Malang, Tugumalang.id – Enam film pendek karya pelajar dari SMA Brawijaya Smart School (BSS) dan SMA Negeri 3 Malang diputar dalam ESPUTER (Edukasi Putar Film Pelajar) #1 di Cafe Bunker Gedong Ijen, Jalan Ijen Nomor 25, Oro-oro Dowo, Kecamatan Klojen, Kota Malang, Jumat (31/7/2026).
Kegiatan yang digelar Gelanggang Sinema Festival (GSF) bersama MOI Film dan Cafe Bunker Gedong Ijen itu menjadi ruang apresiasi, diskusi, sekaligus edukasi perfilman bagi pelajar.
Program yang diprakarsai Sudjane Kenken dan Moch. Fajar Ramadhani tersebut tidak hanya menghadirkan pemutaran film, tetapi juga diskusi antara pelajar, guru, dan pegiat film mengenai proses kreatif pembuatan film pendek.
Moch. Fajar Ramadhani mengatakan GSF memiliki tiga lini, yakni edukasi, komunitas, dan production house, yang saling terhubung untuk membangun ekosistem perfilman dari proses belajar hingga masuk ke industri kreatif.
“Kami punya tiga lini, yaitu edukasi, komunitas, dan production house. Harapannya nanti tidak hanya membuat film, tetapi juga membangun ekosistem sehingga orang bisa belajar, berkarya, lalu masuk ke industri film,” tutur Fajar.

Melalui lini edukasi, GSF berencana menggandeng sekolah-sekolah sebagai mitra pembelajaran perfilman. Sementara lini production house dikembangkan sebagai sumber pendanaan agar program sosial komunitas tetap berjalan.
“Untuk acara ini budget-nya nol rupiah. Kami bisa menyelenggarakannya karena banyak relasi yang mau bekerja sama. Selama ini kami memang bergerak sebagai komunitas sosial,” ujarnya.
Baca juga: Bincang Sinema ‘Alternatif Berduka’: Ruang Refleksi Kehilangan Melalui Film Pendek
Menurut Fajar, GSF saat ini masih menghadapi keterbatasan sumber daya manusia karena operasional komunitas hanya dijalankan dua orang.
“Tim kami sebenarnya hanya dua orang. Kami sedang proses mencari anggota baru, tetapi karena masih bergerak sebagai komunitas sosial, kami belum bisa menggaji mereka,” katanya.
Ke depan, GSF akan memisahkan kegiatan sosial dan komersial. Workshop, kelas akting, kelas penyutradaraan, hingga jasa produksi film disiapkan sebagai sumber pemasukan, sedangkan ESPUTER tetap menjadi ruang belajar dan apresiasi bagi pelajar. Komunitas itu juga mulai menyusun daftar SMA dan SMK di Kota Malang untuk diajak berkolaborasi.
“Target kami sekarang adalah pelajar. Kami sedang menyusun daftar SMA dan SMK di Malang untuk diajak berkolaborasi supaya semakin banyak yang mengenal Gelanggang Sinema Festival dan visi yang kami bawa,” tuturnya.
Fajar menargetkan ESPUTER ke depan melibatkan delapan hingga sepuluh sekolah. Kegiatannya tidak hanya berisi pemutaran film, tetapi juga presentasi karya, diskusi, hingga pemberian penghargaan yang melibatkan penonton.
“Kami ingin membangun habitat perfilman. Setelah belajar, mereka bisa langsung praktik membuat film, kemudian kami bantu menghubungkan mereka ke industri melalui talent development dan talent pool,” jelasnya.
Dalam ESPUTER #1, masing-masing sekolah menampilkan tiga film. Dari SMA Brawijaya Smart School diputar Amburadul, Satu Per Enam, dan Titik Balik. Sementara SMA Negeri 3 Malang menghadirkan Satu Bait Lagi, Aram Temaram, dan Dalam Palsu.
Baca juga: Nobar Film Pendek di Pesantren Baitul Hikmah Bahas Filsafat Seni dan Estetika
Film Satu Per Enam karya sutradara Gaizan Abyasa Rashad mengangkat konflik OSIS yang kehilangan uang kas Rp900 ribu. Tuduhan pencurian mengarah kepada salah satu anggota hingga akhirnya surat klarifikasi mengungkap fakta sebenarnya.
Film Titik Balik karya Rakha Aldwivano Syafii bercerita tentang pelajar berprestasi yang meninggalkan ketekunannya demi diterima dalam pergaulan. Setelah kebohongannya terbongkar dan sang ibu meninggal dunia, tokoh utama memilih kembali mengejar prestasi.
Dari SMA Negeri 3 Malang, Satu Bait Lagi karya Adyaraka Laksmana mengisahkan Alit yang berusaha menyelesaikan partitur lagu peninggalan ayahnya sebagai cara menghadapi kehilangan. Aram Temaram garapan Regan Alana menceritakan perjuangan Aksa membantu ekonomi keluarga melalui usaha membuat lampu hias bermotif batik.
Sementara Dalam Palsu karya Deja Attariq mengangkat kisah Tono yang memanfaatkan teknologi deepfake menggunakan wajah ibunya untuk memperoleh uang dari pengguna internet hingga perbuatannya terbongkar.
Guru SMA Brawijaya Smart School (BSS), Dimas, mengapresiasi penyelenggaraan ESPUTER sebagai wadah bagi pelajar untuk menampilkan sekaligus mengembangkan karya di bidang perfilman.
Salah satu film yang menarik perhatian penonton adalah Amburadul karya siswa SMA Brawijaya Smart School. Tim produksinya hadir untuk berbagi pengalaman mengenai proses kreatif pembuatan film tersebut yang sebelumnya berhasil masuk nominasi dalam sebuah festival film.
Berawal dari pencapaian itu, Gelanggang Sinema Festival menghubungi tim pembuat film dan mengundang mereka berkolaborasi dalam ESPUTER #1.
Ghiyats, sutradara Amburadul, mengatakan proses produksi film berlangsung sekitar tiga bulan dengan anggaran Rp2 juta. Sebesar Rp1,2 juta berasal dari dukungan sekolah, sedangkan sekitar Rp800 ribu merupakan hasil iuran seluruh anggota tim produksi.
“Bagian yang paling sulit adalah membuat kondisi di dalam film terasa senyata mungkin, mulai dari suasana yang berantakan sampai tekanan emosional yang dialami tokohnya,” tutur Ghiyats.
Film Amburadul mengangkat kisah seorang siswa yang selama ini bergantung pada sang kakak. Saat kakaknya pergi, tokoh utama dipaksa belajar mandiri dan bertanggung jawab atas hidupnya. Menurut Ghiyats, cerita tersebut lahir dari pengalaman seluruh anggota tim produksi.
“Inspirasi film ini muncul dari kesadaran kami sendiri. Kami merasa masih sering malas, kurang rajin, dan terlalu menggampangkan sesuatu dengan bergantung kepada orang lain. Lewat film ini kami ingin mengingatkan diri sendiri sekaligus penonton agar menjadi pribadi yang lebih mandiri,” ujarnya.
GSF berharap ESPUTER menjadi ruang bagi semakin banyak pelajar untuk belajar, berkarya, dan membangun jejaring menuju industri perfilman. Kolaborasi dengan sekolah akan terus diperluas agar lebih banyak pelajar memperoleh kesempatan menampilkan karya dan berdiskusi langsung dengan pegiat film.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Penulis: Dwiyana Khusnul Qotimah/Magang
editor: jatmiko


























