Jumat, Juli 17, 2026
Tugumalang.id
No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
  • Home
  • Tugu SehatNEW
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial
No Result
View All Result
Tugu Malang ID
No Result
View All Result
Home Catatan

Mazhab Frankfurt, Ketika Catatan Kaki Menjadi Nyata

Redaksi by Redaksi
April 2, 2026 7:53 pm
in Catatan
Didit Saleh saat berada di gedung Institut für Sozialforschung di Frankfurt. Foto/dok. Didit Saleh

Didit Saleh saat berada di gedung Institut für Sozialforschung di Frankfurt. Foto/dok. Didit Saleh

Share WhatsappShare FacebookShare Twitter

Oleh: Didit Saleh*

Tugumalang.id – Ada jenis perjalanan yang tidak bisa sepenuhnya dijelaskan oleh logika wisata biasa. Bukan soal tiket pesawat, bukan soal hotel dengan rating bintang tertentu, bukan pula soal itinerary yang tersusun rapi di dalam aplikasi ponsel.

READ ALSO

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a

Buku Pelanggaran

Perjalanan semacam itu lahir dari sesuatu yang lebih tua dan lebih dalam, sebuah dorongan yang mungkin paling tepat disebut sebagai kerinduan
intelektual, atau dalam bahasa yang lebih lembut, sebuah ziarah.

Kita pergi bukan untuk melihat sesuatu yang baru, tetapi untuk bertemu dengan sesuatu yang telah lama kita kenal. Hanya saja selama ini ia hidup di dalam halaman-halaman buku, dalam kutipan-kutipan yang kita catat di buku tulis, dan di dalam diskusi-diskusi larut malam.

Kunjungan saya ke Institut für Sozialforschung di Frankfurt adalah perjalanan semacam itu. Saya datang ke Jerman bukan sebagai pelancong. Saya datang untuk belajar, untuk menjalani kehidupan sebagai mahasiswa di
negeri yang udaranya berbeda, yang ritme hariannya berbeda, yang bahkan cara orang-orangnya berdiam diri pun terasa berbeda dari yang saya kenal di tanah air.

Baca Juga: 7 Rekomendasi Buku Filsafat Ringan untuk Pemula, Bikin Paham Tanpa Pusing!

Minggu-minggu pertama saya habiskan di Kassel, tinggal di asrama, berusaha menyesuaikan diri dengan segala sesuatu yang baru. Sistem transportasi yang tepat waktu hingga ke menit, suhu yang belum ramah di kulit, bahasa yang masih sering membuat saya berhenti dan berpikir di tengah-tengah kalimat.

Kota-kota di Jerman memiliki cara tersendiri untuk menyapa pendatang, dingin pada pertemuan pertama, tapi perlahan membuka diri, seperti buku teks yang susah di awal namun kaya di dalamnya.

Salah satu gedung Institut für Sozialforschung di Frankfurt. Foto/dok. Didit Saleh
Salah satu gedung Institut für Sozialforschung di Frankfurt. Foto/dok. Didit Saleh

Genap dua bulan saya di Jerman, dan ada urusan dokumen yang membawa saya ke Frankfurt, ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Frankfurt. Hal-hal administratif yang tidak bisa ditunda, yang mengikat seseorang pada kewajiban birokrasi sekalipun ia sedang berada jauh dari tanah air.

Tapi setelah urusan konsulat selesai, setelah formulir dan tanda tangan dan antrean yang menguras sabar, saya tidak langsung bergegas kembali ke Kassel.

Napak Tilas, Bukan Wisata

Ada satu tempat yang sudah lama saya tandai dalam peta batin saya sendiri, tempat yang secara geografis mungkin hanya beberapa kilometer dari gedung konsulat, tapi secara simbolis terasa seperti perjalanan puluhan tahun ke belakang, menembus waktu, menembus teks, menembus kenangan
kuliah yang sudah mengendap di lapisan terdalam ingatan.

Ini adalah penelusuran jejak. Bukan wisata, melainkan semacam napak tilas yang baru bisa dilakukan setelah seseorang benar-benar menginjakkan kaki di tanah yang sama.

