Malang, Tugumalang.id – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya (FEB UB) mengajak sivitas kampus mengelola sampah organik secara mandiri melalui teknik Lubang Resapan Biopori (LRB).
Edukasi itu disampaikan pegiat lingkungan drg. Dani Sugeng Prasetyo dalam workshop yang digelar di Ruang Sidang Utama Lantai 2 Gedung Dekanat Lama FEB UB, Kamis (16/7).
Dani dikenal sebagai sosok yang berhasil mengembangkan pengelolaan sampah organik di lingkungan Ketawanggede, Kota Malang. Selain berbagi teknik pembuatan biopori, Ketua RT di wilayah tersebut juga menceritakan pengalaman menerapkan pengelolaan sampah langsung di tengah masyarakat.
Wilayah Ketawanggede yang dipimpinnya menjadi mitra program prioritas Rektor Universitas Brawijaya. Kolaborasi itu diharapkan memperkuat sinergi antara kampus dan warga dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Workshop tersebut diikuti tenaga kependidikan Tata Usaha, petugas taman, cleaning service, serta perwakilan mahasiswa. Hadir pula Kepala Bagian Tata Usaha FEB UB Fajar Andy Kurniawan SE., MM bersama Kasubbag Umum dan Aset Anjik Fahrur Huda, S.ST sebagai bentuk dukungan terhadap program pelestarian lingkungan.
Biopori Tekan Sampah Organik
Dalam pemaparannya, Dani menjelaskan biopori dapat menjadi solusi sederhana untuk mengurangi sampah organik yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA). Metode itu juga menghasilkan kompos dari sisa makanan dan dedaunan sekaligus meningkatkan daya resap air tanah agar mengurangi potensi genangan maupun banjir.
Baca juga: FEB UB Gelar Sustain-Bazaar 2026, Praktik Nyata Green Economy Mahasiswa
Penerapannya dinilai mudah dilakukan, baik di lingkungan kampus maupun di rumah. Prosesnya diawali dengan membuat lubang silindris di tanah yang dilengkapi pipa penutup.
“Setelah fasilitas biopori tersedia, langkah krusial selanjutnya adalah pemilahan sampah langsung dari sumbernya, yakni memisahkan sampah organik basah seperti sisa sayur dan buah dari sampah anorganik,” paparnya.
Sampah organik yang telah dipilah kemudian dimasukkan secara berkala ke dalam lubang biopori. Menurut Dani, penambahan bahan organik secara rutin akan merangsang aktivitas cacing dan mikroorganisme tanah sehingga proses pembentukan kompos berlangsung lebih cepat.
Baca juga: Guru Besar UB: Heat Dome seperti di Eropa Sangat Sulit Terjadi di Indonesia
Melalui kegiatan tersebut, FEB UB berharap tenaga operasional, mahasiswa, dan staf dapat menerapkan teknik biopori sebagai bagian dari pengelolaan sampah mandiri sekaligus mendukung terwujudnya UB Green Campus yang berwawasan lingkungan.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
editor: jatmiko
























