Selasa, Juli 21, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Pendidikan

Cerita Prof Lily Montarcih Meraih Gelar Guru Besar Ilmu Hidrologi

Redaksi by Redaksi
September 26, 2021 6:26 pm
in Pendidikan
guru - Cerita Prof Lily Montarcih Meraih Gelar Guru Besar Ilmu Hidrologi

Guru Besar Ilmu Hidrologi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya, Prof Dr Ir Lily Montarcih Limantara MSc. Foto: dok

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Tugumalang.id – Guru Besar Ilmu Hidrologi Fakultas Teknik Universitas Brawijaya (FT UB), Prof Dr Ir Lily Montarcih Limantara MSc merupakan satu dari sejumlah guru besar yang ada di UB. Dia berhasil meraih gelar tertingginya pada 1 Oktober 2016 lalu.

 

READ ALSO

Pembekalan KKN Unikama, 618 Mahasiswa Siap Dorong Transformasi Desa Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

Polinema dan Unisma Perkuat Kolaborasi Energi Terbarukan Bersama Lorraine University Prancis

Perempuan kelahiran 17 September 1962 ini mengatakan bahwa guru besar merupakan jabatan akademik tertinggi yang wajib dikejar oleh seorang dosen. Karenanya, berbekal niat dan dorongan orang di sekitarnya, Prof Lily membulatkan tekad untuk meraih gelar tersebut.

 

Diakui ibu dua anak ini, proses menjadi guru besar tidaklah mudah. Banyak batu sandungan yang dirasakan. “Sebelum pengajuan guru besar, saya Lektor Kepala/4a sejak 2001, kemudian proses pengajuan guru besar sejak 2008,” ujar warga asli Malang itu, mengawali cerita.

 

Saat itu, pendidikan maupun cara pengajaran Prof Lily sudah dinilai baik. Penelitian serta jurnal juga sudah banyak dibuatnya. Bahkan, dua jurnal internasionalnya sudah terindex Scopus dengan nama pertama.

 

“Saat itu ya 2008 masih jarang dosen yang mengenal jurnal internasional apalagi terindexed Scopus, ditambah dengan jurnal-jurnal lain kurang lebih ada 40 jurnal internasional sebagai penulis pertama dan kedua, pengabdian tiap tahun ada, namun tetap tidak mulus seperti dibayangkan, ada puluhan kali dikembalikan dari universitas,” imbuhnya.

 

Tak sampai di situ, saat semua berkas telah dikirim ke Ditjen Pendidikan Tinggi (Dikti) Kemendikbud, ada beberapa dokumen penelitian yang tidak sampai. Sehingga, harus mengumpulkan dan meng-copy lagi untuk mengulang proses pemberkasan.

 

Hingga kemudian di tahun 2016, Prof Lily dinyatakan harus menambah jurnal nasional terakreditasi. Saat itu, tinggal dua jurnal nasional terakreditasi yang ada di Indonesia, diapun masukkan paper ke ITB dengan harapan dapat segera dikelola menjadi jurnal. Sampai pada akhirnya jurnal nasional tersebut berhasil terbit pada bulan Agustus 2016.

 

“Kemudian gelar guru besar saya turun 1 Oktober 2016,” kenangnya.

 

“Kalau deadline aturan lama tersebut, ditunggu sampai dengan 1 Januari 2017, jika tidak bisa menerbitkan jurnal nasional terkreditasi maka proses guru besar harus diulang mengacu pada aturan baru. Bersyukur, semua sudah terlampaui walaupun banyak sekali batu sandungan, namun saya tetap sabar menyiapkan apa-apa yang diminta walaupun seringkali tidak rasional. Bagi saya, jalani saja dengan sabar, amal, dan ikhlas,” pesannya.

 

Kini, Prof Lily menjadi satu dari empat guru besar di Program Studi Teknik Pengairan Universitas Brawijaya. Diakuinya, ini merupakan amanah yang dapat dikatakan berat.

 

“Guru besar di Teknik Pengairan relatif sedikit dengan saya, yang satu sudah usia pensiun dan yang satu menjabat sebagai rektor, jadi saat dibutuhkan harus ada unsur guru besar yang lumayan berat, tanggung jawab moral yang berat karena orang atau publik ingin mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh guru besar terkait bidangnya,” ungkap perempuan yang juga alumnus Fakultas Teknik Universitas Brawijaya Malang, lulus tahun 1985 itu.

 

Dia berharap semakin banyak dosen yang meraih gelar guru besar. Mengingat, saat ini menjadi guru besar merupakan suatu kebutuhan. Utamanya bagi kampus yang memiliki Program Studi S3 serta adanya aturan Ban-PT yang mewajibkan 50 persen dosennya harus guru besar.

 

“Untuk menuju ke situ, kita harus semangat meneliti dan menulis terutama jurnal dan buku. Semakin banyak tulisan berkualitas yang dibuat dalam bentuk jurnal maupun buku akan semakin cepat meraih guru besar,” tutup Prof Lily.(ads)

 

Reporter: Feni Yusnia

Editor: Lizya Kristanti

Tags: kota malangmalangub

Related Posts

Pembekalan KKN Unikama, 618 Mahasiswa Siap Dorong Transformasi Desa Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal
Pendidikan

Pembekalan KKN Unikama, 618 Mahasiswa Siap Dorong Transformasi Desa Berkelanjutan Berbasis Kearifan Lokal

Selasa, 21 Jul 2026
Polinema dan Unisma Perkuat Kolaborasi Energi Terbarukan Bersama Lorraine University Prancis
Advertorial

Polinema dan Unisma Perkuat Kolaborasi Energi Terbarukan Bersama Lorraine University Prancis

Selasa, 21 Jul 2026
Tim Pengabdian UM Latih Warga Jengglungharjo Olah Pisang dan Kopi Bernilai Tambah
Pendidikan

Tim Pengabdian UM Latih Warga Jengglungharjo Olah Pisang dan Kopi Bernilai Tambah

Senin, 20 Jul 2026
Kuliah Gratis
Pendidikan

Ingin Kuliah Gratis di Unisma? Berikut Jadwal Pendaftaran KIP Kuliah 2026

Minggu, 19 Jul 2026
Kota Batu Pimpin Program SIKAP, 32 Sekolah Terapkan Ketahanan Pangan di Malang Raya
Pendidikan

Kota Batu Pimpin Program SIKAP, 32 Sekolah Terapkan Ketahanan Pangan di Malang Raya

Minggu, 19 Jul 2026
MPLS 10 Hari, SMA An Nur Bululawang Bekali Siswa Baru dengan Karakter dan Kebanggaan Menjadi Santri
Pendidikan

MPLS 10 Hari, SMA An Nur Bululawang Bekali Siswa Baru dengan Karakter dan Kebanggaan Menjadi Santri

Minggu, 19 Jul 2026
Next Post
malang - Disdikbud Kota Malang Ajukan 31 Benda, Struktur, dan Bangunan Sebagai Cagar Budaya

Disdikbud Kota Malang Ajukan 31 Benda, Struktur, dan Bangunan Sebagai Cagar Budaya

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 SMK Swasta Terbaik di Kota Malang 2026: Pilihan Unggulan untuk Masa Depan Cerah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Saweran

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.