Oleh: Didit Saleh *
Tugumalang.id – Ada tempat-tempat di dunia yang tidak bisa dikunjungi dengan cara biasa. Hal ini bukan karena aksesnya sulit atau lokasinya terpencil, melainkan karena tempat itu membawa terlalu banyak sejarah di dalam dirinya dan ingatan kolektif manusia yang menempel di setiap permukaannya.
Sehingga siapa pun yang datang ke sana akan dibawa masuk ke dalam percakapan yang jauh lebih besar dari sekadar kunjungan biasa. East Side Gallery di Berlin adalah salah satu tempat semacam itu.
Ia adalah sisa Tembok Berlin yang paling panjang dan paling utuh yang masih berdiri hingga hari ini, sekitar satu koma tiga kilometer di sepanjang tepi Sungai Spree di kawasan Friedrichshain, Berlin.
Ia berdiri bukan sebagai monumen yang ingin dilupakan, melainkan sebagai pengingat yang sengaja dijaga agar tidak ada yang terlupa.
Ini adalah kunjungan kedua saya ke tempat ini. Kunjungan pertama pada 2024 untuk aktivitas konferensi dan riset. Perasaan waktu itu berbeda dari yang saya rasakan sekarang dengan cara yang sulit dijelaskan tapi sangat nyata. Kunjungan pertama membawa beban kejutan.
Baca Juga: Mazhab Frankfurt, Ketika Catatan Kaki Menjadi Nyata
Saya datang sebagai seseorang yang mengenal Tembok Berlin hanya dari buku dan dokumenter. Ketika benda itu berdiri nyata di depan saya, ada sesuatu yang terasa seperti turun dari halaman sejarah dan mengambil bentuk fisik yang bisa disentuh. Berat, diam, dan lebih nyata dari yang saya bayangkan.

Saya berdiri di depannya dengan perasaan yang campuran antara takjub dan sesuatu yang lebih dekat ke duka, meskipun saya tidak kehilangan siapapun di sana dan tidak punya kenangan pribadi yang terikat pada tembok itu.
Kunjungan kedua ini terasa berbeda. Lebih tenang, lebih terurai, seperti membaca ulang sebuah buku yang pernah kita baca dengan tergesa-gesa dan kali ini kita membacanya dengan lebih lambat dan lebih sadar.
Kali ini saya datang sebagai seseorang yang sudah beberapa waktu tinggal di Jerman, mulai memahami sedikit demi sedikit bagaimana negeri ini menyimpan sejarahnya, tidak dengan cara yang bising dan dramatis, melainkan dengan cara yang sunyi dan terus-menerus hadir di sudut-sudut kota yang paling biasa sekalipun. Sebuah plakat kecil di trotoar.
Sebuah nama jalan. Sebuah bangunan yang tiba-tiba berhenti di tengah-tengah blok karena dulu di sanalah tembok itu berdiri.
Untuk memahami mengapa tembok ini dibangun, kita perlu mundur sebentar ke konteks yang lebih besar, yaitu ke dunia yang lahir dari puing-puing Perang Dunia II.
Jerman Dibagi 4 Zona
Setelah Jerman kalah pada 1945, negeri ini dibagi menjadi empat zona pendudukan oleh empat kekuatan pemenang perang, Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Uni Soviet.
Zona Amerika di selatan, zona Inggris di barat laut, zona Prancis di barat daya, dan zona Soviet di timur. Berlin, meskipun terletak jauh di dalam wilayah yang dikuasai Soviet, juga dibagi menjadi empat sektor. Dalam beberapa tahun, perbedaan ideologis antara dua blok yang terbentuk semakin dalam.
Baca Juga: Berbicara di Kantor Rosa Luxemburg Stiftung
Jerman menjadi salah satu panggung utama dari apa yang kemudian disebut Perang Dingin. Ketika Perang Dingin semakin memanas, tiga zona Barat yaitu Amerika, Inggris, dan Prancis bergabung menjadi satu negara baru bernama Republik Federal Jerman atau Jerman Barat.
Lalu zona Soviet menjadi Republik Demokratik Jerman atau Jerman Timur. Ini adalah konflik yang tidak selalu ditandai oleh peluru tapi oleh ketegangan ideologis, perlombaan senjata, persaingan pengaruh, dan pada akhirnya sebuah tembok beton yang membelah sebuah kota menjadi dua.
Perang Dingin menempatkan dunia dalam pembagian yang tajam antara dua blok besar dengan sistem nilai dan sistem ekonomi yang berbeda. Di satu sisi blok Barat yang dipimpin Amerika Serikat, dan pada sisi lain blok Timur yang dipimpin Uni Soviet.
Keduanya mengklaim dirinya sebagai model yang lebih baik untuk masa depan manusia. Keduanya menjalankan pengaruhnya dengan cara yang tidak selalu bersih, baik melalui intervensi politik, dukungan terhadap rezim-rezim tertentu, maupun tekanan ekonomi terhadap negara-negara yang berada di orbit pengaruh masing-masing.