Di Indonesia, Institut für Sozialforschung dikenal dengan sebuah nama yang terdengar lebih akrab di telinga aktivis dan mahasiswa ilmu sosial, yaitu Mazhab Frankfurt, atau dalam lidah yang sudah terbiasa meminjam istilah asing, Frankfurt School. Nama itu memiliki daya magis tersendiri.

Ia muncul dalam diskusi-diskusi di teras kantin kampus, dalam daftar bacaan yang ditempel dosen di papan pengumuman, dalam footnote skripsi, tesis, bahkan disertasi ambisius yang ingin terlihat canggih secara teori.

Bagi banyak aktivis dan pelajar kritis di Indonesia, menyebut nama Frankfurt School adalah semacam pengakuan, bahwa seseorang tidak hanya membaca di permukaan, bahwa ia sudah menyelam cukup dalam ke dalam tradisi pemikiran yang tidak  mudah dan tidak sederhana.

Saya sendiri sudah lama akrab dengan tokoh-tokoh besarnya. Dari Max Horkheimer, sang pendiri dan arsitek utama lembaga ini, hingga Theodor W. Adorno yang penanya setajam pisau bedah, merobek habis budaya pop, industri hiburan, dan apa yang mereka sebut sebagai Kulturindustrie yang meninabobokan kesadaran publik.

Lalu Herbert Marcuse, yang di era 1960-an menjadi semacam “nabi” bagi gerakan mahasiswa dan kaum kiri baru di Amerika dan Eropa, dengan tesisnya tentang masyarakat satu dimensi (one dimensional man) yang terjebak dalam konsumsi tanpa refleksi.

Baca Juga: 5 Buku Filsafat Populer yang Cocok untuk Pemula

Dan tentu saja Jürgen Habermas, penerus generasi kedua yang memperkenalkan konsep ruang publik dan tindakan komunikatif, sebuah upaya besar untuk merawat proyek modernitas yang ia anggap belum selesai, bukan dengan meninggalkannya seperti yang dilakukan kaum postmodernis, melainkan dengan menyempurnakannya dari dalam.

Papan pengumuman di Institut für Sozialforschung di Frankfurt. Foto/dok. Didit Saleh
Papan pengumuman di Institut für Sozialforschung di Frankfurt. Foto/dok. Didit Saleh

Saya berkenalan dengan mereka semua lewat cara yang mungkin khas bagi aktivis dan mahasiswa di Indonesia, terlambat tapi kemudian obsesif.

Satu hari saya sedang mencoba membaca karya Marx, Das Kapital, dan Manifesto Komunis yang ditulis bersama Friedrich Engels., naskah-naskah ekonomi dan filosofisnya yang padat dan keras seperti batu granit, lalu di hari berikutnya seorang dosen atau kawan yang lebih banyak membaca melempar nama Horkheimer. “Kamu sudah baca Dialektik der Aufklärung?” Belum. “Baca. Itu penting.”

Dan dari sana, semuanya seperti membuka pintu yang ternyata dibaliknya ada ruangan lain, dan di balik ruangan itu ada koridor yang lebih panjang dan lebih menarik. Horkheimer adalah sosok yang pertama kali saya dekati dengan serius. Dalam esai-esainya, ia membedakan dengan tajam antara teori tradisional dan teori kritis.

Teori tradisional bekerja untuk mempertahankan tatanan yang ada, mengabdikan dirinya pada efisiensi sistem, pada pengukuran, pada prediksi, tanpa pernah mempertanyakan dari mana sistem itu berasal dan siapa yang diuntungkan olehnya.

Teori kritis, sebaliknya, menolak menjadi pelayan kenyataan. Ia bertanya mengapa dunia harus seperti ini, kepentingan siapa yang dilindungi oleh cara-cara berpikir yang dianggap normal, di mana akar dari ketidakadilan yang kita anggap wajar.

Bagi saya, dan saya yakin bagi banyak mahasiswa yang membacanya di Indonesia, di tengah-tengah konteks politik dan sosial yang tidak pernah benar-benar damai, pertanyaan-pertanyaan itu tidak terasa seperti pertanyaan akademis semata. Ia terasa seperti api kecil yang dinyalakan di dalam kepala.

