Tugumalang.id – Tak bisa dipungkiri hari ini Sound Horeg seolah menjadi ekspresi dan hiburan utama warga di Malang Raya. Bahkan, fenomena dentuman musik ektrem ini juga mewarnai perayaan hari-hari kemerdekaan.
Fenomena itu kini bukan sekadar menghadirkan hiburan, tetapi juga menunjukkan perubahan cara masyarakat mengekspresikan kegembiraan, kebersamaan, dan kebebasan di ruang publik. Ini akhirnya juga menjadi bagian dari dinamika budaya masyarakat yang mengikuti perkembangan zaman.
Pakar Sosiologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Prof. Dr. Wahyudi Winarjo, M.Si., melihat Sound Horeg sebagai fenomena budaya pop yang mencerminkan karakter masyarakat post-modern.
Baca Juga: Sound Horeg Semakin Laris Manis Jadi Hiburan di Desa
Menurutnya, perubahan bentuk perayaan kemerdekaan menjadi hal wajar karena masyarakat punya cara sendiri dalam mengekspresikan identitas dan kegembiraannya.
Perubahan tersebut memperlihatkan pergeseran dari bentuk perayaan yang sebelumnya lebih banyak menampilkan seni dan budaya tradisional menuju ekspresi populer mengikuti perkembangan zaman.
“Sound Horeg menjadi ruang rindu sebagian anak bangsa untuk bertemu di ruang terbuka, melepas kepenatan ekonomi, politik, dan kehidupan sehari-hari sekaligus mengekspresikan diri. Meski pro dan kontra, secara sosiologis Sound Horeg tetap menjadi ruang bagi masyarakat untuk merasakan kebersamaan,” ujarnya, Kamis (13/8/2026).
Namun, perubahan ekspresi budaya tersebut juga dinilai mengganggu kenyamanan masyarakat, terutama ketika berlangsung dengan intensitas tinggi di ruang publik. Sebab itu, kebebasan berekspresi tetap perlu berjalan beriringan dengan penghormatan terhadap hak masyarakat lain untuk mendapatkan kenyamanan.
Baca Juga: Karnaval ‘Sound Horeg’ Giripurno Langgar Sejumlah Kesepakatan dengan Polres Batu
“Memang harus kita akui dentumannya mengganggu kemampuan normal manusia, khususnya pada suara dan rasa keindahan seni budaya. Namun, masyarakat tetap memperoleh keuntungan psikologis, ekonomi, dan relasional dari kegiatan tersebut,” jelasnya.
Di balik fenomena tersebut, terdapat pula aktivitas ekonomi yang ikut bergerak. Kehadiran Sound Horeg dapat mendorong penyewaan kendaraan dan perangkat suara, aktivitas parkir, hingga penjualan produk UMKM di sekitar lokasi kegiatan. Artinya, Sound Horeg tidak hanya menciptakan ruang hiburan, tetapi juga membentuk ekosistem sosial dan ekonomi bagi masyarakat.
Lebih jauh, ia menilai Sound Horeg dapat dipahami sebagai bagian dari budaya pop yang bersifat dinamis. Budaya pop tidak selalu bertahan dalam bentuk yang sama karena masyarakat terus mencari cara baru untuk mengekspresikan jiwa, rasa, pikiran, seni, dan identitas mereka.
“Budaya pop akan terus berganti dan setiap orang akan selalu mencari jati diri. Sound Horeg merupakan subvarian budaya yang mengikuti era postmodernisme dan menjadi salah satu bentuk pencarian identitas kolektif masyarakat,” tuturnya.
Dengan demikian, Sound Horeg tidak cukup dipahami hanya dari kerasnya suara yang dihasilkan. Fenomena tersebut memperlihatkan bagaimana masyarakat menciptakan ruang baru untuk berkumpul, melepas kepenatan, mengekspresikan diri, sekaligus memperoleh manfaat sosial dan ekonomi.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


