Negara-negara di belahan dunia lain termasuk Indonesia tidak bisa sepenuhnya lepas dari tarikan dua kutub ini dan harus menavigasi posisinya di antara keduanya dengan cara dan harga yang masing-masing berbeda.
Tembok Berlin dalam konteks ini bukan sekadar bangunan fisik di satu kota di Jerman, ia adalah simbol paling nyata dari sebuah era ketika dunia percaya bahwa manusia bisa dan harus dipisahkan berdasarkan sistem nilai yang mereka anut.
Jerman Timur secara resmi bernama Republik Demokratik Jerman menjalankan sistem sosialis di bawah pengaruh kuat Uni Soviet.
Sementara itu Jerman Barat “berkembang pesat” secara ekonomi dan menjadi salah satu ekonomi terkuat di Eropa. Perbedaan kondisi ini menciptakan arus perpindahan besar dengan utaan warga Jerman Timur memilih pergi ke Barat melalui Berlin yang saat itu masih bisa dilintasi.
Antara 1949 dan 1961 diperkirakan sekitar dua hingga tiga juta orang meninggalkan Jerman Timur. Bagi kepemimpinan Jerman Timur di bawah Walter Ulbricht dan dengan persetujuan Moskow di bawah Nikita Khrushchev, arus perpindahan ini dilihat sebagai ancaman serius terhadap keberlangsungan negara.
Maka pada malam 13 Agustus 1961, tentara Jerman Timur memasang kawat berduri sepanjang perbatasan antara Berlin Timur dan Berlin Barat dalam semalam. Ini adalah tindakan yang oleh pemerintah Jerman Timur diklaim sebagai langkah yang diperlukan untuk stabilitas, tapi yang oleh banyak warganya sendiri dirasakan sebagai penutupan pintu yang terakhir.
Dalam hitungan hari kawat itu diganti dengan beton, dan dalam hitungan tahun ia berkembang menjadi sistem pengamanan berlapis yang oleh pemerintah Jerman Timur diberi nama Antifaschistischer Schutzwall, Tembok Pelindung Anti-Fasis.
Pada kenyataannya tembok itu terdiri dari dua lapis beton dengan zona pengamanan ketat diantaranya yang disebut Todesstreifen, dilengkapi dengan kawat berduri, menara pengawas, lampu sorot, dan anjing penjaga.
Kebijakan yang dikenal sebagai Schießbefehl, perintah untuk menghentikan siapapun yang mencoba menyeberang dengan segala cara termasuk dengan senjata diterapkan oleh penjaga perbatasan.
28 Tahun Membelah Jerman
Selama 28 tahun tembok itu membelah sebuah kota yang dulunya satu, memisahkan keluarga, memotong jalanan, menutup jendela-jendela yang menghadap ke sisi yang lain, dan sejumlah catatan menyebutkan bahwa menewaskan sekitar seratus empat puluh orang yang mencoba menyeberanginya.
Meskipun sejumlah sejarawan memperkirakan angka yang sesungguhnya bisa jauh lebih tinggi dari itu.
Pada malam 9 November 1989, juru bicara pemerintah Jerman Timur, Günter Schabowski, mengumumkan dalam konferensi pers yang disiarkan langsung bahwa warga boleh melewati perbatasan kapan saja.
Ucapannya terekam kamera dan tidak ada yang bisa menghentikan apa yang terjadi sesudahnya. Orang-orang datang ke perbatasan, tentara yang berjaga tidak tahu harus berbuat apa, dan kemudian perbatasan dibuka.
Malam itu orang-orang memanjat tembok dengan tangan kosong, menghancurkannya dengan palu dan linggis sambil menangis dan tertawa dalam waktu yang sama.
Pada malam 9 November 1989 tembok itu runtuh. Sesuatu yang tidak ada seorang pun yang benar-benar memperkirakan terjadi secepat itu. Karena terjadi bukan karena serangan militer atau revolusi bersenjata, melainkan karena sebuah konferensi pers yang salah ucap.
Juru bicara pemerintah Jerman Timur, Günter Schabowski, mengumumkan bahwa warga boleh melewati perbatasan kapan saja. Ucapannya pada konferensi pers itu selanjutnya menggerakkan ribuan orang ke pos-pos perbatasan dalam hitungan jam. Tentara yang berjaga tidak tahu harus berbuat apa. Kerumunan semakin besar dan kemudian perbatasan dibuka.
Namun keruntuhan itu sesungguhnya bukan peristiwa yang tiba-tiba. Tembok itu sudah lama retak dari dalam dan digerus oleh protes-protes massal yang semakin tidak terbendung.
Arus warga mencari jalan keluar lewat negara-negara tetangga semakin besar. Pada saat yang sama Moskow tidak lagi bersedia menopang rezim-rezim di Eropa Timur seperti yang pernah dilakukannya di Praha pada 1968.
Saya berjalan pelan di sepanjang sisa tembok itu lebih pelan dari kebanyakan pengunjung yang melintas dengan langkah turis yang efisien. Mural-mural menutupi setiap sentimeter permukaannya.