Adorno datang dengan cara yang lebih menyiksa dan lebih memesona sekaligus. Tulisannya padat dan berlapis, seringkali terasa seperti labirin yang sengaja dibangun untuk melelahkan pembaca yang tidak cukup tekun. Tapi jika kita sabar, ada hadiah yang menunggu di setiap tikungannya.

Bersama Horkheimer, ia menulis Dialektik der Aufklärung, sebuah buku yang
mengajukan tesis mengejutkan bahwa pencerahan atau Aufklärung, proyek besar modernitas yang seharusnya membebaskan manusia dari mitos dan ketakhayulan, justru telah berputar balik menjadi bentuk penindasan baru.

Akal budi yang seharusnya memerdekakan, ketika diletakkan sepenuhnya dalam pelayanan efisiensi dan kendali, berubah menjadi instrumen
dominasi.

Dan Kultur industrie, industri kebudayaan yang memproduksi film, musik, dan hiburan massal, adalah mesin ideologis yang paling canggih dari dominasi itu. Ia tidak memaksa kita dengan senjata, ia membuat kita lupa bahwa kita sedang dikendalikan, bahkan membuat kita menikmatinya.

Marcuse datang lebih politis dan lebih terasa getarannya di jalanan. One-Dimensional Man adalah salah satu teks paling berpengaruh dalam gelombang radikalisme 1960-an, sebuah argumen bahwa masyarakat industrial maju telah mengembangkan kemampuan menakjubkan untuk menyerap dan menetralisir segala bentuk perlawanan.

Protes dikomersialkan. Kritik diubah menjadi komoditas. Tidak mengherankan jika Marcuse menjadi semacam santo pelindung intelektual bagi gerakan mahasiswa 1968 di Paris, Berlin, dan Berkeley.

Saya mengenal pemikiran Marcuse secara lebih dalam melalui jalur yang mungkin tidak lazim, bukan dari ruang kuliah kampus melainkan dari seorang Romo di Malang, Pastor Valentinus, yang memperkenalkan Marcuse kepada saya dalam sebuah sekolah pemikiran yang digelar oleh Komunitas Kalimetro.

Romo Valentinus bukan sekadar memperkenalkan, ia menuliskan sendiri
sebuah buku tentang Marcuse dengan judul yang saya rasa langsung menangkap inti dari keseluruhan proyek pemikiran itu, Perang Semesta untuk Melawan Kapitalisme Global.

Ada sesuatu yang terasa tepat dalam pertemuan itu, bahwa Marcuse yang dikenal sebagai pemikir perlawanan justru sampai ke saya bukan melalui institusi akademis yang formal, melainkan melalui sebuah komunitas kecil di Malang, melalui seorang Romo yang “percaya” bahwa pemikiran kritis bukan hak eksklusif menara gading dan bahwa pertanyaan-pertanyaan besar tentang kapitalisme dan kebebasan manusia layak diperdebatkan di mana saja, termasuk di ruang-ruang yang hangat dan tidak terlalu resmi seperti Kalimetro.

Dan Habermas menutup lingkaran itu dengan cara yang berbeda, lebih optimis tapi tidak naif. Jika Horkheimer dan Adorno berakhir pada semacam “kegelapan filosofis”, Habermas datang dengan proyek yang masih percaya pada potensi emansipatoris yang tersimpan di dalam tindakan komunikasi manusia, dalam percakapan, dalam dialog, dalam proses mencapai
kesepahaman bersama.

Konsepnya tentang ruang publik membuka cakrawala baru bagi
pemikiran tentang demokrasi dan masyarakat sipil yang tidak sekadar menjadi alat legitimasi kekuasaan.

Saya mempelajari pemikiran Habermas ini bukan sendirian dan bukan melalui teks-teks aslinya yang tebal dan berat, melainkan melalui sebuah cara yang terasa lebih organik dan lebih menyenangkan, yaitu dalam sebuah lingkaran kecil diskusi di Komunitas Kalimetro di Malang, dimana kami membaca bab per bab secara bersama-sama, mendiskusikan setiap bagian sebelum melangkah ke bagian berikutnya.

Pintu masuk kami ke Habermas adalah karya-karya F. Budi Hardiman, filsuf Indonesia yang paling serius dan paling tekun menerjemahkan sekaligus memikirkan ulang relevansi Habermas untuk konteks Indonesia.

