Malang, Tugumalang.id – Universitas Brawijaya (UB) kembali mengukuhkan lima profesor baru pada 2026 melalui sidang terbuka Majelis Dewan Guru Besar. Kelimanya berasal dari berbagai disiplin ilmu, mulai komunikasi pertanian, rekayasa material, psikologi, hingga studi budaya.
Kelima guru besar tersebut memaparkan kebaruan gagasan dan inovasi ilmiah untuk menjawab berbagai tantangan. Riset mereka mencakup kemandirian petani, rekayasa material berbasis data, kesehatan mental, efisiensi energi, hingga dekolonisasi pengetahuan visual.
Profesor pertama yang dikukuhkan ialah Prof. Dr. Desi Dwi Prianti, S.Sos., M.Comn. sebagai Profesor bidang Ilmu Media, Gender, dan Studi Budaya. Ia merupakan profesor ke-6 dari FISIP dan ke-460 UB.
Prof. Desi menyoroti bahaya terselubung dari banjir informasi visual di era digital yang tidak diimbangi kemampuan kritis. Menurutnya, standar visual masyarakat modern masih sering terkontaminasi epistemik kolonial.
Sebagai solusi, ia menawarkan konsep Literasi Visual Dekolonial melalui tiga langkah strategis. Pertama, Menyingkap dengan mempertanyakan kepentingan dan sudut pandang pembuat gambar.
Kedua, Melacak dengan menelusuri akar sejarah standar visual hingga masa kolonial. Ketiga, Melawan dengan memproduksi tatanan visual tandingan, misalnya melalui kurasi museum inklusif dan bahan ajar yang adil gender.
’’Ilmu komunikasi bukan sekadar teknik menyusun pesan yang efektif, tetapi harus bekerja untuk memanusiakan dan memerdekakan,” kata Prof. Desi.
Baca juga: 9 Profesor UB Dikukuhkan, Ada yang Teliti Leadership ala Nabi Muhammad
Profesor kedua, Prof. Ir. Edi Dwi Cahyono, M.Agr.Sc., M.S., Ph.D., dikukuhkan sebagai Profesor bidang Ilmu Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian pada Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan (FBIPK). Ia menjadi profesor aktif ke-25 di FBIPK dan ke-456 yang dihasilkan UB.
Berangkat dari riset dan pengamatan lapangan selama 38 tahun, Prof. Edi memperkenalkan model E/D/C-RITA. Model tersebut menjawab fenomena petani yang sering enggan mengadopsi inovasi meskipun mengetahui manfaatnya.
’’Jangan dipaksa-terpaksa-terbiasa, tetapi diajak-menimbang-memandirikan,” tegas Prof. Edi mengenai prinsip penyuluhan era baru yang mengedepankan dialog dan kemandirian petani.
Melalui lima tahapan, mulai kesadaran, evaluasi awal, evaluasi refleksif, keputusan ambang, hingga evaluasi setelah keputusan, serta dukungan instrumen COAST Framework, penyuluh diposisikan sebagai mitra dan katalisator, bukan sekadar penyampai pesan searah.
Profesor ketiga berasal dari Fakultas Teknik (FT), yakni Prof. Dr. Ir. Putu Hadi Setyarini, S.T., M.T. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Pelapisan dan Karakterisasi Material. Ia tercatat sebagai profesor aktif ke-34 di FT dan ke-457 di UB.
Prof. Putu menghadirkan kerangka ilmiah integratif COAT360 untuk mengakhiri ketergantungan industri pada metode trial-and-error dalam pengembangan material. Melalui enam rantai bukti minimum, mulai pemeriksaan awal hingga evaluasi fungsi akhir, COAT360 memastikan data karakterisasi memiliki keterlacakan sebab-akibat yang kuat.
Inovasi tersebut berpotensi diterapkan pada kemasan pangan ramah lingkungan, biomaterial medis, pencegahan korosi, hingga integrasi bank data material berbasis kecerdasan buatan (AI).
Baca juga: Pengukuhan 5 Profesor Baru di UB: Inovasi untuk Ekonomi, Lingkungan, dan Konservasi
Profesor keempat yang dikukuhkan ialah Prof. Cleoputri Al Yusainy, S.Psi., M.Psi., Ph.D. dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Ia resmi dikukuhkan sebagai Profesor bidang Psikologi Umum dan Eksperimen, serta menjadi profesor ke-5 di FISIP dan ke-458 di UB.
Dalam risetnya, Prof. Cleo mengkritik model psikologi arus utama (hedonis) yang cenderung fokus pada selebrasi ego dan optimisme semata. Sebagai alternatif, ia menawarkan model Lebur Duka Labur Rasa, pendekatan kontemplatif khas Timur yang memandang bahwa kehidupan terjadi karena syarat-syaratnya telah tercukupi.
Model tersebut membongkar tiga ilusi diri (three marks of self), yakni mineness (rasa kepemilikan), centeredness (merasa menjadi pusat pengalaman), dan selfhood (merasa paling istimewa).
‘‘Melalui pendekatan ini, individu diajak mengikis ketakutan dan kemarahan untuk mencapai kesehatan mental yang sempurna,’’ paparnya.
Profesor terakhir, Prof. Ir. Winarto, S.T., M.T., Ph.D., berasal dari Fakultas Teknik. Ia dikukuhkan sebagai Guru Besar bidang Simulasi Dinamika Molekul dan menjadi profesor aktif ke-35 di FT serta ke-459 UB.
Prof. Winarto memanfaatkan simulasi molecular dynamics (MD) melalui MD-TOOL untuk meneliti perilaku molekul pada skala nanometer. Risetnya menunjukkan penggunaan carbon nanotubes (CNTs) yang dipadukan dengan medan listrik mampu memisahkan molekul air dari alkohol lebih efisien dibanding metode distilasi konvensional yang boros energi.
Melalui simulasi, Prof. Winarto menunjukkan CNTs yang dipadukan dengan medan listrik dapat memperkuat proses pemisahan air dari metanol maupun etanol. Medan listrik membuat molekul air di dalam CNT tersusun lebih teratur sehingga lebih mudah masuk dan bertahan di dalam nanotube.
Riset kemudian dikembangkan untuk menangkap CO₂ dari gas hasil pembakaran. Hasil simulasi menunjukkan CNT lebih kuat mengadsorpsi CO₂ dibandingkan nitrogen (N₂) dan oksigen (O₂), sehingga berpotensi digunakan dalam proses pemisahan.
Penelitian juga menggunakan boron nitride nanotubes (BNNT) dan membran silikon nitrida (Si₃N₄). Hasil simulasi menunjukkan keberadaan membran Si₃N₄ dapat memperkuat efek pemisahan CO₂.
Ke depan, riset simulasi tersebut akan diperluas ke bidang penyimpanan energi, seperti baterai dan superkapasitor. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan peneliti eksperimental agar hasil simulasi dapat divalidasi dan dikembangkan menuju penerapan teknologi nanomaterial.
Pengukuhan kelima profesor tersebut menegaskan posisi Universitas Brawijaya sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang solutif, berdampak bagi masyarakat, serta berdaya saing global.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
redaktur: jatmiko































