MALANG, Tugumalang.id – Menghadapi tantangan di era Artificial Intelligence (AI) yang kini dimanfaatkan begitu masif dalam segala aspek kehidupan. TV Tempo, Kamis (6/8/2026) bekerjasama dengan Pesantren Al Umm, Joyogrand, Malang, menggelar diskusi dalam program ‘Cakap-Cakap’ dengan tema ‘Bisakah AI Memahami Islam?’.
Acara yang membedah pemanfaatan AI dalam batasan kajian Islam ini menghadirkan tiga narasumber utama yakni penceramah sekaligus dosen, Dr. Syafiq Riza Basalamah, M.A, Ketua Yayasan Pesantren Al-Umm, Dr. KH. Agus Hasan Bashori, Lc, M.Ag, serta Guru Besar Ilmu Komputer Universitas Indonesia, Prof. Yudho Giri Sucahyo, S.Kom. M.Kom, Ph.D.
Baca Juga: Raih Juara 1 PPA Jatim, Rendra Ingatkan Tantangan Pernikahan Anak Masih Ada
Dalam kesempatan tersebut Direktur TV Tempo, Anton Aprianto menyampaikan digelarnya kegiatan roadshow diskusi ke beberapa daerah, salah satunya Malang berangkat dari temuan Tim Riset TV Tempo. Riset tersebut mengenai kajian Al Qur’an dan Hadits melalui AI yang menurutnya masih bisa diperdebatkan dan diskusikan bersama ahli kajian Islam.

Anton menekankan dalam perspektif keilmuan dan Islam pemanfaatan AI adalah sebatas alat bantu yang tidak dapat 100 persen dipercayai kebenarannya. Sehingga dibutuhkan verifikasi dari sumber-sumber yang lebih kredibel untuk memastikan kesahihannya.
“Setelah melakukan riset kecil-kecilan tentang Al Qur’an dan Hadits hasilnya tak sampai 24 jam mesin (AI) bekerja dan hasilnya luar biasa. Bahasanya rapi, strukturnya bagus, dan mesin memang bisa bekerja seperti itu. Tetapi setelah kita telusuri metodologinya ternyata ada yang kurang,” ungkapnya.
Inilah yang kemudian TV Tempo lewat program Cakap-Cakap berupaya membedah bagaimana memanfaatkan AI dengan bijak dalam perspektif kajian keislaman. Anton juga menegaskan bahwa teknologi AI tetap harus didukung oleh verifikasi agar mendapatkan ilmu atau informasi yang benar dan tidak multitafsir.
Baca Juga: Dorong Kemandirian dan Jiwa Wirausaha Pelajar, Tim PPM Polinema Ajak Olah Sereh Menjadi Pembersih Lantai
“Informasi cepat tidak salah, tapi akurasi penting. Sama halnya tradisi keilmuan Islam, jawaban instant yang salah akan mendatangkan risiko besar bagi agama,” tegas Anton.
Tiga Komponen Penting AI yang Perlu Dipahami
Sementara Guru Besar Universitas Indonesia, Prof. Yudho menjelaskan untuk bisa memahami AI sebagai alat bantu yang memudahkan manusia dalam mencari rujukan informasi. Penting untuk memahami tiga komponen utama AI, yakni algoritma, infrastruktur mesin atau komputasi, dan data.

Lewat ketiga komponen inilah AI dapat menyajikan informasi dengan cepat ketika pengguna mencari informasi, khususnya yang berkaitan dengan kajian Islam.
Tetapi Prof. Yudho mengingatkan meski AI mampu mengumpulkan semua data di internet dalam database, namun tetap dibutuhkan kecermatan dan melakukan verifikasi terhadap informasi dari sumber utama yakni Al Qur’an dan Hadits.
“Pada kenyataannya perlu kita pahami tidak seluruh informasi yang ada di dunia ini ada di internet, itu yang perlu kita pahami,” jelas Prof. Yudho.
“Kalau kita bicara tentang Islam, belum seluruhnya ada di internet. Ada yang perlu kita pahami dan ada batasan-batasan tertentu yang akhirnya harus melakukan verifikasi. Gunakan AI sebagai alat bantu tetapi tidak perlu mempercayai sepenuhnya.,” tambahnya.
AI dalam Perspektif Islam dan Tentang Hati
Pada kesempatan yang sama Ustadz Syafir Riza Basalamah menjelaskan bahwa Islam tidak melarang umat untuk menggunakan teknologi sebagai alat bantu. Namun jika dikaitkan dengan pemanfaatan AI hari ini yang begitu membantu pekerjaan manusia, bagi Ustadz Syafiq soal AI masih perlu dipertanyakan lagi kebenarannya.

Sebab baginya informasi yang disajikan hanya berdasarkan tabulasi informasi yang ada di dunia maya dan hasil dari mesin akan berbeda dengan nilai-nilai atau ajaran Agama Islam yang menggunakan hati, sebagaimana zaman Rasulullah SAW mensiarkan Islam bersama para sahabat.
“AI ini mesin, sedangkan kita tahu nilai Islam turunnya ke hati, Allah turun ke hati, Nabi (Muhammad SAW) kemudian menyampaikan kepada para sahabat. Dari situ, para sahabat menyimpan ilmu tersebut dan disampaikannya kepada generasi selanjutnya,” terangnya.
Inilah yang menurut Ustadz Syafiq perbedaan mendasar dari AI dalam kacamata perspektif Islam karena informasi yang disajikan oleh kecanggihan teknologi belum tentu benar dapat dapat menyentuh sisi emosional umat Islam.
“Orang yang punya hati dan menyimak Al Qur’an dengan benar, tidak akan dapat ditiru dengan AI. Karena dia tidak punya hati, memang data bisa disimpan di sini tapi pertanyaannya apakah dia bisa memahami hati sesuai hakikatnya,” jelas Ustadz Syafiq.
Hal senada juga disampaikan oleh Ketua Yayasan Pesantren Al-Umm Dr. KH. Agus Hasan Bashori yang menilai AI adalah tantangan sekaligus peluang bagi umat Muslim. Di era yang semakin modern, menurutnya umat tidak bisa lari dari zaman dan dituntut untuk dapat beradaptasi.
Namun dalam pemanfaatan AI terutama dalam kajian-kajian keislaman bagi KH Agus Hasan yang paling penting adalah bagaimana teknologi justru menjadi bagian dari meningkatkan rasa taqwa. Artinya setiap informasi yang diterima perlu ditelaah dan diverifikasi melalui sumber-sumber sahih dalam perspektif Islam.
“Untuk merangkum (informasi) memang baik, tetapi tetap butuh verifikasi. Makanya tetap dibutuhkan orang-orang bertaqwa karena mesin tidak dapat mengerti. Kita bisa memanfaatkan AI untuk mempermudah sesuatu yang kita perlukan tetapi dengan verifikasi dari ahli, supaya kemudahannya kita dapat dan kebenarannya juga dapat,” ungkapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Editor: Herlianto. A


























