Tugumalang.id – Pemkot Batu memutuskan pasang badan untuk melindungi lahan resapan di kawasan sumber mata air Umbul Gemulo di Desa Bulukerto, Kecamatan Bumiaji. Upaya itu dilakukan dengan mengakuisi lahan tersebut sebagai bentuk solusi panjang.
Saat ini, Pemkot Batu kini tengah menyiapkan alokasi anggaran untuk mengakuisisi lahan tersebut dengan nilai investasi Rp18 miliar. Langkah berani itu dilakukan untuk menghentikan tren penyusutan debit mata air akibat masifnya alih fungsi lahan di wilayah hulu Kota Batu.
BAca Juga: Pemkot Batu Pulihkan Hutan Penyangga, 650 Hektare Lahan Miring Ditanami Tanaman Kera
Plt Wali Kota Batu, Heli Suyanto menegaskan bahwa kebijakan ini bukan hanya sekadar wacana, tapi juga bentuk intervensi teknis untuk mengunci status lahan resapan agar tidak dieksploitasi pihak lain untuk kepentingan komersial.
“Kita tidak bisa lagi hanya bicara teori konservasi. Kondisinya sudah mendesak karena penurunan debit air mulai terasa. Kami berencana mengambil alih lahan di sekitar Umbul Gemulo, termasuk lokasi yang sebelumnya sempat menjadi sengketa untuk dijadikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) permanen,” tegas Heli, Rabu (29/4/2026).
Dalam memetakan kebijakan ini, Pemkot Batu menggandeng komunitas relawan Sabers Pungli (Sapu Bersih Nyemplung Kali). Data inventarisasi 273 titik mata air milik komunitas tersebut akan menjadi basis data utama untuk memetakan mana saja titik rembesan dan sumber utama yang harus diprioritaskan keselamatannya.
Baca Juga: Pemkot Batu Buka 400 Kuota Peserta Program Beasiswa 1.000 Sarjana di 2026
Heli juga memberikan instruksi keras kepada Dinas Lingkungan Hidup (DLH) dan Dinas PUPR (bidang Sumber Daya Air) untuk bekerja secara terpadu.
Ia menegaskan tidak boleh ada ego sektoral dalam menangani urusan lingkungan karena menyangkut hajat hidup masyarakat luas, bahkan berdampak hingga ke wilayah Malang Raya lainnya.
Selain akuisisi lahan, strategi lain yang diterapkan adalah penguatan sektor perhutanan sosial. Pemkot Batu melibatkan Kelompok Tani Hutan (KTH) untuk merevitalisasi kawasan sekitar mata air dengan tanaman yang memiliki fungsi ekologis tinggi namun tetap memberikan nilai ekonomi bagi warga.
“Tujuannya adalah keseimbangan. Alam terjaga karena air terserap dengan baik, namun masyarakat sekitar tetap bisa sejahtera lewat pemanfaatan hasil hutan non-kayu yang ramah lingkungan,” tambahnya.
Meski begitu, mengingat besarnya anggaran yang dibutuhkan untuk akuisisi lahan tersebut, Heli membuka peluang kerja sama anggaran (sharing budget) dengan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Hal ini dinilai rasional karena kelestarian air di Kota Batu merupakan aset vital yang menyangga stabilitas ekosistem di wilayah Jawa Timur secara lebih luas.
”Kami berharap masa depan ekosistem air di kota pegunungan ini dapat terjaga dari ancaman kekeringan di masa mendatang,” harapnya.
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News
Reporter : M Ulul Azmy
Editor: Herlianto. A
























