organisasi menghadapi momentum nasional seperti Muktamar. Sudah menjadi rahasia umum, diskursus publik menjelang perhelatan besar acapkali terlalu bising oleh manuver politik kebangsaan, kontestasi struktural, dan hitung-hitungan elektoral. “Sendang Winotan” hadir di tengah kebisingan tersebut. Buku ini mengingatkan bahwa NU dibangun oleh para ulama linuwih yang hidupnya didedikasikan pada keikhlasan, perkhidmatan sunyi, dan laku tirakat di keheningan malam.

Sebagai penutup, “Sendang Winotan” berhasil mengangkat sisi humanisme dan keagungan spiritual seorang ulama kharismatik Nusantara secara objektif dan proporsional. Karya ini menawarkan kesegaran moral bagi generasi masa kini.

Munculnya pendokumentasian semacam ini sudah sepantasnya memantik kesadaran pesantren-pesantren lain di seluruh penjuru negeri. Membukukan riwayat, jejak, dan pedoman amaliyah para kiai lokal sejatinya merupakan bagian dari upaya merawat budaya pesantren. Dengan begitu, perpustakaan peradaban Islam Nusantara tidak sekadar diisi catatan politik dan birokrasi, tetapi juga literatur tasawuf dan keluhuran budi pekerti.

Selamat membaca!

*Santri-Alumni Pondok Pesantren Mansyaul Huda 02, Senori, Tuban.

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

editor: jatmiko

Tags: KH Abdul Hamid ChasbullahNahdlatul UlamaPesantren TambakberasSendang Winotantradisi pesantren

Related Posts

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor
Ruang Cendekia

Kampus Aman Harus Diukur dari Kepercayaan Melapor

Jumat, 9 Okt 2026
Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren
Ruang Cendekia

Menjaga Keseimbangan Pendidikan Tinggi: Menagih Keadilan bagi PTS dan Perguruan Tinggi Pesantren

Minggu, 4 Okt 2026
Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang
Ruang Cendekia

Nyai Sepuh dalam Ingatan Banyak Orang

Minggu, 4 Okt 2026
Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam
Ruang Cendekia

Memaksimalkan Potensi Negatif Manusia: Melihat Perspektif Psikologi dan Islam

Rabu, 30 Sep 2026
Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda
Ruang Cendekia

Hakim, Hukum, dan Pelajaran dari Sulaiman Muda

Rabu, 30 Sep 2026
Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai
Ruang Cendekia

Guru Agama dan Dosen MPAI: Mencetak Generasi Pembawa Damai

Senin, 28 Sep 2026
Next Post
Lomba 17-an di Graha Agung Merjosari Jadi Obat Rindu Anak Rantau

Lomba 17-an di Graha Agung Merjosari Jadi Obat Rindu Anak Rantau

BERITA POPULER

  • Tatik Swartiatun (tengah) didampingi kuasa hukumnya memberikan pernyataan soal sengketa Sardo Swalayan. (Foto/M Sholeh)

    Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prediksi Susunan Pemain Bhayangkara FC vs Arema FC: Misi Sulit Singo Edan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Malam Seribu Bulan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perbedaan Makeup Look Korean Ulzzang, Japanese Igari, dan Chinese Douyin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Bukber di Balik Jeruji Besi, Napi Lapas Malang Lepas Rindu Bersama Keluarga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Iklantm 10042026 1
Iklan10032026
21440510 796c 4a78 A1cd 0e5e0bd76582
8de19c4a 6fa9 471a 91a6 756e384f3221
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Ruang Cendekia

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.