Lewat buku-bukunya tentang demokrasi deliberatif, ruang publik, dan kritik ideologi dalam perspektif Habermas, Budi Hardiman tidak sekadar memindahkan gagasan dari satu bahasa ke bahasa lain, ia memikirkan apa artinya semua itu ketika diletakkan di atas tanah Indonesia, di tengah demokrasi yang masih terus mencari bentuknya dan ruang publik
yang tidak selalu bebas dari tekanan kekuasaan.

Membaca Habermas dengan cara seperti itu, bersama orang-orang yang duduk melingkar di sebuah komunitas kecil di Malang, membuat gagasan-gagasan yang semula terasa sangat Eropa dan sangat abstrak itu perlahan menemukan denyutnya yang lebih dekat dan lebih terasa.

Ketika saya menulis catatan perjalanan ini, ada kabar duka yang masih segar, bahwa Habermas meninggal dunia pada 14 Maret 2026 di Starnberg, dekat Munich, dalam usia 96 tahun.

Ia pergi sebagai salah satu pemikir terakhir dari generasi besar yang membangun tradisi teori kritis Mazhab Frankfurt, dan kepergiannya terasa seperti penutupan sebuah babak yang panjang, meskipun gagasan-gagasannya tentang ruang publik yang rasional dan demokrasi yang tidak pernah selesai justru terasa semakin mendesak di dunia yang kita tinggali sekarang.

Semua itu saya bawa di dalam kepala ketika berjalan menuju Senckenberganlage. Selama ini, tanpa saya sadari, saya menyimpan sebuah bayangan tentang seperti apa gedung itu. Bayangan yang terbentuk bukan dari foto atau informasi yang pernah saya cari, melainkan dari bobot nama dan pengaruhnya yang begitu besar.

Saya membayangkan sesuatu yang megah, sesuatu yang monumental, sebuah bangunan yang ukurannya sebanding dengan beratnya gagasan yang pernah lahir di dalamnya. Mungkin seperti gedung parlemen, atau setidaknya seperti perpustakaan besar universitas tua di Eropa yang sering
muncul di foto-foto hitam putih.

Saya membayangkan lorong-lorong panjang, pintu-pintu besar dari kayu gelap, tangga marmer yang menggema ketika diinjak. Yang saya temukan adalah sebuah gedung yang, jika saya jujur, terasa biasa saja ukurannya.
Tidak kecil, tapi jauh dari megah.

Di Gedung yang Melahirkan Raksasa Pemikir

Bangunan yang sederhana dalam penampilannya, dengan pintu masuk yang tidak akan membuat siapa pun berhenti melangkah jika tidak tahu apa yang tersimpan di balik namanya.

Tulisan Institut für Sozialforschung tertera di atas pintu kaca dengan huruf-huruf yang bersih dan tidak berlebihan, seolah tempat ini tidak merasa perlu untuk tampil lebih dari apa adanya. Dan justru di sanalah saya tertegun paling lama.

Ada semacam pelajaran yang tidak tertulis dalam buku mana pun yang terasa sangat nyata di momen itu. Bahwa pengaruh tidak selalu datang dari yang besar dan megah. Bahwa gagasan yang benar-benar kuat tidak butuh istana untuk tinggal di dalamnya.

Dari gedung yang sederhana ini, dari ruang-ruang kerja yang mungkin tidak terlalu berbeda dari kantor-kantor akademis biasa, lahir pemikiran yang kemudian menempuh perjalanan jauh melampaui tembok-temboknya.

Ia masuk ke dalam ruang-ruang kelas di berbagai penjuru dunia, ke dalam
buku-buku teks yang dibaca mahasiswa di kampus-kampus yang jauh dari Frankfurt, ke dalam diskusi-diskusi di kantor organisasi mahasiswa, di komunitas-komunitas kecil, di tempat-tempat nongkrong para aktivis yang bergulat dengan pertanyaan tentang keadilan dan kekuasaan.

Gagasan dari gedung kecil ini sampai ke Indonesia, sampai ke ruang-ruang sempit yang penuh asap rokok, kopi, dan tumpukan buku fotokopi. Saya berdiri di depannya cukup lama.