Karya-Karya Seniman
Karya seniman dari berbagai penjuru dunia yang mulai melukis di sini sejak 1990, tahun pertama setelah reunifikasi. Warna-warna yang menjerit dan berbisik sekaligus, gambar-gambar yang merayakan kebebasan, memperingati mereka yang mati mencoba menyeberanginya, mengolok-olok kekuasaan yang pernah membangunnya, dan kadang sekadar berteriak tanpa kata-kata karena memang ada hal-hal yang tidak cukup diungkapkan dengan bahasa biasa.
Ada sesuatu yang tepat dalam pilihan untuk mengubah tembok ini menjadi kanvas, karena seni adalah kebalikan dari apa yang pernah dilakukan tembok ini. Tembok memisahkan serta membungkam, tapi seni menghubungkan dan berbicara.
Saya berhenti di sebuah celah pada tembok itu. Sebuah lubang yang terbuka di antara mural-mural yang ramai. Di balik lubang itu melalui bingkai yang penuh warna terlihat Sungai Spree mengalir tenang dengan pepohonan musim gugur yang mulai menguning di tepiannya dan langit abu-abu yang diam di atas segalanya.
Sesuatu yang sederhana tapi terasa sangat kuat. Tembok yang dulu berfungsi untuk menutup dan memisahkan, kini memiliki lubang yang justru memperlihatkan sesuatu yang hidup dan damai di baliknya. Saya berdiri di sana cukup lama dan membiarkan gambar itu bekerja di dalam kepala.
Di dekat sana berdiri beberapa tiang cermin setinggi manusia yang menjadi bagian dari instalasi peringatan. Tiang-tiang itu memantulkan segalanya sekaligus tembok di belakangnya dengan mural-mural warna-warni dengan angka 1990 yang tercetak di permukaannya.
Dalam satu bidang cermin yang sama, masa lalu dan masa kini hadir secara bersamaan tanpa bisa dipisahkan. Saya berdiri di depan salah satu tiang itu dan melihat pantulan diri saya sendiri bercampur dengan semua itu.
Seseorang dari Indonesia yang berdiri di antara reruntuhan Perang Dingin, di kota yang sedang terus membangun dirinya di atas luka yang “mungkin belum sepenuhnya sembuh”, dan di antara pengunjung dari berbagai penjuru dunia yang masing-masing membawa konteksnya sendiri ke tempat yang sama.
Kemudian saya berjalan ke tepi Sungai Spree dan berdiri di sana sebentar dan memandang air yang mengalir tenang. Sungai ini tidak pernah peduli dengan tembok yang pernah berdiri di tepinya.
Ia tetap mengalir ke arah yang sama sebelum dan sesudah 1989, membawa airnya melewati Berlin yang terbelah dan Berlin yang bersatu dengan cara yang persis sama.
Ada sesuatu yang menenangkan dan sekaligus menggelisahkan dalam ketenangannya itu bahwa alam tidak mencatat batas-batas yang kita buat. Sungai tidak mengenal Timur dan Barat dan pohon-pohon di tepiannya tidak tahu bahwa mereka pernah berdiri di sisi yang “benar atau salah” dari sejarah.
Ada pertanyaan yang selalu mengikuti setiap kunjungan ke tempat-tempat semacam ini, yaitu apa yang sesungguhnya kita rayakan ketika merayakan runtuhnya sebuah tembok.
Tentu saja kebebasan, dan itu bukan hal yang kecil. Tapi ada juga pertanyaan yang lebih tidak nyaman tentang tembok-tembok lain yang masih berdiri di berbagai belahan dunia yang tidak selalu terbuat dari beton dan kawat berduri dan kadang tidak terlihat sama sekali tapi sama nyatanya dalam memisahkan manusia dari manusia lain.
Tembok-tembok baru itu kadang membatasi siapa yang boleh bergerak bebas dan siapa yang tidak dalam menentukan di mana seseorang boleh hidup dan di mana ia tidak diinginkan.
Kunjungan pertama saya ke Tembok Berlin membuat saya merasa kecil di depan sejarah. Kunjungan kedua ini membuat saya merasakan sesuatu yang berbeda bukan karena lebih besar tetapi lebih terhubung.
Seolah sejarah itu bukan sesuatu yang jauh dan selesai melainkan sesuatu yang masih hidup dan masih bergerak termasuk di dalam diri setiap orang yang berdiri di depannya dan bertanya apa artinya semua ini bagi cara kita hidup hari ini.
Tembok Berlin mengajarkan bahwa sejarah tidak pernah benar-benar selesai hanya karena temboknya sudah runtuh. Sesuatu yang selesai hanya satu babaknya.
Babak-babak berikutnya terus ditulis di tempat-tempat yang mungkin jauh dari Berlin tapi tidak pernah benar-benar terlepas dari bayang-bayang tembok yang pernah berdiri di sini.
*Penulis adalah alumni Unisma Malang dan sedang studi di Universität Kassel, Jerman
Editor: Herlianto. A
Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News


























