Tugumalang.id – Ketua Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI, Ir. Andreas Eddy Susetyo, M.M. mendorong pembangunan ekosistem UMKM berbasis closed-loop system di Kota Batu, Jawa Timur. Dengan begitu, pusaran perputaran ekonomi lokal bisa terjaga dan menguat.
Hal itu ia ungkapkan saat Andreas menyambangi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) serta penggerak pariwisata yang tergabung dalam Gelora Garden UMKM Hub, Desa Bulukerto, Bumiaji, Kota Batu, Kamis (6/8/2026).
Gelora Garden sendiri muncul menjadi wadah yang menaungi para pelaku UMKM lokal desa. Selain jadi penampung buah segar bahan baku utama keripik buah, Gelora Garden juga berperan mempromosikan berbagai produk UMKM lokal.
Baca Juga: Kebiasaan Unik Pelatih Puluhan Ribu UMKM di Malang, Selalu Salami Peserta Sebelum Kelas Dimulai
Dalam dialog itu, para pelaku UMKM rata-rata mengeluhkan seputar harapan permodalan, kendala perlindungan hak cipta hingga pemanfaatan bahan baku pangan lokal. Dari semua kendala yang ada, Andreas sepakat bahwa semua memang masih jadi tantangan dan PR bersama.

Misalnya, dalam hal penyaluran modal, Andreas menyoroti efektivitas penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang telah berlangsung selama 17 tahun. Kendati menelan anggaran besar, dampak KUR kata dia peningkatan kelas UMKM secara nasional tak berpengaruh signifikan.
”Subsidi permodalan KUR ini kan sudah berjalan 17 tahun dengan anggaran sangat besar, tapi pelaku UMKM sampai hari ini tidak banyak naik kelas. Mayoritas masih berkutat di tingkat mikro dan ultra mikro,” ujar Andreas.
Belum lagi, ia menengarai adanya ketimpangan data jumlah UMKM di tingkat nasional. Data Kementerian UMKM mencatat terdapat sekitar 65 juta unit usaha di Indonesia.
Baca Juga: GOR Ganesha Batu Disiapkan Jadi Mal UMKM dan Pusat Ekonomi Kreatif
Angka ini dinilai kurang proporsional jika dibandingkan dengan hasil Sensus Penduduk Badan Pusat Statistik (BPS) terakhir yang mencatat jumlah populasi Indonesia sebesar 290 juta jiwa.
“Rasio penduduk dan jumlah UMKM ini meragukan. Ke depan, validasi data ini harus ditinjau kembali. ujarnya.
Ia menambahkan bahwa program pembiayaan juga menurutnya wajib dibersamai dengan skema pendampingan usaha (mentoring).
”Jadi gak hanya sekadar kucuran dana. Selain itu juga perlu adanya fleksibilitas pembayaran utang hingga suku bunga yang ramah bagi sektor usaha mikro,” tegas pria yang juga Anggota Komisi XI DPR RI tersebut.
Selain itu, ia menekankan penguatan ekosistem berbasis closed-loop system antar-desa. Sistem ini penting sebagai solusi masalah fluktuitas harga bahan baku, proses pembayaran tertunda di toko oleh-oleh, hingga dampak efisiensi anggaran pemerintah terhadap angka kunjungan wisata.
Andreas memaparkan pentingnya membangun rantai produksi yang terintegrasi (connecting the dots) dengan mengandalkan potensi pangan lokal di sekitar.
Misalnya untuk pasokan sapi bisa diambil dari Desa Brau, atau komoditas pisang dipasok dari potensi Kota Batu sendiri tanpa harus mengambil dari luar daerah yang jauh.
”Dalam rangkaian proses produksi ini harus sebisa mungkin memanfaatkan pangan lokal. Kuncinya ada pada kehadiran integrator. Kehadiran Gelora Garden ini sudah sangat bagus menjalankan peran sebagai UMKM Hub dengan dukungan solid dari pemerintah desa,” terangnya.
Selain persoalan permodalan dan rantai pasok, isu kerentanan pembajakan merek dan hak cipta produk UMKM turut menjadi perhatian. Andreas mendorong pelaku UMKM untuk aktif mendaftarkan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) atas produk-produk mereka.
Mengingat proses administratif pendaftaran hak cipta yang kerap dinilai panjang dan rumit, dalam prosee ini Andreas mendesak Pemerintah Daerah dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) untuk mengambil peran proaktif.
“Kami mendorong Pemda dan KADIN untuk hadir mengawal dan mendampingi proses pendaftaran hak cipta para pelaku UMKM dari awal hingga selesai,” tambahnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A

