Ada sesuatu yang campuran dalam dada, antara kekhidmatan dan kegembiraan yang tenang, antara rasa kecil dan rasa syukur, antara kesadaran betapa jauhnya jarak antara membaca sebuah ide dan berdiri di tempat di mana ide itu pernah dilahirkan dan diperdebatkan.

Saya memikirkan semua kelas yang pernah saya ikuti, semua diskusi panjang yang seringkali tidak berakhir pada kesimpulan tapi selalu berakhir pada rasa lapar.

Saya mengambil beberapa foto untuk kenangan, lalu berdiri lagi, dan membiarkan momen itu bekerja dengan caranya sendiri. Cerita tentang gedung itu belum selesai ketika saya meninggalkannya.

Beberapa waktu setelah kunjungan ke Frankfurt, ketika saya sudah kembali ke Kassel dan mulai lebih dalam mengenal kehidupan akademis di sana, salah seorang profesor saya bercerita sesuatu di meja makan yang membuat saya tertegun. Ia menyebut bahwa ia pernah bekerja di Institut für Sozialforschung.

Bukan sekadar berkunjung, melainkan bekerja, sungguh-sungguh terlibat di dalamnya untuk beberapa waktu. Saya mendengarkannya dengan perasaan yang aneh, seperti seseorang yang baru saja pulang dari suatu tempat, lalu tiba-tiba menyadari bahwa orang yang sedang berbicara di depannya pernah hidup di dalam tempat itu.

Yang paling membekas dari ceritanya bukan soal perdebatan intelektual atau seminar-seminar besar. Yang paling membekas adalah sebuah detail kecil yang justru terasa sangat hidup, yaitu soal kunci kantor.

Profesor saya bercerita bahwa di Institut für Sozialforschung, siapa pun yang
dipercaya memegang kunci kantor, entah itu peneliti, asisten, atau pemagang sekalipun, wajib menandatangani sebuah dokumen resmi sebagai bukti bahwa ia adalah pemegang kunci itu.

Bukan sekadar formalitas administrasi biasa. Dokumen itu adalah semacam catatan sejarah yang terus bersambung, sebuah buku tanda tangan yang disimpan sejak lembaga ini pertama kali berdiri, yang di halaman-halaman awalnya terdapat nama-nama yang kini hanya kita temui di sampul buku, Adorno dan Horkheimer.

Para pemikir besar lainnya yang pernah mengisi lorong-lorong gedung itu dengan gagasan-gagasan yang mengubah cara dunia berpikir. Dan nama profesor saya ada di sana, di antara nama-nama itu.

Saya membayangkan buku itu, tebal, mungkin sudah agak kuning di tepinya, disimpan dengan hati-hati di suatu laci atau lemari di dalam gedung yang baru beberapa pekan lalu saya tatap dari luar.

Sebuah artefak paling sederhana sekaligus paling manusiawi, yaitu tanda tangan. Bukan naskah filosofis, bukan risalah seminar, hanya tanda tangan. Tapi disinilah letak keajaiban kecilnya.

Dalam satu buku yang sama, tangan Adorno pernah menekan pena, tangan Horkheimer pernah menorehkan namanya, dan bertahun-tahun kemudian, tangan profesor saya ikut menambahkan namanya di sana, melanjutkan rantai yang tidak pernah putus.

Saya menyesal tidak tahu cerita ini sebelum berkunjung. Tapi mungkin justru urutan ini yang membuat segalanya terasa lebih utuh. Saya mengunjungi gedung itu dengan bekal bacaan dan ingatan kuliah, lalu belakangan mengetahui bahwa ada benang yang jauh lebih dekat dan lebih personal yang menghubungkan saya ke tempat tersebut, melalui seseorang yang kini mengajar saya di Kassel.

Sejarah kadang tidak datang dalam bentuk yang monumental. Ia datang dalam bentuk seperti ini, dalam sebuah buku tanda tangan pemegang kunci yang diam-diam menyimpan kontinuitas dari satu generasi ke generasi berikutnya, dari nama-nama yang sudah tercetak dalam buku teks ke nama-nama yang masih sedang menuliskan perjalanan mereka sendiri.

Frankfurt School mungkin sudah tidak lagi berada “di puncak arus utama teori sosial kontemporer”. Banyak yang telah terjadi sejak Horkheimer mendirikan lembaga ini pada 1923, begitu banyak gelombang teori yang datang dan pergi, begitu banyak paradigma yang bangkit dan runtuh.

Tapi ada sesuatu yang tetap relevan dalam warisan mereka, yaitu keberanian untuk bertanya mengapa, keberanian untuk tidak menerima kenyataan sebagai sesuatu yang given dan taken for granted, keberanian untuk percaya bahwa berpikir dengan sungguh-sungguh dan tidak terburu-buru adalah sebuah tindakan yang bermakna, bahkan politis.

Mungkin itulah yang paling ingin saya bawa dari kunjungan singkat ini. Bukan sekadar foto di depan gedung tua, bukan sekadar cerita bahwa saya pernah ke sana.

Melainkan sesuatu yang lebih seperti pembaruan janji, bahwa pertanyaan-pertanyaan besar itu layak untuk terus dibawa, sejauh apapun studi ini membawa saya melangkah, di kota-kota Eropa yang masih
belum sepenuhnya saya kenal.

 

*Penulis adalah alumni Unisma dan kini mahasiswa doktoral Ekonomi Politik Perburuhan di Universität Kassel, Jerman

Editor: Herlianto. A

Baca Juga Berita Tugumalang.id di Google News

Tags: JermanMazhab FrankfurtPemikir JermanTeori Kritis

Related Posts

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a
Catatan

Kiai Bad dan Visualisasi Do’a

Senin, 13 Jul 2026
Buku Pelanggaran
Catatan

Buku Pelanggaran

Minggu, 12 Jul 2026
Cologne,  Katedral, dan Masjid 
Catatan

Cologne, Katedral dan Masjid 

Kamis, 9 Jul 2026
Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik
Catatan

Menakar Ulang Menara Gading: Ketika Gelar Akademik Dosen Menjauh dari Realitas Publik

Kamis, 9 Jul 2026
Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan
Catatan

Cristiano Ronaldo dan Seperti Apa Sebaiknya Kita Memandang Sebuah Kehidupan

Rabu, 8 Jul 2026
Kota Malang dan El Nino
Catatan

Kota Malang dan El Nino

Rabu, 8 Jul 2026
Next Post
Universitas Negeri Malang (UM) bersama MCUT Taiwan hadirkan program Fast Track dengan memberikan kesempatan menempuh studi di dua negara. /Foto: Dok. UM.

Hadirkan Program Fast Track ke Taiwan, Universitas Negeri Malang Buka Kesempatan Belajar di Dua Negara

BERITA POPULER

  • 6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    6 Tempat Makan Murah di Malang, Menu Mulai Rp4 Ribu hingga Rp10 Ribuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Karnaval Desa Urek-Urek Raup Rp214 Juta, Seluruhnya untuk Santunan 19 Anak Yatim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Begini Pembagian Fungsi Terminal Arjosari, Hamid Rusdi, dan Landungsari

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Sengketa Kepemilikan Sardo Swalayan Malang Memanas, Tatik Menangkan Praperadilan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 7 Destinasi Wisata Rohani di Malang, Dari Masjid Tiban hingga Desa Wisata Peniwen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Advtm 06302026 1
Adv02262026
02 Iklan Gerakan Arek Jatim A

Portal berita Tugu Malang (tugumalang.id) merupakan perusahaan media siber di bawah naungan PT Tugu Media Komunikasindo

LOGO TUGU MALANG RED 2021

Ikuti Kami

Navigasi Site

  • Kode Etik
  • Redaksi
  • Disclaimer
  • Kebijakan Data Pribadi
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Form Pengaduan
  • Pedoman Media Siber

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.

Jaringan Media 

Tugumalang.id 

Tugujatim.id 

Tugusehat.id

No Result
View All Result
  • Home
  • Tugu Sehat
  • Peristiwa
  • Pendidikan
  • Bisnis & Properti
  • Insight
  • Pariwisata
  • Politik
  • Olahraga
  • Hukum & Kriminal
  • Advertorial

© 2021 Tugu Media Group - All Right Reserved Tugu Malang ID.